Terkadang kita menghadapi sebuah dilema ketika seorang rekan meminta pendapat tentang sepatu bot barunya. Kita benar-benar tidak menyukai sepatu bot yang berwarna merah menyala dan berlapiskan kristal itu, tetapi untuk menjaga perasaan rekan kita, kita mengatakan bahwa kita menyukainya.
Kita langsung menyesal karena telah berbohong dan mulai terobsesi dengan kegagalan moral kita, bahkan ketika pasangan kita yang mulai jengkel, mencoba meyakinkan kita dengan mengatakan, "Terkadang kita berbohong untuk bersikap sopan."
Pada akhirnya, kita tak lagi merasa bersalah dan mengungkapkan hal yang sebenarnya kepada rekan kita: "Sepatu bot itu buruk, dan tampak jelek, aku tidak suka!" Rekan kita lantas tersinggung atas perkataan kita.
Mungkin bagi kita dan beberapa orang, keharusan untuk jujur mengalahkan semua kewajiban moral lainnya, termasuk untuk tidak menyakiti perasaan orang lain. Namun pada kenyataannya, hanya sedikit orang yang benar-benar menjalankan prinsip untuk menjunjung kejujuran.
Berbohong adalah bagian hal yang dimaklumi dalam kehidupan sehari-hari, dari misalnya menjawab "baik" secara otomatis ketika seseorang menanyakan kabar, hingga pujian yang kita berikan ketika seorang teman meminta pendapat tentang potongan rambutnya yang baru yang jelek (atau mungkin sepasang sepatu bot yang norak).
Meskipun kebohongan kita temui di mana-mana, kebanyakan dari kita tidak mahir dalam mendeteksinya. Namun, apa yang akan terjadi jika kita tiba-tiba bisa mengetahui, tanpa ragu, ketika kita sedang dibohongi?
Mekanisme teknologi atau psikologi yang mampu mengaktifkan keahlian baru yang mustahil ini tidak perlu terlalu dipikirkan. Justru, yang lebih penting adalah peran kebohongan yang sering diabaikan dan tak dianggap dalam hidup kita.
Banyak peneliti yakin manusia mulai berbohong kepada satu sama lain segera setelah mereka menciptakan bahasa, terutama sebagai cara untuk menjadi lebih unggul.
Berbohong itu sangat mudah, dibandingkan dengan cara-cara lain untuk mendapatkan kekuasaan.
Jauh lebih mudah berbohong demi mendapatkan uang atau harta orang lain, daripada memukul kepala mereka atau merampok bank.
Sepanjang sejarah manusia, berbohong juga menjadi "suatu kebutuhan yang terus berevolusi untuk melindungi diri kita dari hal-hal buruk"
Termasuk perlindungan dari aksi persekusi - sebuah alasan berbohong yang masih digunakan orang-orang di seluruh dunia saat ini. Jika kita tiba-tiba bisa mendeteksi semua bentuk kebohongan, kehidupan di negara-negara di mana pengkhianatan, homoseksualitas atau agama tertentu itu ilegal, akan terancam.
Berbohong juga berguna bagi kita ketika risikonya rendah, salah satunya dalam bekerja.
Jika kita mengatakan kepada bos kita apa yang benar-benar kita pikirkan tentangnya, atau kenapa kita gagal memenuhi tenggat waktu, kita bisa saja dipecat atau diturunkan pangkatnya. Kita juga berbohong untuk membuat diri kita kelihatan lebih baik dan menjaga profesionalisme.
Seperti misalnya, baru-baru ini, kita terlambat datang ke suatu rapat, dan kita beralasan bahwa KRL yang kita tumpangi berjalan lambat.
Sebenarnya, KRL itu tidak membuat kita terlambat - kita telat karena kesalahan kita sendiri - tetapi kita pikir akan buruk bagi profesionalisme kita jika rekan-rekan kita mengetahuinya.
Di sisi lain, terkadang akan menguntungkan juga ketika kita tahu bahwa seseorang sedang berbohong kepada kita di lingkungan kerja.
Dengan menanyakan pertanyaan yang tepat dalam negosiasi kerja dan mendapat kepastian atas jawaban-jawaban yang akurat, karyawan dengan latar belakang minoritas, misalnya, bisa dengan lebih mudah mendapatkan gaji dan jabatan yang setingkat dengan sejawatnya yang berasal dari kelompok mayoritas.
Mungkin bagi kita, dunia di mana orang-orang bisa mengetahui sejujurnya hal-hal yang berarti bagi mereka adalah dunia yang sempurna.
Kita akan melihat lebih sedikit diskriminasi dan lebih banyak kesetaraan.
Kita juga akan merasakan lebih banyak rasa sakit. Bagi sebagian besar di antara kita, dunia tanpa kebohongan akan menyebabkan langsung jatuhnya citra diri.
