Pernahkah merasa menyesal telah berbuat banyak kebaikan, tetapi hanya karena satu keburukan yang bagi kita sangat sepele, semua hal baik itu seolah tak ada artinya? Pernahkah pula merasa kebaikan yang lebih gede dari gunung itu tidak dihargai oleh orang lain? Bila begitu, haruskah pensiun dini dalam berbuat baik, kemudian berniat untuk mengubah haluan—agar orang menghargai kebaikan-kebaikan yang sudah kita lakukan?
Atau mungkin kita berbuat atau membantu orang lain pada momen-momen tertentu yang mengakibatkan mispersepsi orang lain terhadap makna keihklasan kita?
Terkadang kita merasa telah banyak berbuat kebaikan atau telah banyak membantu orang lain. Namun semua itu hilang seketika akibat ketidaksengajaan kita dalam berbuat suatu kesalahan sehingga dicap sebagai orang yang tidak baik. Semua itu akan membuat kita merasa unfairnya kehidupan dan sikap orang-orang di sekitar terhadap apa yang telah kita perbuat selama ini bagi mereka dan kitapun akan merasa sebagai pahlawan kesiangan yang kehilangan baret dan atribut (from hero to zero).
Kita pasti juga pernah berada di titik kekecewaan yang paling menyakitkan. Merasa sakit hati dengan perbuatan orang terdekat yang tidak pernah terlintas dalam pikiran kita, kalau mereka bisa menjadi orang yang paling membuat kita merasa paling terabaikan. Rasa ini biasa muncul ketika semua kebaikan yang pernah kita buat dibalas dengan dusta dan kemunafikan.
Alih-alih diperlakukan dengan baik, tapi ghibah dan pengkhianatan yang kita dapat.
Ada banyak tulisan di media sosial tentang kebaikan yang tidak dihargai atau dipandang sebelah mata. Mau bagaimanapun model kalimatnya, inti dari tulisan-tulisan itu adalah orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Mirip-mirip Joker lah yhaaa~
Contoh tulisan
“Jika seseorang sering berbuat baik tetapi tidak dihargai, maka jangan tanya kenapa orang tersebut bisa berubah menjadi jahat.”
“Ketika perbuatan baik seseorang tidak pernah dihargai, jangan kaget saat sifat buruk seseorang akan muncul ke permukaan.”
“Kecewa itu saat terlalu sering berbuat kebaikan kepada orang lain, tetapi orang lain tidak menghargai.”
“Apa gunanya berbuat baik, kalau pada akhirnya tidak pernah dihargai dan hanya dipandang sebelah mata? Percuma, cuma bikin kecewa dan makan hati.” Hati ayam?
“Sikap saya bergantung pada Anda. Anda baik, saya bisa jauh lebih baik. Tapi kalau Anda jahat, saya bisa lebih jahat dari Anda.”
Yah, seperti yang di atas itulah beberapa contohnya. Hampir mirip fenomena Joker, kaaaan?
Setelah dipikir-pikir lagi, pemikiran semacam itu memang menjurusnya ke kalkulasi. Hitung-hitungan. Baiknya hanya pura-pura dan untuk pamer, dengan hasrat agar dilihat oleh orang-orang. Lalu, jatuhnya jadi tidak ikhlas. Serasa hanya mencari pengakuan dari sekitar supaya dianggap baik. Terkesan hanya cari muka.
Tapi bagi siapapun, mengingat luka itu akan terasa perih memang.
Hari ini saya dibawa ke permenungan, ternyata orang yang benar-benar baik justru tak pernah berharap memperoleh perlakuan yang sama ataupun meminta balasan dari orang lain. Ya sudah, berbuat baik ya berbuat baik aja, tanpa embel-embel apa-apa. Kalau berbuat baik dengan harapan agar mendapat balasan yang sama, itu namanya menjual harga diri. Kalau perbuatan baik pribadi pakai acara dipublikasikan segala, bukankah itu namanya sedang memfitnah diri sendiri. Eh?
