Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Dari Malam (Yang Menurutku) Luar Biasa

Menjelang pukul 15.00 WIB, saya mendengar pengumuman dari speaker masjid komplek bahwa ada seorang ibu yang meninggal dunia. Saat itu suami baru datang dan bermaksud untu 'leyeh-leyeh' sejenak. Begitu mendengar pengumuman itu, suami langsung beranjak dan bersiap ke rumah duka yang meskipun berbeda RT kebetulan berada dua blok di belakang kami. Selang berapa saat, suami berkirim message agar sebaiknya kami para ibu jangan dulu melayat atau ta'siyah karena kondisi jenasah yang sudah bau dikarenakan baru diketemukan setelah beberapa hari meninggal. Di khawatirkan bahwa ibu-ibu tidak dapat menahan bau dan mual atau muntah karenanya. Sebagai ibu RT yang kekinian (hehehe) aku meng-share kondisi tersebut di grup ibu-ibu, supaya yang memang tidak tahan dengan keadaan tersebut bisa menunda sampai jenasah diberangkatkan tetapi itu semua tetap terserah masing-masing. Tak ada kabar dari suami sampai akhirnya menjelang maghrib suami datang. Dia bercerita bahwa jenasah belum diapa-apak...

Bagai Sudara Ketika Membutuhkan

Beberapa hari lalu suami mendapat sms beruntun dari saudara-saudaranya yang berasal dari tempat kelahiran ayahnya, Wonogiri dan juga dari Solo. Isi dari sms tersebut berkeluh kesah dan diakhiri dengan pinjam uang. Yang satu sejumlah Rp. 3.000.000,- yang satu Rp. 500.000,-. Ada sesak di hati kami, bahkan meskipun kami bisa memberi pinjaman itu. Mengapa? Bagaimana tidak, mereka mengingat kami hanya ketika mereka membutuhkan kami. "Sinyal" komunikasi mereka yang "terganggu" jika situasi tenang bisa dengan cepat terhubung ketika membutuhkan bantuan. Hal tersebut sering kami alami, bukan hanya pada saudara-saudara jauh suami, tetapi juga pada saudara kandung suami, hanya tersambung ketika mereka membutuhkan bantuan suami. Suatu hari, ketika kami bertemu Maria, kakak kandung suami, saya bercerita bahwa suami -adik kandungnya, baru sembuh dari sakit. Panas karena radang tenggorokan. Jawabnya "Ooo... pantesan hatiku kok ga enak..., ternyata Kris sakit to?". Sa...

Bersabar

Jadi, bagaimana Anda bisa belajar untuk lebih sabar? Perhatikan saran-saran berikut. Kenali penyebabnya: Hal atau situasi yang membuat Anda tidak sabar disebut pemicu ketidaksabaran. Apa yang memicu ketidaksabaran Anda? Adakah orang-orang tertentu yang membuat Anda tidak sabar? Barangkali, pasangan, orang tua, atau anak-anak Anda-lah yang menjadi pemicu utama ketidaksabaran Anda. Atau, apakah pemicunya biasanya berkaitan dengan waktu? Misalnya, apakah Anda sering kehilangan kesabaran sewaktu harus menunggu orang lain atau nyaris terlambat? Apakah Anda kehilangan kesabaran ketika Anda lelah, lapar, mengantuk, atau di bawah tekanan? Di mana Anda lebih sering kehilangan kesabaran, di rumah atau di kantor? Bagaimana dengan mengenali pemicunya saja Anda bisa terbantu? Lama berselang, Raja Salomo menulis, ”Cerdiklah orang yang melihat malapetaka kemudian menyembunyikan diri, tetapi orang yang kurang berpengalaman berjalan terus dan pasti menderita hukuman.” ( Amsal 22:3 ) Se...