Dalam sebuah organisasi, rapat menjadi ruang penting untuk menyatukan pikiran, mengambil keputusan, dan membagi tanggung jawab. Namun, tidak jarang rapat justru melahirkan dilema baru. Hal ini terlihat dalam sebuah peristiwa ketika seorang ketua dalam rapat menyampaikan dengan tegas bahwa siapa yang tidak hadir dalam rapat tidak perlu dilibatkan dalam kepanitiaan. Menurut ketua, hal itu adalah arahan dari atasannya: bahwa yang tidak hadir tidak boleh merasa seolah “dijebak” dalam tanggung jawab kepanitiaan.
Sekilas, keputusan ini terlihat wajar. Mereka yang hadir dianggap punya komitmen lebih tinggi, sementara yang tidak hadir dianggap kurang serius. Namun, masalah muncul ketika jumlah anggota yang hadir dalam rapat sangat sedikit, sementara yang bisa dan mau terlibat lebih sedikit lagi. Akhirnya, kepanitiaan yang terbentuk menjadi rapuh karena tidak ditopang oleh orang-orang yang sebenarnya memiliki kompetensi dan potensi besar.
Di tengah situasi itu, seorang anggota muda mengambil langkah berbeda. Ia dengan kerendahan hati mendatangi beberapa anggota yang tidak hadir dalam rapat, lalu mengajak mereka untuk ikut terlibat. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan kesadaran bahwa organisasi membutuhkan tenaga mereka. Ternyata, beberapa di antara mereka bersedia bergabung setelah diajak secara pribadi.
Pertanyaannya: manakah yang lebih baik? Apakah sikap ketua yang lebih tua, yang saklek memegang aturan dari atasannya, atau kerendahan hati seorang anggota muda yang berinisiatif melibatkan orang-orang yang absen dalam rapat?
Ketegasan Seorang Ketua: Menjaga Aturan dan Disiplin
Dari sisi ketua, keputusan untuk hanya melibatkan mereka yang hadir memiliki dasar yang jelas. Pertama, hal itu untuk menegakkan disiplin. Jika sebuah organisasi selalu mengakomodasi mereka yang tidak hadir, maka kehadiran dalam rapat tidak lagi dianggap penting. Orang bisa merasa tetap dilibatkan meskipun tidak berkomitmen hadir. Akhirnya, budaya organisasi melemah, rapat hanya dihadiri oleh sedikit orang, dan pengambilan keputusan tidak dihargai.
Kedua, aturan ini juga menjaga keadilan bagi mereka yang hadir. Bayangkan jika ada anggota yang rajin datang rapat, menyumbang ide, dan ikut berdiskusi, tetapi kemudian tanggung jawab besar malah diberikan kepada yang tidak hadir. Hal ini tentu bisa melukai rasa keadilan. Maka, keputusan ketua untuk menegakkan aturan tersebut sebenarnya memiliki niat baik: mendidik anggota agar menghargai rapat dan keputusan bersama.
Selain itu, ketua juga berada dalam posisi yang terikat oleh arahan atasannya. Jika ketua melanggar atau mengabaikan arahan tersebut, ia bisa dianggap tidak patuh atau melawan struktur hierarki organisasi. Dalam konteks ini, sikap “saklek” ketua bisa dilihat sebagai bentuk loyalitas pada sistem dan atasan.
Inisiatif Anggota Muda: Kerendahan Hati yang Menyegarkan
Namun, di sisi lain, langkah anggota muda yang mendatangi orang-orang yang tidak hadir juga tidak bisa diabaikan. Sikap ini lahir dari kerendahan hati dan kepedulian. Ia melihat bahwa kepanitiaan yang dibentuk akan kesulitan jika hanya bertumpu pada segelintir orang. Maka ia mengambil jalan pribadi untuk mengajak anggota lain yang dianggap kompeten.
Langkah ini menunjukkan beberapa nilai penting:
-
Kerendahan hati. Alih-alih bersikap apatis atau menyalahkan keputusan ketua, ia mau turun tangan, bahkan dengan cara sederhana: menemui orang-orang secara pribadi. Ia tidak merasa dirinya kecil meskipun masih muda, melainkan berani mengambil peran.
-
Kepedulian. Anggota muda ini tidak ingin organisasi berjalan setengah hati. Ia ingin semua potensi anggota dimanfaatkan, bukan hanya mereka yang kebetulan hadir dalam rapat.
