Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Pulang Kampung

Dulu, saya selalu menggunakan kesempatan cuti bersama Lebaran untuk pulang ke kampung. Tradisi open house (istilah jaman ini) di rumah nenek. Biasanya saya tidak berlama-lama di sana, cuti kantor tidak sampai satu minggu jika lebaran tidak berjajar dengan hari Sabtu dan Minggu atau libur lainnya. Setelah pulang dari sana biasanya hari pertama disibukkan dengan saling bersalaman. Dan biasanya pimpinan selalu memberi saya ucapan selamat idul fitri meski saya tidak ikut merayakannya. Saya pun juga selalu menjawab maaf pak, saya tidak ikut merayakan. Biasanya si bapak ini langsung minta maaf tapi selalu hal tersebut berulang setiap tahun. Menurut kawan-kawan, dia mengira saya beragama Islam karena saya orang Jawa. Saya hanya bisa menghela nafas panjang dan tidak mengerti, bagaimana seorang pimpinan sebuah perusahaan yang katanya lulusan luar negeri masih menilai orang dengan sebuah pakem bahwa orang Jawa = Islam, orang Cina = Nasrani, orang NTT = Nasrani, orang Madura = Islam dan lain-lain...

Kangen Kebersamaan

Kami memutuskan untuk hengkang dari Surabaya bulan Desember 2011 (kalau ga salah). Kurang lebih 2,5 tahun. Jujur, terkadang saya masih kangen dengan kebersamaan kawan-kawan di Surabaya. Namun, saya tak ingin terlarut dengan rasa kangen itu. Saya mencoba 'move on' dan mengembangkan pergaulan sebagai warga baru di tempat saya sekarang. Dulu, bisa sewaktu-waktu datang dan pergi ke rumah mereka. Ke mana-mana bisa saling support. Sekarang benar-benar sudah sendiri, mengandalkan diri sendiri. Bersama mereka, banyak pelajaran saya dapatkan. Selepas SMA, status saya jadi anak kost, karena itu saya menyadari arti hadirnya seorang teman atau sahabat apalagi keluarga. Mereka sangat penting. Saat kita berada di tempat yang berbeda, jauh dan lagi sendiri kita akan merasakan kesepian, kangen dan membutuhkan mereka. Apalagi kalau kita lagi jatuh sakit... Ini pernah saya rasakan, ketika sebulan setelah kami tinggal di tempat kami sekarang suami jatuh sakit (selalu setiap kami pindah, di bul...

Tetap Keren

Tampil ala rocker, ternyata juga bisa tampil alim. Bersemangat namun juga tetap santun. Melewatkan tiap momen dan menyemarakkan suasana dengan menebar semangat silaturahmi . Ceria dan mendamaikan, bisa merubah seseorang terlihat keren. Tergugah menebar kebahagiaan melalui karya menjadi nilai plus. Gaya atau penampilan adalah hal paling mudah yang bisa dilihat orang dan membuat orang cenderung menilai baik buruk orang lain dari sisi penampilan. Setiap orang bisa bergaya keren dengan menjadi percaya diri, memilih dan mengenakan pakaian yang sesuai dan nyaman, menjadi berbeda atau sebagai pelopor gaya, dll Namun, mengenakan atribut, memakai aksesori untuk penampilan tidak selalu menjadikan seseorang itu keren. Bagi saya, keren itu ada di dalam hati, bukan dengan mengenakan atribut. Dia malu bila melakukan hal yang ga bener dan selalu ingin memberi contoh yang baik untuk keluarga dan sekitarnya dan menjadi inspirasi. Sopan dan santun. Tetap eksis walaupun pakaiannya tidak seperti yang la...