Langsung ke konten utama

Nilai Kejujuran

Jujur dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah shidqu atau shiddiq yang berarti berkata benar atau nyata. Arti dari kata tersebut ialah merupakan bentuk kesamaan atau kesesuaian antara kata yang diucapkan dengan perbuatan yang dilakukan, atau antara informasi dan kenyataan. Dalam arti yang lebih luas, jujur artinya tidak melakukan kecurangan, mengikuti kaidah atau aturan yang berlaku dan memiliki kelurusan hati. Jujur membutuhkan keteguhan hati, terkadang terasa berat, pahit, dan mengundang resiko.

Jujur itu ada bermacam-macam

Jujur dalam ucapan, yaitu seseorang yang berkata sesuai dengan apa yang dia ketahui atau terima. Ia tidak berkata apapun, kecuali perkataan tersebut merupakan kejujuran. 

Jujur dalam perbuatan, yaitu seseorang yang beramal dengan sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang ada dalam batinnya. 

Jujur dalam janji, artinya dia selalu menepati janji yang telah diucapkan kepada manusia. Dia hanya mengucapkan janji yang dia tahu bisa dia tepati.

Jujur sesuai kenyataan, yang berarti dia menerapkan kejujuran pada segala hal yang dia alami di dalam hidupnya. Alangkah idealnya kalau semua ini melekat pada diri seseorang, yang tercermin dalam segala aktifitas sehari-hari.

Ada banyak manfaat yang diperoleh bagi orang yang jujur, antara lain; Pertama, hati menjadi tenang dan “sumeleh”. Orang yang selalu jujur akan memiliki hati yang tenang, dia selalu merasa nyaman dengan perbuatan dan kalimat jujur yang dilakukannya. Apapun urusan yang dilakukan dia tetap mendapatkan kedamaian dalam hatinya karena segala sesuatu telah dilakukannya dengan benar dan tidak merugikan orang lain. Lain halnya dengan orang yang berbohong, dia akan merasa khawatir akan kebohongannya dan hidup penuh kebimbangan, dia akan terbiasa membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lamanya sehingga hidupnya dipenuhi dengan kebohongan.

Kedua, Setiap orang mempunyai potensi menjadi orang yang menyenangkan dan disukai semua orang jika dalam diri orang tersebut banyak sisi positifnya. Umumnya setiap orang akan merasa bahagia dan senang berada di dekat orang yang jujur, meskipun dia sendiri bukanlah orang yang jujur alias seorang pendusta. Dalam hubungan apapun, kejujuran merupakan awal dari kepercayaan, dan kepercayaan adalah awal dari langgengnya sebuah hubungan, baik itu pasangan suami istri, persahabatan, ataupun rekan bisnis. Orang yang jujur akan disukai orang-orang di sekelilingnya karena tidak berkata dusta dan dapat dipercaya sehingga merasa damai berada di dekatnya.

Ketidakjujuran akan bermetamorfose  menjadi kebohongan publik seandainya tidak diklarifikasi. Melakukan klarifikasi atau mengakui kesalahan adalah sikap perilaku terpuji dari pada mempertahankan ketidak jujuran dalam artian merasa diri benar sendiri. Memang diperlukan kebesaran hati, yang biasanya keluar dari sosok pribadi yang terbiasa meletakkan nilai kejujuran dalam pergaulan sehari sehari sebagai moral termulia  dalam hidup dan kehidupan.

"Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar.  Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki." Inilah kalimat yang pernah disampaikan oleh Bung Hatta, proklamator Kemerdekaan Indonesia  yang seharusnya dijadikan pedoman bagi siapa saja, putra putri Indonesia. 

Kejujuran merupakan nilai tertinggi. Kejujuran juga merupakan harga yang sangat mahal yang tidak bisa digantikan atau dibeli dengan barang atau uang. Jika kita melakukan kebohongan sekali saja, orang lain pasti akan sulit percaya dengan kita. Kejujuran bersifat universal,  diakui oleh seluruh bangsa dunia.  Kejujuran adalah rekomendasi untuk mendapatkan pekerjaan . Kejujuran adalah lambang moral seseorang sehingga kepercayaan sepenuhnya pantas diberikan  kepadanya.

Semakin tinggi posisi kedudukan sesorang di masyarakat maka nilai kejujuran akan semakin teruji.  Pekerjaan adalah amanah ukuran dunia namun lebih dari pada  itu pekerjaan adalah tanggung jawab akhirat.  

Kejujuran seharusnya diterapkan mulai dari kecil, dalam keluarga, dan dalam bermasyarakat. Kejujuran bukan hanya diterapkan pada anak di rumah, tetapi juga sekolah dan universitas harus menerapkan kepada anak muridnya untuk melakukan kejujuran dalam keseharian. Sehingga jika berada dalam masyarakat anak tersebut akan menerapkannya.

Dari rumah, sekolah, lingkungan harus benar benar memperhatikan dan membina seorang anak agar benar benar menjadi  manusia jujur.  Keteladanan adalah cara terbaik dalam menanamkan  nilai kejujuran kepada seorang anak. 

Pendidikan karakter kejujuran telah diterapkan didalam UU Sisdiknas tahun 2003 yang dinyatakan dalam tujuan yakni agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh dengan karakter yang bernafas nilai-nilai yang luhur bangsa serta agama (Menurut Depdiknas, 2011).

Keimanan merupakan  pangkal pokok agar bisa menanamkan nilai kejujuran pada jiwa  seorang anak. Bahwa dimanapun dia berada, Tuhan Yang Maha Kuasa mengawasi setiap gerak gerik selama 24 jam penuh sehari semalam.  Dalam kesendirian maupun ketika berada di tempat ramai,  kejujuran wajib melekat dalam diri pribadi.  

Seandainya nilai kejujuran tidak diterapkan sejak kecil, ketika dewasa agak sulit memperbaikinya.  Walaupun ada peraturan perundangan, ada hukuman badan dan hukuman sosial tetap saja oknum tidak jujur sulit berubah. 

Dalam buku The 7 Awareness: 7 Kesadaran Tentang Keajaiban Hati dan Jiwa Menuju Manusia di Atas Rata-rata, dijelaskan: The Power of Zero adalah kekuatan yang menjadi naluri pada setiap manusia. Kejujuran merupakan mutiara yang ada di setiap hati manusia. Namun kejujuran disimbolkan tertanam di dasar tanah yang dilapisi banyak kotoran, bebatuan dan pada akhirnya tidak dapat terlihat lagi.

Alangkah baiknya jika kita mulai membiasakan berbuat jujur dan menjauhkan diri dari perbuatan dusta atau bohong, teristimewa di dalam situasi pandemi sekarang ini yang penuh dengan ujian atau cobaan dari Sang Khalik, tanpa mengetahui  secara pasti kapan semua ini akan berakhir.. 

Mari mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan mulai dari hal yang kecil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...