Langsung ke konten utama

Jalannya Tak Mudah

Pernah mengalami tiba-tiba harus mengakhiri sesuatu yang sudah mati-matian kita perjuangkan?

Sakit hingga dada terasa sesak bagai tak ada ruang bernapas. Bahkan, menangis mungkin hanya me-release sedikit rasa sakit dan emosi-emosi negative yang terasa memenuhi sudut-sudut ruang rasa. 

Bisa menjadi manusia egois mungkin enak ya? 🙄 Tak harus mempedulikan sekitar atau risiko yang akan ditimbulkan, berdampak pada orang lain atau tidak. 

Kalau bisa, saya pun ingin tak peduli dengan orang lain. Melakukan apa pun sekehendak saya, memaksakan apa pun, melarang ini itu. Jika dibolehkan saya mau jadi manusia paling egois. 

Tapi sebentuk hati dalam diri saya tak pernah membiarkan saya berbuat demikian.

Saya masih mempunyai sedikit iman, meskipun itu tak sampai sebesar biji sesawi, setidaknya mampu meredam gejolak ego primitif. 

Memang tiap-tiap orang mempunyai hasrat menjadi orang penting. Orang yang tidak memiliki dorongan ke arah itu juga sulit menemukan makna hidup. Tetapi yang membuat penting ada bermacam-macam. Dan tidak selalu benar dan cocok dengan pilihan hidup yang mulai ditempuh. Misalnya, yang bukan pemimpin berasa jadi pemimpin, saling berebut pengaruh dan power, bukannya belajar membuat diri searah dengan yang memimpin. 

Ya sudahlah...setidaknya saya pernah memperjuangkan. Jika saya harus berhenti dan dipaksa berhenti oleh keadaan, tak apa. Sampai kapan pun, saya tak akan pernah menyesal telah jauh berjuang.

Saat ini pun saya bisa merasakan buah juang saya. Banyak hikmah yang bisa saya dapat. Pengalaman yang tak terbeli, kenangan yang menguatkan, kecewa yang membuat saya inshaallah menjadi manusia baru. 

Banyak pelajaran yang saya dapat dari kejadian yang telah lalu.

Ok. I have to live my life. 

Kata orang, hidup manusia itu bagai selembar kertas, selesai dengan satu lembar kejadian dan pengalaman, baik menyenangkan ataupun tidak, buka lagi lembar berikutnya. Yang kemarin, akan menjadi cerita atau pelajaran bagi diri saya atau bahkan mungkin juga orang lain. 

Semoga selanjutnya dan seterusnya kami menjalani hidup dengan sukacita bersama rahmat Tuhan sampai Dia mengatakan CUKUP untuk hidup kami. 

Aamiin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...