Langsung ke konten utama

Keberhasilan Upaya Penanganan Covid-19 Sangat Tergantung Peran Masyarakat

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota mulai berlaku.

Kunci suksesnya PSBB ini bergantung pada peran masyarakat dan pemerintah untuk berupaya mencegah penyebaran COVID-19.

PSBB merupakan penguatan dari protokol untuk mencegah penyebaran COVID-19. Selama ini pembatasan jaga jarak atau physical distancing dan social distancing atau menghindari kerumunan masih dianggap sepele. Oleh karena itu, penerapan PSBB ada payung hukumnya.

Peraturan Gubernur, peraturan wali kota, peraturan bupati ada payung hukum bisa laksanakan physical distancing dan social distancing.

Sosialisasi soal PSBB ini pun penting dilakukan kepada masyarakat. Hal ini mengingat persepsi masyarakat masih ada keliru soal PSBB. PSBB bukan menghentikan kegiatan masyarakat tetapi membatasi dengan menerapkan jaga jarak dan menghindari kerumunan.

Saya melihat supermarket penuh jelang PSBB. Padahal saat PSBB supermarket dan minimarket tetap buka.

Oleh karena itu, pemerintah daerah tetap harus mensosialisasikan mengenai PSBB kepada masyarakat. Sosialisasi diharapkan dapat dilakukan masif sehingga tidak hanya lewat media sosial tetapi juga perempatan jalan, lewat baliho, spanduk dan mengoptimalkan peran kecamatan, kelurahan, RT dan RW, serta tokoh-tokoh masyarakat dan keagamaan. Kemudian juga tokoh kepemudaan, organisasi masyarakat termasuk karang taruna.

Pemkab/Kota punya jaringan. Sosialisasi optimalkan sekretaris daerah, satuan kerja perangkat daerah, lalu kecamatan, kelurahan, ke RW, RT, dan masyarakat sehingga masyarakat memiliki kesadaran mengenai COVID-19.

Keberhasilan upaya penanganan Covid-19 sangat tergantung peran masyarakat. Butuh kerja sama semua perangkat RT, RW, Desa, sampai dengan pelaksanaan isolasi mandiri baik perorangan sampai kelompok dan kepatuhan dalam penerapan PSBB.

Perlu meningkatkan kesadaran kepada masyarakat agar tidak menganggap sepele mengenai COVID-19. Peran masyarakat sangat penting untuk mencegah meluasnya penyebaran COVID-19. Hal ini mengingat penularan COVID-19 sangat cepat.

Masyarakat kunci utama pengendalian COVID-19 ini. Pemerintah harus membantu masyarakat dari aspek kesehatan, sosial-budaya dan ekonomi.

Oleh karena itu, penting untuk disiplin menghentikan penularan COVID-19. Disiplin itu diam di rumah saja, tidak bepergian dan tidak mudik untuk memutus rantai penularan, ingat jaga jarak, selalu berpikir positif, ingat pakai masker, patuhi prosedur dan protokol, lindungi keluarga, dan orang sekitar, ingat sering-sering cuci tangan dan nasihati orang lain untuk disiplin.

Untuk itu butuh peran tokoh masyarakat lokal untuk mengingatkan masyarakat. Masalah kita kesadaran displin belum menjadi kebiasan tertanam dalam sanubari kita. Maka yang dibutuhkan sekarang adalah gerakan tokoh masyarakat lokal dan lainnya untuk mengingatkan warga lewat sanksi sosial.

Gerakan sosialisasi PSBB harus dipadukan dengan melibatkan tokoh-tokoh tersebut. Hal itu guna menyakinkan masyarakat akan pentingnya peraturan pemerintah di masa darurat ini. Untuk menyakinkan publik butuh orang yang punya power dan followernya.

Sejauh ini sosialisasi tidak berjalan dengan baik. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang tidak tahu atau belum paham, bahkan yang bandel membandel.

Peranan leader nonformal yakni komunitas terkecil menjadi kekuatan untuk menggerakkan masyarakat menaati peraturan itu. Kunci sekarang pada kesadaran publik untuk displin diri menaati aturan yang harus menjadi kewajiban untuk dijalankan.

Kunci sukses PSBB ini dibentuk dari kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, tracing dan treatment dengan klinis dan noklinis dengan memperkuat pelacakan terutama di sekitar wilayah kontak kasus positif dan screening massa, serta treatmen yang tepat terutama pada aspek nonklinis terutama soal sanksi bagi yang melanggar.

Pembatasan kegiatan pada malam hari dibutuhkan kerja sama patroli satpol pp, dan tim gabungan. Saya setuju jam malam karena kegiatan pada malam hari harus dibatasi. Ini juga berdampak terhadap sistem imun kita dengan beristirahat cukup dengan 7-8 jam.

Upaya pemerintah saat ini adalah tengah berusaha memenuhi kebutuhan reagen untuk pemeriksaan PCR. Pemeriksaan PCR mensyaratkan bahwa lab harus memiliki fasilitas Bio Safety Level (BSL) 2 atau memiliki BSL Cabinet.

Pemeriksaan PCR membutuhkan reagen dan alat tertentu yang sampai saat ini harus didatangkan dari negara lain. Sayang nya semua negara terdampak pandemi Covid-19 sama-sama membutuhkan reagen.

Tugas selanjutnya setelah mendapatkan reagen yaitu mendistribusikan ke seluruh laboratorium yang mampu dan memenuhi syarat untuk melakukan pemeriksaan PCR.

Pemerintah pun terus melakukan pemantauan terhadap orang yang diduga kontak langsung dengan pasien positif Covid-19.

Sementara pemerintah bekerja, mari kita mendisiplinkan diri menaati aturan yang menjadi kewajiban untuk dijalankan.

Bersama kita bisa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...