Fenomena flexing atau pamer kekayaan di media sosial semakin marak, terutama di kalangan anak muda yang memiliki akses ke kemewahan. Baru-baru ini, tren memamerkan perjalanan naik jet pribadi dan uang jajan dalam jumlah fantastis menjadi sorotan. Tak sedikit yang memandangnya sebagai bentuk ekspresi diri, tetapi lebih banyak lagi yang merasa gerah dengan aksi-aksi semacam ini.
Ketimpangan Sosial dan Mentalitas Hedonisme
Di satu sisi, flexing mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari tren media sosial, tetapi di sisi lain, hal ini mempertegas ketimpangan sosial yang nyata. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk hidup bergelimang harta, dan melihat kemewahan yang dipamerkan tanpa batas dapat memicu rasa iri, rendah diri, bahkan frustrasi sosial.
Selain itu, kebiasaan flexing bisa menanamkan mentalitas konsumtif dan hedonistik. Masyarakat, terutama generasi muda, jadi lebih terobsesi dengan gaya hidup mewah dibandingkan membangun keterampilan, prestasi, atau nilai-nilai yang lebih bermakna.
Tanggung Jawab Moral dan Etika Sosial
Sebagai bagian dari masyarakat, seseorang punya tanggung jawab moral dalam bertindak, termasuk saat membagikan kehidupan pribadinya di media sosial. Bukan berarti orang kaya tidak boleh menikmati hasil kerja kerasnya, tetapi ada perbedaan antara menikmati dan sengaja memamerkan. Jika pamer kekayaan hanya untuk menegaskan status sosial atau mencari validasi, hal ini perlu ditegur dan dikritisi.
Para orang tua, pendidik, dan tokoh publik juga perlu memberikan pemahaman yang lebih luas kepada generasi muda bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari materi. Daripada berlomba-lomba flexing, lebih baik menginspirasi dengan pencapaian, inovasi, atau kontribusi bagi masyarakat.
Menegur Bukan Berarti Iri
Beberapa orang mungkin beranggapan bahwa kritik terhadap flexing adalah tanda iri hati. Namun, ini bukan soal iri, melainkan soal bagaimana sikap tersebut bisa memengaruhi norma sosial dan budaya kerja keras. Jika seseorang benar-benar sukses, prestasinya akan berbicara sendiri tanpa perlu diumbar berlebihan.
Pada akhirnya, kita semua berhak menikmati kehidupan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tetapi dalam berbagi ke media sosial, ada baiknya menimbang dampak dan esensi dari apa yang dipamerkan: apakah itu membawa manfaat, atau justru hanya membangun citra semu?
Komentar