Umumnya memang takdir dan nasib diartikan sama, bahkan dalam bahasa Inggris juga demikian. Takdir dan nasib umumnya diterjemahkan sebagai ‘destiny, fate’, yang artinya mengarah kepada ’segala sesuatunya sudah ditentukan dari ‘Atas’ (yaitu Tuhan) dan manusia tidak ada andil/ kehendak bebas untuk mengubahnya. Dalam ajaran Katolik, justru ada kehendak bebas pada manusia yang dapat memilih hendak bekerjasama dengan kehendak Allah atau tidak.
Mungkin kita perlu menelaah, apa bedanya, arti ‘ditentukan’ dengan ‘ditakdirkan’? ‘Ditentukan’ di sini adalah berkaitan dengan kehendak Tuhan.
1. Kehendak Allah yang universal terhadap semua manusia, yaitu agar semua manusia di selamatkan
2. Kehendak Allah yang melibatkan pihak kehendak bebas manusia; sehingga meskipun Allah menghendaki semua manusia diselamatkan, namun karena Allah menghormati keputusan kehendak bebas manusia yang menolak-Nya, maka tidak semua dari yang ditentukan Allah sejak semula untuk diselamatkan, dapat diselamatkan. Dengan prinsip yang sama, maka bukan Tuhan yang menghendaki kejahatan terjadi, sebab yang terjadi sesungguhnya manusia dengan kehendak bebasnya yang berbuat jahat. Dalam hal ini, Tuhan mengizinkan hal kejahatan itu terjadi, karena Ia menghormati kehendak bebas manusia yang diciptakan-Nya. Inilah yang dikenal sebagai penderitaan yang disebabkan oleh dosa manusia. Namun kenyataannya, ada pula penderitaan yang tidak disebabkan oleh dosa, yang dikenal sebagai ‘the suffering of the innocent‘. Pada kedua jenis penderitaan ini hal ini, meskipun hal yang jahat/ buruk terjadi dalam hidup manusia, itu tidak mengejutkan Tuhan, karena Tuhan sudah mengetahui segala sesuatunya sejak awal mula, dan Ia dengan kuasa-Nya pula tetap dapat memasukkan keadaaan yang negatif tersebut ke dalam rancangan-Nya yang mendatangkan kebaikan. Dalam hal ini kebaikan yang dirancangkan Tuhan adalah untuk membawa seseorang kepada pertobatan, membentuk karakter orang yang bersangkutan, dan mendatangkan kasih, atau agar orang tersebut mengalami pengalaman dikasihi, baik oleh Tuhan maupun oleh orang lain.
Terkait kita dilahirkan tidak dapat memilih sendiri, itu memang benar. Namun dalam hal kita dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan, lebih baik menyebutkannya sebagai ‘diciptakan’ (bukan ‘ditakdirkan’) sebagai laki-laki atau perempuan. Hal penciptaan Allah ini melibatkan juga kehendak bebas dari orang tua kita, karena kita dilahirkan sebagai buah kasih mereka sebagai suami istri. Dengan demikian, dalam hal ini, penciptaan manusia tidak semata-mata ‘takdir’ yang seolah-olah hanya dari ‘Atas’, sebab kenyataannya ada campur tangan manusia juga walaupun itu bukan campur tangan dari janin-nya, tapi dari orang tuanya. Peran orang tua itulah yang menyebabkan seseorang lahir dalam keluarga tertentu, punya kakak dan adik tertentu. Walaupun, tentu saja, Allah mengetahui semuanya ini sejak awal mula.
Demikian pula jika kita melihat soal kematian. Allah mengizinkan hal buruk itu terjadi dalam kehidupan kita, sebab Ia melihat bahwa itu dapat mendatangkan kebaikan bagi kita. Maka oleh kuasa kasih Allah, segala bencana, penyakit, bahkan kematian, dapat mendatangkan kebaikan bagi kita. Dalam hal kematian, sama seperti kelahiran, terdapat banyak faktor yang terlibat, misalnya, meninggal karena kecelakaan lalu lintas, disebabkan karena kecerobohan pengendara; atau orang yang meninggal karena sakit tertentu, mungkin karena pola makan dan istirahat yang tidak teratur, dst, yang melibatkan kehendak bebas/ faktor manusia juga. Jika ada orang yang tetap memakai istilah takdir, ya silakan saja, hanya perlu diberi pengertian yang lebih rinci. Memakai istilah ‘takdir’, kalau tidak ada penjelasan yang lebih lanjut, dapat mengarah kepada kesalahpahaman.
Note: dirangkum dari artikel katolisitas
Komentar