-
Fleksibilitas. Tidak semua aturan bisa dipegang secara kaku. Ada kalanya aturan justru membatasi, dan dibutuhkan keluwesan untuk menemukan jalan keluar. Anggota muda ini memberikan contoh bahwa keterbukaan dapat menyelamatkan situasi.
Ketegangan antara Aturan dan Nilai Kemanusiaan
Peristiwa ini memperlihatkan ketegangan klasik antara aturan dan nilai kemanusiaan. Aturan dibutuhkan agar organisasi tidak berjalan semrawut. Tanpa aturan, tidak ada disiplin. Namun, aturan yang terlalu kaku bisa mengorbankan tujuan yang lebih besar, yakni keberlangsungan dan keberhasilan organisasi itu sendiri.
Di sisi lain, nilai kemanusiaan – kerendahan hati, kepedulian, dan fleksibilitas – kadang menuntut kita untuk melampaui aturan. Apa gunanya aturan jika akhirnya melemahkan kerja bersama? Apa artinya disiplin jika yang terjadi justru kepanitiaan kosong dan tugas tidak terlaksana?
Seorang filsuf pernah mengatakan, “Aturan dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk aturan.” Artinya, aturan memang penting, tetapi ia harus melayani tujuan manusia, bukan membelenggu mereka. Dalam kasus ini, aturan ketua seharusnya tidak menutup pintu bagi orang-orang yang sebenarnya mau dan bisa membantu, hanya karena mereka tidak hadir dalam rapat.
Kepemimpinan yang Bijak: Menyatukan Keduanya
Maka, pertanyaan “manakah yang lebih baik” sebetulnya tidak harus dijawab secara hitam putih. Keduanya memiliki nilai. Ketua dengan ketegasannya menjaga disiplin, sementara anggota muda dengan kerendahan hatinya menghidupkan kepedulian. Namun, kepemimpinan yang bijak seharusnya mampu menyatukan keduanya.
Ketua yang baik bukan hanya saklek pada aturan, tetapi juga peka pada kebutuhan nyata organisasi. Ia bisa tetap menekankan pentingnya hadir dalam rapat, sambil tetap membuka ruang bagi mereka yang kompeten untuk terlibat. Dengan begitu, aturan tetap dijaga, tetapi tujuan besar organisasi tidak dikorbankan.
Sebaliknya, anggota muda pun perlu belajar memahami bahwa ada nilai disiplin yang sedang dijaga oleh ketua. Inisiatif pribadinya sebaiknya tidak dilihat sebagai “melawan” keputusan ketua, melainkan sebagai masukan bahwa organisasi membutuhkan fleksibilitas. Dengan komunikasi yang baik, keduanya bisa saling melengkapi: ketua memberi kerangka aturan, anggota muda menghidupkan roh keterlibatan.
Refleksi Akhir: Kerendahan Hati sebagai Jalan Utama
Meski demikian, jika harus memilih salah satu nilai yang lebih menonjol, kerendahan hati anggota muda patut dijunjung tinggi. Sebab, kerendahan hati membuka ruang dialog, memperkuat kerja sama, dan menyelamatkan organisasi dari kekakuan. Aturan penting, tetapi aturan tanpa kerendahan hati bisa menjelma menjadi beban.
Kerendahan hati seorang anggota muda mengingatkan kita bahwa organisasi bukanlah mesin yang kaku, melainkan tubuh yang hidup. Dalam tubuh, setiap anggota penting. Kadang ada bagian yang absen, tetapi jika kita mengulurkan tangan, bagian itu bisa kembali berfungsi.
Ketua dengan sikap tegasnya tetap punya nilai, tetapi tanpa kerendahan hati, kepemimpinannya bisa terjebak dalam formalitas yang dingin. Sebaliknya, kerendahan hati seorang muda yang mau turun tangan justru memberi kehidupan baru, meski kadang bertentangan dengan “aturan dari atas.”
Penutup
Kisah ini menyingkap pelajaran berharga: kepemimpinan sejati bukan sekadar soal memegang aturan, melainkan soal bagaimana menjaga keseimbangan antara aturan dan kebutuhan nyata. Aturan melatih disiplin, tetapi kerendahan hati menjaga agar organisasi tetap manusiawi.
Maka, dalam dilema antara ketua yang saklek dan anggota muda yang rendah hati, pilihan yang lebih baik adalah kerendahan hati yang membuka ruang partisipasi. Sebab, dengan kerendahan hati, organisasi bukan hanya berjalan, tetapi juga tumbuh dalam kebersamaan.

Komentar