Sekolah, khususnya sekolah Katolik, seringkali dipandang sebagai tempat yang tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk watak, iman, dan kepribadian seorang anak. Di sinilah nilai-nilai kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, serta semangat pelayanan seharusnya menjadi dasar dari seluruh proses belajar mengajar. Namun, realitasnya tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya seorang anak menghadapi pengalaman yang menyakitkan, misalnya ketika seorang guru mengatakan dirinya bodoh di hadapan teman-teman. Bagi orang tua, pengalaman seperti ini tentu menimbulkan keprihatinan mendalam. Kata-kata yang seolah sederhana itu bisa melukai hati, mengganggu rasa percaya diri, bahkan menimbulkan trauma yang memengaruhi proses belajar anak. Bagaimana sebaiknya orang tua menghadapi situasi semacam ini? 1. Menyadari Dampak Psikologis pada Anak Anak-anak usia sekolah menengah pertama (SMP) sedang berada pada tahap perkembangan psikologis yang krusial. Mereka mencari jati diri...
Tentang segala yang tertangkap panca indera dan rasa