Langsung ke konten utama

Berdaya guna Bagi Sesama

Ada berbagai macam orang di sekitar kita. Tidak sedikit dari mereka yang ahli ibadah, ilmu dan pemahaman agamanya memadai, cerdas, memiliki skill bagus dan potensi-potensi lain yang cukup signifikan. Keberadaan mereka adalah modal utama bagi suatu lingkungan/wilayah di jaman ini ataupun kelak. SDM semacam ini adalah aset yang bila diberdaya gunakan tentu akan sangat membantu proses perkembangan lingkungan/wilayah dan mengangkat derajat warga di hadapan warga lingkungan/wilayah lainnya.

Sebaiknya memang, yang berdayaguna membantu yang kurang/tidak berdayaguna dan yang tidak/kurang berdayaguna belajar dan berusaha untuk memberdayagunakan dirinya, tidak malas, enggan dan lain-lain alasan, sebab jika terjadi yang demikian, ini akan menjadi salah satu sebab keterlambatan percepatan pembangunan.

Kita harus berada pada tempat yang semestinya dengan tanggung jawabnya. Di lingkup paling kecil yaitu keluarga misalnya, bagi yang hidup berkeluarga dan menjadi orang tua, berusaha menjadi orang tua yang baik dan bertanggung jawab, menjadi pendidik iman pertama dan utama untuk anak-anaknya. Demikian juga bagi berbagai macam profesi, ataupun mereka yang memiliki kedudukan atau posisi di mana pun di bagian apa pun, semestinya berusaha melakukan segala sesuatu sesuai dengan tanggung jawabnya. Jika yang demikian yang terjadi, mereka akan membawa kebaikan di mana pun mereka berkarya dan berada. Jika mereka melakukannya secara bertanggung jawab, itu akan dirasakan oleh yang lainnya.

Mengapa kita perlu berdaya guna? Kita memiliki jatah waktu, dan kita tidak tahu kapan Tuhan berkata CUKUP untuk hidup kita. Belajar dari orang-orang besar, pada umumnya mereka menggunakan jatah waktu yang sedikit untuk berkarya. Namun, Tuhan menciptakan manusia adalah unik artinya tiap manusia tidak ada yang sama, ada perbedaan potensi, juga perbedaan kedudukan dan posisi dalam pekerjaan ataupun masyarakat yang otomatis tanggung jawabnya pun berbeda. Ada yang Tuhan ijinkan untuk menjadi pemimpin, ada yang tidak. Ada yang memiliki kemampuan sebagai seorang visioner sehingga mampu menyusun suatu rencana dengan detail bahkan sampai jauh ke depan ada yang tidak dapat melakukan itu. Ada yang paham ilmu agama ada yang tidak. Ada yang mahir berolahraga atau menyanyi atau menari ada yang tidak. Gusti Allah itu adil. Di akhir nanti, tentu akan ada perbedaan antara seseorang yang mencurahkan tenaga dan potensinya dengan orang yang melalaikan itu atau melakukannya juga tetapi untuk sekedar memuaskan nafsu atau ambisinya.

Begitu pula tidak sama antara orang yang banyak mencurahkan harta, pikiran dan tenaga dengan orang yang hanya sedikit dan pelit melakukannya, atau melakukannya juga tetapi untuk sekedar memuaskan nafsu atau ambisinya.

Mereka yang tulus inshaallah akan memberi goresan sejarah, minimal bagi orang-orang yang se-visi 😊

Memang penting memberdayakan potensi dan bakat.

Maka itu secara pribadi, saya suka mencari orang yang punya potensi dan bakat. Mengajak mereka untuk do something good and valuable to other people. Tak luput juga mencari orang-orang yang pendiam, terlupakan dan dulu dianggap tak berdaya untuk mengakhiri ketidakberdayaannya. Karena di balik diamnya mereka, mungkin saja kita temui suatu potensi dan bakat yang bisa turut memajukan. Berdayaguna untuk sebuah karya menuju lingkungan/wilayah yang lebih baik.

Mari fokus pada porsi masing-masing, pada fungsi, tugas dan tanggung jawab masing-masing. Jangan teriak kepo atau memperolok atau memfitnah atau menyudutkan orang lain jika Anda tidak mengerti atau tidak paham seutuhnya.

Semoga cahaya kebaikan itu selalu memancar melalui hidup kami ya Allah. Meski ada saja orang yang dengan sengaja atau pun tidak melemahkan kami.

Aamiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...