Langsung ke konten utama

Dunia Ini Panggung Sandiwara


Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It. Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia: bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon, dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Ini adalah salah satu bagian dari karya Shakespeare yang paling sering dikutip.
Lengkapnya:
"All the world's a stage,
And all the men and women merely players;
They have their exits and their entrances;
And one man in his time plays many parts,
His acts being seven ages. At first the infant,
Mewling and puking in the nurse's arms;
Then the whining school-boy, with his satchel
And shining morning face, creeping like snail
Unwillingly to school. And then the lover,
Sighing like furnace, with a woeful ballad
Made to his mistress' eyebrow. Then a soldier,
Full of strange oaths, and bearded like the pard,
Jealous in honour, sudden and quick in quarrel,
Seeking the bubble reputation
Even in the cannon's mouth. And then the justice,
In fair round belly with good capon lin'd,
With eyes severe and beard of formal cut,
Full of wise saws and modern instances;
And so he plays his part. The sixth age shifts
Into the lean and slipper'd pantaloon,
With spectacles on nose and pouch on side;
His youthful hose, well sav'd, a world too wide
For his shrunk shank; and his big manly voice,
Turning again toward childish treble, pipes
And whistles in his sound. Last scene of all,
That ends this strange eventful history,
Is second childishness and mere oblivion;
Sans teeth, sans eyes, sans taste, sans everything." — Jaques (Act II, Scene VII, lines 139-166)

Memang, Tuhan menciptakan manusia dengan banyak variasi. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang cantik dan tampan, lainnya biasa saja. Kadang di beri rasa sakit, kadang di beri sehat. Sekali waktu di beri bahagia, lain waktu menderita. Tetapi Tuhan mengadakan semuanya itu dengan ada hikmah dan maksud di dalamnya. Dan senantiasa ada jaminan untuk keberlangsungan hidup bagi tiap ciptaanNya dengan menyediakan fasilitas di dunia seperti air, udara, tumbuh-tumbuhan dan kekayaan alam lainnya. Bahkan burung Pipit yang kecil pun tak di biarkan kelaparan.
Adanya orang miskin, sebenarnya adalah kesempatan orang kaya berbuat baik dan menolong orang. Dan ujian bagi si kaya, apakah mampu menyisihkan dan memanfaatkan harta titipan Tuhan untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya sesuai perintah Tuhan. Miskin dan kaya sebenarnya hanyalah keadaan agar manusia senantiasa mengingat Tuhan.
Dan sebagai aktor yang baik, kita harus senantiasa belajar untuk memainkan peran dan mendapatkan peran yang baik atau peran utama dari sang sutradara. Angelina Jolie dan Christine Hakim tidak lantas ujug-ujug jadi aktris besar dan terkenal dengan bayaran mahal kan? Karena manusia diciptakan untuk bertumbuh, maka kita harus melakukan usaha lebih untuk bertumbuh dalam pengetahuan, karakter dan spiritualitas. Dalam tiap kesempatan kita bisa belajar. Belajar dari kesuksesan orang lain, belajar dari kegagalan/kesalahan orang lain, belajar kerendahan hati dan belajar dan terus belajar...
Di lain pihak kita juga perlu belajar untuk berbagi. Berbagi dalam hal ini bukan hanya sekedar materi, tetapi juga berbagi ilmu tentang kehidupan, tentang kompetensi kita dan meninggalkan warisan untuk generasi selanjutnya. Bukankah saat kita mau berbagi, kita juga bertambah?
Setiap kita punya peranan. Peranan apapun yang kita mainkan adalah baik. Dan Allah ingin melihat kita bertumbuh dengan belajar dan berbagi dengan orang lain. Percayalah, bahwa pada saatnya nanti jika Allah berkenan, kita akan mendapatkan mahkota kemenangan karena memainkan peranan kita dengan baik hingga episode yang terakhir dimainkan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...