“Bukan pujian yang kuharap, tapi setidaknya dihargai...”
Pelayanan di Gereja seharusnya menjadi ladang sukacita dan pengabdian tulus kepada Tuhan dan sesama. Namun, tidak sedikit yang justru mengalami luka batin dalam prosesnya. Salah satunya adalah luka karena merasa tidak dihargai, meski telah mencurahkan segenap tenaga, waktu, bahkan perasaan untuk pelayanan.
Bayangkan seseorang yang rela datang lebih awal dan pulang paling akhir. Ia menyusun program, mengatur perlengkapan, menyelesaikan laporan, dan memastikan semua berjalan lancar. Namun, ketika pelayanan itu berhasil dan mendapat pujian, nama yang disebut hanyalah partner kerjanya—orang yang justru lebih banyak pasif, datang saat acara hampir selesai, atau hanya sesekali memberi masukan ringan. Yang menyakitkan, ketika ada kesalahan kecil, justru si pekerja keras itulah yang disalahkan.
Luka semacam ini sangat nyata dan sering kali membuat seseorang bertanya: Untuk apa aku melayani? Mengapa justru di tempat seharusnya aku mengalami kasih dan keadilan, aku merasa dikhianati dan disingkirkan?
Mengurai Luka, Menemukan Arti
-
Pelayanan Bukan Ajang Pamer Diri
Pelayanan adalah persembahan bagi Tuhan, bukan panggung untuk mendapat pujian. Tapi Tuhan pun tidak menutup mata atas keadilan. Rasa sakit karena tidak dihargai bukanlah kelemahan, tapi tanda bahwa kita manusia yang butuh dihormati. Maka penting untuk mengakui luka itu, bukan menekannya. Pengakuan Tak Selalu Datang dari Manusia
Mungkin nama kita tidak disebut di mimbar, mungkin kita dilupakan manusia. Tapi Tuhan tahu. Ia mencatat jerih payah yang tersembunyi. Seperti tertulis dalam Ibrani 6:10, "Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu..."Belajar Membedakan Antara Pelayanan dan Politik Gereja
Kadang pelayanan menjadi rumit karena kepentingan pribadi dan dinamika internal yang tidak sehat. Saat kita sadar bahwa sistem belum sempurna, kita bisa lebih bijak: tetap melayani, tapi juga menjaga hati agar tidak remuk oleh sistem yang cacat.Berani Bicara dan Berproses
Bila luka ini terus berulang, penting untuk menyuarakan ketidakadilan secara dewasa. Bicarakan dengan pembina atau pemimpin rohani yang bijak. Bila perlu, ambil jeda untuk memulihkan diri. Pelayanan tidak boleh mengorbankan kesehatan jiwa.
Tetap Melayani dengan Hati yang Murni
Luka karena pelayanan adalah paradoks: kita terluka justru saat berbuat baik. Namun, dari luka inilah kita belajar ketulusan, ketangguhan, dan kedewasaan rohani. Jangan biarkan luka membuat kita berhenti melayani. Tapi juga jangan abaikan luka itu. Bawalah pada Tuhan, dan izinkan Dia menyembuhkan sambil membentuk kita menjadi pelayan yang bukan hanya cekatan, tapi juga bijaksana.
Karena Tuhan tidak pernah salah alamat dalam membalas kebaikan—meski manusia sering salah menyebut nama.
Komentar