Flexing merupakan fenomena ketika orang gemar pamer kekayaan. Mulai dari pamer barang-barang mahal di sosial media, pakai barang-barang branded, jalan-jalan ke luar negeri hingga makan di restoran mewah.
Flexing merupakan fenomena yang biasa terjadi di kehidupan bermasyarakat. Fenomena ini ketika orang doyan memamerkan kekayaannya.
Ya flexing mungkin sah-sah saja jika memang benar memiliki uang. Tapi yang bahaya jika doyan pamer di luar kemampuan finansial, akhirnya pakai fasilitas utang.
Apalagi di era kemajuan teknologi saat ini, fasilitas utang muncul dengan berbagai model. Mulai dari kartu kredit, pay later, hingga pinjaman online (pinjol).
Menggunakan fasilitas utang sebenarnya sah-sah saja jika untuk keperluan mendesak.
Apakah pay later selalu berdampak buruk enggak juga. Misalnya sekarang akhir bulan belum gajian, tiba-tiba orangtua sakit, harus pulang dan misalnya rumah di Balikpapan, harus naik pesawat, tapi duit lagi bokek. Ya mau nggak mau supaya bisa pulang dengan cepat ya ambil pay latter ini. Kalau seperti itu ya oke, karena sesuai fungsi yang lebih proper.
Namun, jika fasilitas utang itu digunakan untuk flexing, hanya untuk pamer-pamer di medsos tentunya sangat berbahaya. Sebab artinya aksi pamer yang dilakukan sudah melebihi kemampuan finansialnya.
Apabila tujuannya untuk flexing, untuk ngakunya healing atau hanya untuk pencitraan saja, demi mengisi konten di sosmed, bahaya. Karena kita hanya akan terjebak, uang kita hanya muter untuk bayar pay later itu saja.
Ada satu pepatah yang menyebutkan 'poverty screams, but wealth whispers'. Artinya justru orang kaya sesungguhnya sebenarnya tidak suka pamer. Fenomena flexing bisa diartikan mereka yang doyan pamer sebenarnya bukan orang kaya yang sesungguhnya.
Jadi benar sekali bahwa orang-orang yang kaya itu tidak berisik, whispers. Jadi agak malu membicarakan tentang kekayaan. Jadi kalau orang masih melihat label harga, atau mempersoalkan uang berarti dia belum kaya. Jadi biasanya orang kaya diam-diam saja lah.
Sebaliknya, banyak justru yang bukan orang kaya sesungguhnya tapi bergaya setinggi langit dan doyan pamer kekayaan.
Kalau orang dulu menunjukkan emas di gigi, sekarang cincin batu permata yang luar biasa. Menggunakan kalung berkilauan, pakaian bermerek dengan logo yang besar-besar sekali.
Untuk flexing sendiri, jika dimanfaatkan oleh pebisnis, terutama pebisnis jaringan seperti multi level marketing (MLM) sebenarnya sah juga dilakukan. Sebab memang tujuannya untuk menggaet orang lain agar mau bergabung dengan bisnis MLM-nya.
Namun jika flexing dengan alasan hanya ingin pamer semata di media sosial, apalagi untuk mendapatkan perhatian lawan jenis, lebih baik tidak dilakukan.
Apabila tujuannya hanya sekadar untuk mendapatkan likes atau follower yang banyak di sosmed, atau untuk sekadar menggaet lawan jenis, kurang tepat. Karena ibarat kata kita hanya memaksakan diri untuk terlihat kaya saja. Ya bisa dibilang tidak ada kompensasi atau imbalan material yang sepadan yang bisa kita dapatkan. Karena ya kita hanya sekadar membuat persepsi ataupun pencitraan saja, di masyarakat atau di sosial media.
Komentar