TERLAHIR sebagai bagian kelompok minoritas amat mungkin menghadirkan kesan tersendiri bagi yang mengalaminya. Di Indonesia, konsep minoritas acap disematkan antara lain pada pilihan agama. Tinggal di negara berpenduduk mayoritas Islam ini, penganut agama lain kerap harus berupaya menyesuaikan diri dalam kesehariannya.
Sebagai suatu agama, Katolik memiliki aturan dan sistem yang tak mudah dalam beberapa hal. Sementara sebagai minoritas, menjalani kehidupan tentu tak selalu mudah. Salah satu tantangan yang dirasakan ialah jumlah tempat ibadah yang sedikit. Selain itu, bahkan ketika bersekolah di sekolah berkonsep agama Katolik, kita masih juga harus menerima kondisi bahwa mayoritas siswanya bukan beragama Katolik.
Selain itu dalam hal mencari jodoh seiman utk jadi pasangan hidup. Terbatasnya jumlah lawan jenis penganut Katolik membuat usaha mencari jodoh jadi jauh lebih berat. Tak jarang kita harus mengakhiri niat mendekati seorang wanita atau pria karena ternyata tak menganut agama yang sama.
Angka 7 sampai 8 juta umat Katolik di Indonesia itu harus dipotong jumlah umat Katolik yang ada di tempat-tempat yang jauh dari domisili. Dipotong lagi jumlah umat cowok atau cewek dan yang selibat di pelayanan Tuhan. Lalu, angka ini dipotong lagi jumlah yang sudah menikah maupun masih balita, dipotong lagi gadis / jejaka Katolik yang kepincut mereka yg beda agama serta sortiran terbanyak adalah saat dipotong lagi jumlah gadis Katolik atau jejaka Katolik yang mau sama kita. Hehehe
Untuk menyiasati itu, biasanya orang muda Katolik mencoba menjadikan gereja dan kegiatan di dalamnya sebagai jalan untuk bisa bertemu dan berkenalan dengan lawan jenis yang seiman.
Lepas persoalan jodoh, kita berhadapan dengan tetek bengek formalitas untuk berkeluarga yang ternyata tak mudah. Mengurus semua syarat dan dokumen pernikahan di gereja Katolik dan catatan sipil menjadi hal yang mungkin tak banyak diketahui orang tentang kerumitan menikah di agama Katolik.
Urusan birokrasi sudah ganda: ke Catatan Sipil dan ke gereja. Urusan gedung juga ganda: gedung gereja dan gedung resepsi. Mantap kan pernikahan Katolik itu...
Betapa tak mudah menjalani kegiatan sebagai minoritas, bahkan ketika akan melakukan bakti sosial sekalipun. Saya adalah orang yang paling tidak bisa terima kalau ada yang menyebut baksosnya orang Katolik itu sebagai bentuk kristenisasi. Alasan pertama tentu karena masuk Katolik itu susah dan perlu proses panjang. Untuk belajarnya saja perlu setahun dan ada absensi yang diperhitungkan.
Tuduhan "Kristenisasi" sudah sering sekali dilancarkan oleh banyak orang. Setiap ada rencana pembangunan gedung gereja Katolik, atau pemberian sumbangan kepada korban bencana alam, selalu dicurigai sebagai gerakan "Kristenisasi".
Padahal, menjadi Katolik itu tidak gampang. Tidak cukup hanya percaya saja, lalu dibaptis. Atau bahkan membohongi seseorang, lalu dia dibaptis.
Untuk menjadi anggota Gereja Katolik, seseorang harus mengikuti pelajaran agama (katekumen) kurang lebih satu tahun atau 35x pertemuan. Lamanya pelajaran ini bisa lebih singkat jika dia sudah dibaptis dalam gereja-gereja Protestan atau gereja-gereja Kristen non-Katolik lainnya.
Pendaftaran untuk katekumen biasanya hanya dibuka 1x, atau 2x dalam setahun, dan pembaptisan/penerimaan paling sering dilakukan pada Malam Paskah. Kalau terlewat pendaftarannya, ya hanya bisa ikut tahun berikutnya.
Selama satu tahun masa pelajaran ini, dia harus ikut misa tiap Minggu dan meminta tanda tangan dari imam setelah misa, sebagai bukti bahwa ia hadir. Dia juga harus menghadiri ibadat lingkungan dan wilayah yang diadakan setiap bulan, ataupun pertemuan-pertemuan lain di lingkungan.
Menjelang akhir periode pelajaran agama atau katekumen ini, dia akan menjalani ujian tertulis dan wawancara. Setelah itu akan ada rekoleksi (sejenis retreat) sebelum pembaptisan/penerimaan.
Setelah itu barulah dia akan dibaptis (jika dia non-Kristen) ataupun diterima (jika Kristen non-Katolik) dalam Gereja Katolik.
Selesai? Belum. Setelah itu dia juga harus mengikuti mistagogi selama 8x pertemuan. Jika pada pelajaran katekumen yang diajarkan adalah soal iman, maka dalam mistagogi ini akan dijelaskan mengenai struktur, administrasi, dan pengenalan dengan dewan paroki, ketua lingkungan, dan umat lainnya.
Jadi, jika saya memberi beras atau pengobatan gratis kepada seorang non Katolik, maka besoknya dia tidak langsung menjadi Katolik, karena proses menjadi Katolik itu tidak mudah. Paham kan?
Nah, itu cerita-cerita tentang susah senang menjalani keseharian sebagai kaum minoritas di Indonesia.
Berkah Dalem
Komentar