Langsung ke konten utama

Saat Ditanya Soal IPK

Bagi semua mahasiswa, tentu akan sangat senang dan bangga ketika mendapatkan IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi. Pasalnya, bukanlah hal yang mudah untuk bisa mendapatkannya.

Mulai dari masuk kuliah dengan rajin, mengerjakan semua tugas yang diberikan dosen hingga belajar dengan sungguh-sungguh rela dilakukan demi IPK yang bagus.

Namun, tak sedikit yang masih belum bisa mendapatkan IPK yang diidamkan. Tak heran banyak mahasiswa yang enggan menjawab dengan pasti ketika ditanya soal IPK.

Berbeda dengan mahasiswa dengan IPK tinggi dan menjadi wisudawan terbaik.
Semuanya melalui proses.

Nilai skripsi, dengan faktor-faktor lainnya, seperti bahasa skripsi (menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia), umur dan organisasi yang digeluti, itu menjadi pertimbangan seorang mahasiswa ditetapkan menjadi wisudawan terbaik.

Sejatinya, tidak masalah kita mendapat gelar wisudawan terbaik atau tidak. Gelar wisudawan terbaik itu hanya saat ceremony semata. Lebih baik dan yang penting, kita berharap ilmu yang di dapat selama kuliah bermanfaat bagi diri dan orang banyak.

Niat kuliah adalah untuk mencari ilmu. Tidak untuk mengejar IPK tinggi. Yang penting prestasi kita baik.

Tetapi, faktor nilai IPK, tetap bisa jadi penentu Anda untuk diterima atau ditolak di perusahaan jika IPK Anda benar-benar di bawah rata-rata. Perusahaan jadi akan bertanya-tanya, apa yang salah dengan Anda sampai bisa mendapat IPK serendah itu.

Seandainya Anda memiliki nilai IPK yang agak “memalukan”, dan Anda melamar ke perusahaan yang tak mensyaratkan penyebutan nilai IPK maupun pemberian fotokopi ijazah, tak usah lah berinisiatif mengumumkan atau memberi ijazah. Cukup kirimkan CV, cover letter, dan persyaratan lain yang diminta, dan tak perlu ungkit-ungkit soal IPK Anda kecuali Anda memang ditanya saat wawancara.

Siapkan juga jawaban yang tepat untuk saat Anda ditanya. Anda bisa bilang misalnya nilai Anda buruk karena bidang studi tersebut sebenarnya bukan minat Anda, atau akui kesalahan Anda yang terlalu sering nongkrong dan beraktivitas di luar ketimbang kuliah. Malah mungkin lewat alasan ini Anda bisa mempromosikan bakat dan keunggulan Anda yang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...