Dulu, saya selalu menggunakan kesempatan cuti bersama Lebaran untuk pulang ke kampung. Tradisi open house (istilah jaman ini) di rumah nenek. Biasanya saya tidak berlama-lama di sana, cuti kantor tidak sampai satu minggu jika lebaran tidak berjajar dengan hari Sabtu dan Minggu atau libur lainnya. Setelah pulang dari sana biasanya hari pertama disibukkan dengan saling bersalaman. Dan biasanya pimpinan selalu memberi saya ucapan selamat idul fitri meski saya tidak ikut merayakannya. Saya pun juga selalu menjawab maaf pak, saya tidak ikut merayakan. Biasanya si bapak ini langsung minta maaf tapi selalu hal tersebut berulang setiap tahun. Menurut kawan-kawan, dia mengira saya beragama Islam karena saya orang Jawa. Saya hanya bisa menghela nafas panjang dan tidak mengerti, bagaimana seorang pimpinan sebuah perusahaan yang katanya lulusan luar negeri masih menilai orang dengan sebuah pakem bahwa orang Jawa = Islam, orang Cina = Nasrani, orang NTT = Nasrani, orang Madura = Islam dan lain-lain...
Tentang segala yang tertangkap panca indera dan rasa