Kami empat bersaudara. Tidak anti pada tekhnologi. Tapi, waktu kecil kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Sebelum ibu kami pensiun dini karena sakit, orangtua kami keduanya adalah kepala sekolah. Keluarga kami tinggal di salah satu kota kecil di Kabupaten Probolinggo. Keadaan waktu itu sudah ada tekhnologi seperti TV tapi belum ada iPad, jadi membuat kami lebih banyak menghabiskan waktu bermain di luar.
Sebelum ibu kami pensiun dini karena sakit, orangtua kami keduanya adalah kepala sekolah. Keluarga kami tinggal di salah satu kota kecil di Kabupaten Probolinggo. Keadaan waktu itu sudah ada tekhnologi seperti TV tapi belum ada iPad, jadi membuat kami lebih banyak menghabiskan waktu bermain di luar.
Kami bebas memanjat, bermain dengan hewan dan jalan dengan telanjang kaki. Kami empat bersaudara mengikuti pendidikan pada umumnya, enam tahun di SD Katolik, 3 tahun di SMP negeri Favorit dan 3 tahun di SMA Negeri Favorit, setelah itu merantau untuk melanjutkan pendidikan karena di tempat kami tidak ada Perguruan Tinggi 😊. Belum usum gagdet, jadi kami tidak merasa kehilangan sesuatu karena tidak memiliki gagdet 😃, lagi pula kami dan anak-anak jaman itu menemukan akses untuk mengeksplor lingkungan sekitar.
Waktu kami masih kanak-kanak, sesekali ayah mengajak kami jalan-jalan ke alun-alun kota atau ke sekitar area rumah di hari Minggu. Dulu kami memelihara ayam dan seekor burung tekukur. Dan bila libur sekolah tiba, kami bermain dengan sapi dan banyak unggas di rumah nenek. Kami boleh memegang dan memberi makan hewan-hewan itu 😊.
Dan menjelang Natal, kami membantu ibu membuat kue kering untuk suguhan. Mencoba mencetak berbagai bentuk kue kering sesuai dengan cetakan yang tersedia. Kami tidak selalu berhasil, terkadang ada bagian yang putus, terkadang tebal tipisnya kurang pas, terkadang bentuknya kurang cantik. Tapi kami enjoy menikmati momen itu. Enjoy saat kami memegang peralatan membuat kue, merasakan tekstur tepung dan lain-lain.
Kami terkadang juga membuat mainan bersama, misalnya layang-layang, telepon-teleponan dari bekas tempat korek api atau kaleng susu, dan lain-lain. Atau menggambar dan mewarnai atau bersama teman membuat prakarya bersama.
Intinya, bermain bisa jadi kegiatan yang menyenangkan bagi kami 😊
Waktu kami masih kanak-kanak, sesekali ayah mengajak kami jalan-jalan ke alun-alun kota atau ke sekitar area rumah di hari Minggu. Dulu kami memelihara ayam dan seekor burung tekukur. Dan bila libur sekolah tiba, kami bermain dengan sapi dan banyak unggas di rumah nenek. Kami boleh memegang dan memberi makan hewan-hewan itu 😊.
Dan menjelang Natal, kami membantu ibu membuat kue kering untuk suguhan. Mencoba mencetak berbagai bentuk kue kering sesuai dengan cetakan yang tersedia. Kami tidak selalu berhasil, terkadang ada bagian yang putus, terkadang tebal tipisnya kurang pas, terkadang bentuknya kurang cantik. Tapi kami enjoy menikmati momen itu. Enjoy saat kami memegang peralatan membuat kue, merasakan tekstur tepung dan lain-lain.
Kami terkadang juga membuat mainan bersama, misalnya layang-layang, telepon-teleponan dari bekas tempat korek api atau kaleng susu, dan lain-lain. Atau menggambar dan mewarnai atau bersama teman membuat prakarya bersama.
Intinya, bermain bisa jadi kegiatan yang menyenangkan bagi kami 😊
Beranjak dewasa, kami sudah jadi pemuda dan pemudi bukan kanak-kanak lagi, di rumah ada komputer dan kami hanya menggunakannya ketika perlu. Di sinilah kemudian saya sadar bahwa setiap keluarga memiliki nilai tersendiri apalagi masing-masing tinggal di lingkungan berbeda.
Saya yakin tiap orangtua akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Saat itu mungkin, cara yang dilakukan orangtua kami adalah baik untuk keluarga kami. Tapi, sekali lagi, tiap keluarga pasti berbeda.
Lihat juga: Pentingnya Bermain Bagi Anak
Lihat juga: Pentingnya Bermain Bagi Anak
Komentar