Baru-baru ini, pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi kritik seorang pengusaha travel terkait larangan study tour di sekolah-sekolah menuai perhatian publik. Dedi, yang dikenal dengan pemikirannya yang lugas dan berpihak kepada kepentingan rakyat kecil, memberikan respons yang cukup menohok terhadap kritik tersebut. Dalam pandangannya, larangan study tour bukan sekadar pembatasan semata, melainkan upaya untuk menghindari eksploitasi terhadap siswa dan orang tua mereka. Selama ini, kegiatan study tour kerap menjadi ajang komersialisasi dengan biaya yang tidak sedikit. Banyak kasus di mana orang tua merasa terbebani dengan biaya perjalanan yang mahal, sementara manfaat edukatifnya masih diperdebatkan. Kritikan dari pihak pengusaha travel tentu bisa dimaklumi. Larangan ini berdampak pada bisnis mereka yang bergantung pada sektor wisata pendidikan. Namun, argumen Dedi Mulyadi seolah mengingatkan bahwa kepentingan pendidikan dan kesejahteraan keluarga harus lebih diutamakan ...
Tentang segala yang tertangkap panca indera dan rasa