Bagi semua mahasiswa, tentu akan sangat senang dan bangga ketika mendapatkan IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi. Pasalnya, bukanlah hal yang mudah untuk bisa mendapatkannya.
Mulai dari masuk kuliah dengan rajin, mengerjakan semua tugas yang diberikan dosen hingga belajar dengan sungguh-sungguh rela dilakukan demi IPK yang bagus.
Namun, tak sedikit yang masih belum bisa mendapatkan IPK yang diidamkan. Tak heran banyak mahasiswa yang enggan menjawab dengan pasti ketika ditanya soal IPK.
Berbeda dengan mahasiswa dengan IPK tinggi dan menjadi wisudawan terbaik.
Semuanya melalui proses.
Nilai skripsi, dengan faktor-faktor lainnya, seperti bahasa skripsi (menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia), umur dan organisasi yang digeluti, itu menjadi pertimbangan seorang mahasiswa ditetapkan menjadi wisudawan terbaik.
Sejatinya, tidak masalah kita mendapat gelar wisudawan terbaik atau tidak. Gelar wisudawan terbaik itu hanya saat ceremony semata. Lebih baik dan yang penting, kita berharap ilmu yang di dapat selama kuliah bermanfaat bagi diri dan orang banyak.
Niat kuliah adalah untuk mencari ilmu. Tidak untuk mengejar IPK tinggi. Yang penting prestasi kita baik.
Tetapi, faktor nilai IPK, tetap bisa jadi penentu Anda untuk diterima atau ditolak di perusahaan jika IPK Anda benar-benar di bawah rata-rata. Perusahaan jadi akan bertanya-tanya, apa yang salah dengan Anda sampai bisa mendapat IPK serendah itu.
Seandainya Anda memiliki nilai IPK yang agak “memalukan”, dan Anda melamar ke perusahaan yang tak mensyaratkan penyebutan nilai IPK maupun pemberian fotokopi ijazah, tak usah lah berinisiatif mengumumkan atau memberi ijazah. Cukup kirimkan CV, cover letter, dan persyaratan lain yang diminta, dan tak perlu ungkit-ungkit soal IPK Anda kecuali Anda memang ditanya saat wawancara.
Siapkan juga jawaban yang tepat untuk saat Anda ditanya. Anda bisa bilang misalnya nilai Anda buruk karena bidang studi tersebut sebenarnya bukan minat Anda, atau akui kesalahan Anda yang terlalu sering nongkrong dan beraktivitas di luar ketimbang kuliah. Malah mungkin lewat alasan ini Anda bisa mempromosikan bakat dan keunggulan Anda yang lain.
Mulai dari masuk kuliah dengan rajin, mengerjakan semua tugas yang diberikan dosen hingga belajar dengan sungguh-sungguh rela dilakukan demi IPK yang bagus.
Namun, tak sedikit yang masih belum bisa mendapatkan IPK yang diidamkan. Tak heran banyak mahasiswa yang enggan menjawab dengan pasti ketika ditanya soal IPK.
Berbeda dengan mahasiswa dengan IPK tinggi dan menjadi wisudawan terbaik.
Semuanya melalui proses.
Nilai skripsi, dengan faktor-faktor lainnya, seperti bahasa skripsi (menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia), umur dan organisasi yang digeluti, itu menjadi pertimbangan seorang mahasiswa ditetapkan menjadi wisudawan terbaik.
Sejatinya, tidak masalah kita mendapat gelar wisudawan terbaik atau tidak. Gelar wisudawan terbaik itu hanya saat ceremony semata. Lebih baik dan yang penting, kita berharap ilmu yang di dapat selama kuliah bermanfaat bagi diri dan orang banyak.
Niat kuliah adalah untuk mencari ilmu. Tidak untuk mengejar IPK tinggi. Yang penting prestasi kita baik.
Tetapi, faktor nilai IPK, tetap bisa jadi penentu Anda untuk diterima atau ditolak di perusahaan jika IPK Anda benar-benar di bawah rata-rata. Perusahaan jadi akan bertanya-tanya, apa yang salah dengan Anda sampai bisa mendapat IPK serendah itu.
Seandainya Anda memiliki nilai IPK yang agak “memalukan”, dan Anda melamar ke perusahaan yang tak mensyaratkan penyebutan nilai IPK maupun pemberian fotokopi ijazah, tak usah lah berinisiatif mengumumkan atau memberi ijazah. Cukup kirimkan CV, cover letter, dan persyaratan lain yang diminta, dan tak perlu ungkit-ungkit soal IPK Anda kecuali Anda memang ditanya saat wawancara.
Siapkan juga jawaban yang tepat untuk saat Anda ditanya. Anda bisa bilang misalnya nilai Anda buruk karena bidang studi tersebut sebenarnya bukan minat Anda, atau akui kesalahan Anda yang terlalu sering nongkrong dan beraktivitas di luar ketimbang kuliah. Malah mungkin lewat alasan ini Anda bisa mempromosikan bakat dan keunggulan Anda yang lain.
Komentar