Hidup dengan kejujuran akan membuat kita kerap mendapatkan masukan yang lebih jujur dan kejam tentang pekerjaan kita, cara kita berpakaian, cara kita berciuman - hal-hal semacam itu.
Kita akan menyadari bahwa orang-orang tidak sebegitunya memperhatikan kita dan kita tidak sepenting dan secakap yang kita pikir.
Sementara itu, masukan yang benar-benar jujur akan memberi kita kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri - tetapi apakah hal itu sebuah pertukaran yang bermanfaat? Saya tidak yakin.
Tamparan terhadap citra diri ini bermula ketika kita belajar berbicara - merusak perkembangan anak dengan cara yang tidak terduga.
Bayangkan seorang anak menghampiri orang tuanya sambil berkata, 'Ayah, ibu, lihatlah gambar yang kubuat!' dan kita menjawabnya, 'Jelek sekali!'".
Dampaknya akan langsung terasa.
Sebagian kepolosan anak-anak juga akan hilang, termasuk hal-hal ajaib seperti Santa Klaus, dan lain-lain. Sebaliknya, dengan rasa ingin tahu mereka, anak-anak akan lebih awal terpapar kerasnya kenyataan hidup - yang belum tentu merupakan hal yang baik.
Ada banyak hal yang mana jika anak-anak mengetahuinya, mereka akan sulit memahaminya.
Semua hal yang disembunyikan itu, terutama oleh orang tua kepada anak-anaknya, tidak bersifat jahat.
Anak-anak sendiri mempelajari nilai sosial dari kebohongan itu sejak dini.
Seorang ibu mungkin berkata pada anaknya, 'Dengarkan, nenek akan memberimu hadiah, dan kamu harus bilang ke nenek bahwa kamu menyukainya, kalau tidak, ia akan tersinggung."
Menurut penelitian, saat berumur tiga atau empat tahun, banyak anak yang telah menguasai seni berbohong demi kesopanan.
Semakin cerdas dan dewasa emosi seorang anak, semakin besar kemungkinan ia akan berbohong ketika ditanya apakah ia mengintip mainan yang diminta untuk tak ia lihat.
Belajar berbohong memiliki manfaat kognitif bagi anak-anak.
Ketika kita dewasa, kebanyakan dari kita terbiasa berbohong. Dalam sebuah penelitian bersejarah tahun 1996, Bella DePaulo, seorang psikolog sosial di Universitas California, Santa Barbara, mengungkap bahwa mahasiswa berbohong setidaknya satu kali dari tiga interaksi sosial, dan orang yang lebih dewasa berbohong setidaknya satu kali dari lima interaksi sosial.
Dalam banyak kebohongan sehari-hari, orang berpura-pura bersikap lebih positif dari apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Jika mereka tidak menyukai kita, mereka akan berusaha menutupinya. Jika mereka bosan dengan omongan kita, mereka akan berusaha terlihat antusias.
Tentu saja, dalam hal hubungan interpersonal, akan menjadi sebuah bencana apabila kita mampu mendeteksi kebohongan dan tipu daya.
Berbohong adalah sebuah kebutuhan yang mutlak diperlukan dalam budaya di mana pemahaman moral yang dianut adalah bahwa Anda tidak mau menyakiti perasaan orang lain.
Kita semua adalah konspirator dalam penyebaran hal yang disebut-sebut sebagai kebohongan demi kebaikan.
Kebanyakan orang secara tidak sadar bersekongkol dengan si pembohong untuk membiarkan diri mereka diperdaya.
Contohnya saat pesta makan malam berakhir, kita biasanya mengatakan pada sang tuan rumah bahwa kita merasa senang - meskipun kita sama sekali tidak menikmatinya.
Mereka lantas begitu saja mempercayainya, tanpa niatan untuk mengetahui seburuk apa makanan dan kebersamaan yang mereka berikan.
Efek buruk dari berbohong demi sopan santun ini, adalah kita mungkin akan kembali diundang oleh mereka, namun itulah harga yang harus dibayar demi menjaga perasaan mereka.
Dalam dunia tanpa kebohongan tersebut, hubungan pertemanan akan hancur berantakan, hubungan kerja akan penuh ketegangan, dan pertemuan keluarga akan terasa lebih menakutkan daripada yang seharusnya.
Hubungan romantis dengan pasangan kita juga tak terhindar dari kebohongan.
Dalam sebuah penelitian klasik pada tahun 1989 oleh Sandra Metts dari Universitas Illinois, hanya 33 dari 390 orang yang bisa mengingat situasi di mana mereka "tidak benar-benar jujur" terhadap kekasih mereka.