Sebenarnya berbuat baik kepada siapa saja itu sudah menjadi kodrat sebagai manusia. Bahwa sesungguhnya perbuatan baik itu ialah watak bawaan sejak masih bayi, atau bahkan fase jauh sebelumnya. Suatu hal yang sifatnya biasa-biasa saja. Tidak begitu istimewa. Bukan hal yang perlu diungkit-ungkit sebagai alasan untuk bersikap pamrih. Bukan sesuatu yang mahal serta mewah. Bukan sesuatu yang aneh. Bukan sesuatu yang langka dan hampir punah. Bukan hal yang patut membuat saya menjadi congkak dengan merasa jauh lebih baik dari orang lain.
Justru memang akan aneh rasanya jika keadaan terbalik. Seribu keburukan dilupakan hanya karena satu kebaikan. Seolah-olah kebaikan adalah sebuah kosakata baru dalam kamus kehidupan manusia pada zaman yang serbamodern ini. Dianggap sangat luar biasa dan begitu istimewa sekaligus langka. Seolah-olah, kebaikan menjadi perbuatan yang sangat perlu untuk dipublikasikan, butuh pengakuan, serta harus diungkit secara terus menerus. Lah?
Itu ibarat cewek yang mengagumi seorang cowok yang punya hobi marah-marah, menghina orang, suka bertindak seenaknya, omongannya kasar, pemabuk berat, dan hal-hal buruk semacamnya. Tetapi karena ganteng, semua keburukannya itu dimaklumi.🙄
Memang. Ada masanya seseorang harus melupakan seribu kebaikan dan mengingat satu keburukan, yaitu kebaikan dan keburukan kepada orang lain. Ada masanya pula seseorang harus melupakan seribu keburukan dan mengingat satu kebaikan, yaitu keburukan serta kebaikan dari dan oleh orang lain.
Tapi, kita ini kan manusia, ya. Punya keterbatasan dalam memahami hal-hal dasar semacam ini, bahkan ada yang sampai tertekan karena kurang sabar dalam mencari apa yang salah. Hanya karena sering terbalik dalam memaknainya. Juga cuma karena sering sekali salah tempat dalam menerapkannya.
Masih ada yang protes, “Tapi nyatanya orang emang lebih suka mengungkit keburukan orang lain dan mudah melupakan kebaikan orang lain.”
Kalau memang ada banyak orang yang sering mengungkit keburukan kita, anggap saja mereka adalah asisten yang mengambil alih tugas untuk mengingat keburukan kita, sekaligus penopang memori dalam otak yang makin penuh ini. Mari menghargai kebaikan mereka yang dengan sukarela menjadi asisten tanpa harus dibayar, meski mengorbankan banyak waktu dan tenaga. Kalau merasa tidak enak kemudian mau membalas dengan melakukan hal serupa, juga silakan. Itu hak asasi semua orang, kan? Kewajiban yang perlu dipenuhi pun sangat gampang: hanya harus menanggung capeknya saja.
Kita bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri, dan orang lain hanyalah variabel yang tidak terikat. Mereka bukanlah penentu. Sejahat apapun yang mereka perbuat, kita bertanggung jawab terhadap kebahagiaan kita sendiri. Mereka bukanlah variabel.
Berbuat baik bukan untuk dikenang orang. Namun berbuat baik karena esensi dari kebaikan adalah kebaikan itu sendiri, apapun respon orang dan balasannya terhadap kebaikan kita.
Berbuat baik dan menjadi bahagia adalah satu circle yang tidak terputus. Jangan terpuruk hanya karena kita diabaikan setelah berbuat baik. Atau jika kita digibahin. Atau mungkin tidak mendapatkan balasan yang setimpal dari perbuatan kita. Jangan pernah berekspektasi apapun. Kita cukup berbuat baik, lupakan itu dan bahagialah.
Tuhan memberkati kita
Note: catatan sebagai pengingat dan penyemangatku untuk tetap dan terus berbuat baik.
Komentar