Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Manusia Yang Mau Hadir Bagi Sesamanya

Dalam kata ‘persaudaraan’ terkandung makna menjadi manusia yang mau hadir bagi sesamanya. Pribadi yang peduli satu sama lain. Pribadi yang ingin melayani dan mendukung satu sama lain. Persaudaraan tidak hanya sekedar menjadi komunitas yang penuh kasih dalam lingkaran Anda saja. Kita juga dapat merasakan menjadi saudara bagi orang yang tidak kita kenal, dan mengungkapkan solidaritas kita terhadap mereka. Kesadaran akan persaudaraan kemudian menjadi lebih luas dan lebih dimengerti, yakni mau bertumbuh menuju persaudaraan yang universal dan seluas dunia. ‘Semua orang adalah saudara kita’, seperti kata sebuah lagu tua yang terkenal. Persaudaraan yang ideal sungguh menantang dan penuh konsekuensi. Menjadi saudara berarti: menghormati satu sama lain dan menyadari bahwa kita semua sejajar. Persaudaraan yang ideal juga berarti bahwa ada harapan untuk masyarakat yang damai dan jujur. Persaudaraan yang ideal tidak hanya memiliki sisi politis namun juga dimensi religius. Terinspirasi oleh k...

Cukupilah Kebutuhan Kami 🙇🙏

Dalam menjalani hidup, setiap orang pasti pernah merasakan pasang surut dalam karier maupun rezeki yang diperoleh. Ketika tengah berada dalam kondisi terpuruk, pasti siapapun akan merasa putus asa meski telah berupaya dan bekerja keras demi rezeki bertambah. Dalam kondisi seperti ini, tentu seseorang akan merasa kesusahan. Belum lagi dihadapkan pada banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi. Tak hanya itu, rezeki yang sedikit terkadang membuat orang berpikir berulang kali untuk beramal. Mereka lebih memprioritaskan kebutuhan sendiri sebelum bersedekah yang mengandung banyak keutamaan. Saat kita berada di kondisi ini, sangat baik jika berdoa untuk memohon kepada Tuhan agar rezeki dilancarkan. Baiknya kita tidak melupakan Tuhan yang menguasai nasib kita di dunia. Dia-lah yang memberi ujian berupa kesempitan. Dan Dia pula yang dapat dengan mudah melapangkannya kembali. Oleh karenanya, tidak sepantasnya, orang beriman hanya bertumpu pada usahanya dan lupa kepada Tuhannya. Usaha mema...

Berdaya guna Bagi Sesama

Ada berbagai macam orang di sekitar kita. Tidak sedikit dari mereka yang ahli ibadah, ilmu dan pemahaman agamanya memadai, cerdas, memiliki skill bagus dan potensi-potensi lain yang cukup signifikan. Keberadaan mereka adalah modal utama bagi suatu lingkungan/wilayah di jaman ini ataupun kelak. SDM semacam ini adalah aset yang bila diberdaya gunakan tentu akan sangat membantu proses perkembangan lingkungan/wilayah dan mengangkat derajat warga di hadapan warga lingkungan/wilayah lainnya. Sebaiknya memang, yang berdayaguna membantu yang kurang/tidak berdayaguna dan yang tidak/kurang berdayaguna belajar dan berusaha untuk memberdayagunakan dirinya, tidak malas, enggan dan lain-lain alasan, sebab jika terjadi yang demikian, ini akan menjadi salah satu sebab keterlambatan percepatan pembangunan. Kita harus berada pada tempat yang semestinya dengan tanggung jawabnya. Di lingkup paling kecil yaitu keluarga misalnya, bagi yang hidup berkeluarga dan menjadi orang tua, berusaha menjadi orang ...

Jalannya Tak Mudah

Pernah mengalami tiba-tiba harus mengakhiri sesuatu yang sudah mati-matian kita perjuangkan? Sakit hingga dada terasa sesak bagai tak ada ruang bernapas. Bahkan, menangis mungkin hanya me-release sedikit rasa sakit dan emosi-emosi negative yang terasa memenuhi sudut-sudut ruang rasa.  Bisa menjadi manusia egois mungkin enak ya? 🙄 Tak harus mempedulikan sekitar atau risiko yang akan ditimbulkan, berdampak pada orang lain atau tidak.  Kalau bisa, saya pun ingin tak peduli dengan orang lain. Melakukan apa pun sekehendak saya, memaksakan apa pun, melarang ini itu. Jika dibolehkan saya mau jadi manusia paling egois.  Tapi sebentuk hati dalam diri saya tak pernah membiarkan saya berbuat demikian. Saya masih mempunyai sedikit iman, meskipun itu tak sampai sebesar biji sesawi, setidaknya mampu meredam gejolak ego primitif.  Memang tiap-tiap orang mempunyai hasrat menjadi orang penting. Orang yang tidak memiliki dorongan ke arah itu juga sulit menemuk...

Keceriaan Saat Bermain Tanpa Gagdet

Kami empat bersaudara. Tidak anti pada tekhnologi.  Tapi, waktu kecil kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sebelum ibu kami pensiun dini karena sakit, orangtua kami keduanya adalah kepala sekolah. Keluarga kami tinggal di salah satu kota kecil di Kabupaten Probolinggo. Keadaan waktu itu sudah ada tekhnologi seperti TV tapi belum ada iPad, jadi membuat kami lebih banyak menghabiskan waktu bermain di luar. Kami bebas memanjat, bermain dengan hewan dan jalan dengan telanjang kaki. Kami empat bersaudara mengikuti pendidikan pada umumnya, enam tahun di SD Katolik, 3 tahun di SMP negeri Favorit dan 3 tahun di SMA Negeri Favorit, setelah itu merantau untuk melanjutkan pendidikan karena di tempat kami tidak ada Perguruan Tinggi 😊. Belum usum gagdet, jadi kami tidak merasa kehilangan sesuatu karena tidak memiliki gagdet 😃, lagi pula kami dan anak-anak jaman itu menemukan akses untuk mengeksplor lingkungan sekitar.  Waktu kami ma...