Demikian juga, pada tahun 2013, Jennifer Guthrie dan Adrianne Kunkel dari Universitas Kansas menemukan bahwa hanya dua dari 67 peserta penelitian yang tidak memperdaya pasangan mereka dalam kurun satu minggu.
Dalam kedua penelitian itu, sebagian besar peserta mengatakan bahwa mereka berbohong agar tidak menyakiti perasaan pasangan atau merusak hubungan mereka.
Jika hubungan percintaan tiba-tiba melibatkan kejujuran mutlak dalam segala hal, mulai dari bagaimana penampilan pasangan kita di pagi hari hingga apakah kita pernah tidak setia, maka banyak hubungan yang tak akan bertahan.
Ada cara-cara agar kemampuan mendeteksi kebohongan menjadi sangat bermanfaat. Salah satunya, ketika kita dapat langsung memergoki pembohong patologis, atau mereka yang melakukan kebohongan secara berseri yang bersifat merusak, serta tidak memberikan keuntungan sosial apapun.
Pembohong patologis biasanya adalah orang-orang narsistik yang kebutuhannya untuk memperdaya diri sendiri dipicu oleh rasa gengsi yang ekstrem dan sangat mengakar sampai-sampai mereka memercayai kebohongan yang mereka ciptakan - bahkan jika mereka bertentangan dengan fakta-fakta atau pernyataan yang pernah mereka buat sebelumnya.
Berbohong dalam dunia politik, tentu saja, bukan hal baru,
Plato mengakui manfaat dari suatu "kebohongan mulia", sementara tulisan politik klasik "The Prince for deception" berperan penting dalam kepemimpinan politik.
Maka dari itu, berbohong dalam ranah politik tampaknya telah menjadi sangat menggairahkan dalam beberapa tahun terakhir. Hal yang menjadi sangat buruk saat ini adalah bahwa sejumlah politikus penting dan orang-orang kuat lainnya di seluruh dunia telah berani berbohong karena sudah terbiasa, menjadi sebuah cara, dan tidak peduli jika mereka ketahuan.
Lembaga-lembaga juga bisa tanpa ragu berbohong, dengan sebuah klaim yang kemudian disebut sebagai "bentuk penyalahgunaan data statistik resmi."
Karena klaim tersebut bukan hanya salah namun direncanakan matang oleh mereka, maka adil untuk mengatakan bahwa ada niat menipu di sana.
Meskipun banyak bukti kebohongan di antara sejumlah politikus dan kelompok politik, dukungan dari pendukung inti cenderung tetap kuat. Penelitian memperlihatkan bahwa orang-orang yang sangat mempercayai informasi yang salah sangat sulit untuk diyakinkan sebaliknya. Sebagai sebuah spesies, manusia memiliki bias konfirmasi atau kecenderungan untuk meyakini hal-hal yang sesuai dengan cara pandangnya.
Namun, dalam dunia di mana manusia dapat secara otomatis mendeteksi kebohongan, dukungan terhadap politikus yang tidak jujur bisa runtuh begitu saja.
Dunia tanpa kebohongan akan membuat hubungan dan diplomasi internasional menjadi kacau, tetapi pada akhirnya, masyarakat dapat diuntungkan oleh keberadaan para politikus dan pejabat yang jujur. Hal yang sama berlaku dalam pembuatan kebijakan dan penegakan hukum.
Tingkat kekerasan dan bias polisi dapat menurun - aparat dapat menanyai tersangka apabila mereka membawa senjata atau bertanggung jawab atas suatu tindak kejahatan - dan persidangan dapat digantikan dengan serangkaian pertanyaan sederhana untuk memvonis bersalah atau tidaknya seorang tersangka.
Kita ingin pelaku ditemukan dan kita tidak mau salah menghakimi seseorang yang tidak bersalah dan menghukum mereka yang tidak melakukan tindak kejahatan.
Sulit untuk memprediksi apa saja keuntungan dan kerugian yang bisa kita dapat jika semua kebohongan terungkap, namun yang pasti bahwa dunia akan menjadi tempat yang sangat berbeda daripada yang kita tinggali saat ini. Namun demikian, manusia adalah makhluk yang bisa beradaptasi, dan seiring waktu, kita bisa menumbuhkan norma-norma yang baru dan tata perilaku sosial yang bisa diterima.
Di saat yang sama, kita mungkin akan mencari segala cara untuk mengembangkan cara-cara baru dalam berbohong dan menipu sesama, baik melalui teknologi, obat-obatan, perilaku sosial atau pelatihan mental.
Saya yakin 100%, bagaimanapun juga kita akan terus membohongi satu sama lain, kita hanya akan menemukan cara lain dalam melakukannya. Itu adalah kebutuhan hidup😜
Komentar