Persembahan seorang janda miskin (bahasa Inggris: The Widow's Mite) adalah suatu pelajaran yang dicatat dalam Injil Sinoptik (Markus 12:41-44, Lukas 21:1-4), pada waktu Yesus mengajar di Bait Allah di Yerusalem. Injil Markus menunjukkan bahwa dua "peser" (bahasa Yunani: lepton; bentuk jamak: lepta) bersama-sama bernilai satu "duit" (bahasa Yunani: quadrans), koin Romawi terkecil. Sebuah lepton adalah koin yang terkecil dan paling tidak berharga di antara koin yang beredar di Yudea, senilai sekitar enam menit kerja dari upah rata-rata harian.
Koin itu digunakan pada masa Alexander Janus. Jadi koin itu sekarang dikenal sebagai koin Alexander Janus, kaisar ini berkuasa pada 103 -76 SM. Sekalipun saat kisah janda miskin ini terjadi pemerintahan Alexander sudah lewat, namun uangnya tetap bisa dipergunakan. Bahannya dibuat dari perunggu. Itu adalah mata uang yang nilainya sangat kecil, kalau sekarang ya uang recehanlah.
Lalu mengapa uang yang bernilai kecil itu menarik perhatian Yesus pada saat itu?
Jika bicara tentang persembahan, hal itu adalah pemberian sebagai tanda ucapan syukur yang kita ambil dari berkat yang sudah Tuhan beri. Biasanya orang memberikan persembahan diambil dari kelebihannya.
"Yang menjadi berbeda, ketika seorang janda miskin memberi dari kekurangannya."
Jadi persembahan itu tidak dilihat dari nilainya, tapi dari pengorbanan yang dilakukan saat memberikan persembahan itu.
Berapakan nilai koin dua peser itu?
1 keping koin Alexander Janus nilainya hanya 1/8 sen. Jika menggunakan kurs dolar, maka 1 keping koin janda miskin itu nilainya 1/8 dari Rp.13.500,- atau sekitar Rp.1.625,-. Jadi jika janda miskin itu memberi dua koin, maka total pemberiannya hanya Rp.3.250,- saja.
Tafsiran tradisional cerita ini cenderung untuk melihat kekontrasan perilaku ahli-ahli Taurat dengan janda itu, dan mendorong pemberian murah hati kepada Allah; sering dibaca bersama-sama 2 Korintus 9:7, "...sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."
Sebelumnya, di dalam Markus 7:10-13, Yesus menegur para ahli Taurat dan orang Farisi yang munafik karena memiskinkan orang tua.
"Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban--yaitu persembahan kepada Allah--, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."
Di bagian ini segera sebelum Yesus mengambil tempat duduk di seberang peti persembahan, Ia digambarkan mengutuk para pemimpin agama yang berpura-pura saleh, menerima hormat dari orang banyak, dan mencuri harta milik para janda. "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."
Para janda adalah penerima kasih dan belas kasihan Allah yang lembut dan ada catatan jelas mengenai pemeliharaan dan kasih Allah yang khusus bagi wanita yang hidup sendirian, baik karena ditinggal oleh suaminya maupun karena pasangannya meninggal dunia (Lukas 7:11-17; 18:2-8; 21:2-4; Markus 12:42-43). Para pemimpin agama yang membuat para janda menjadi miskin, ternyata juga mendorong para janda itu untuk memberi sumbangan di luar kemampuan mereka. Selain memuji kemurahan hati janda, Yesus mengutuk kedua sistem sosial yang membuat janda itu miskin, dan "...sistem nilai yang memotivasi tindakan tersebut, dan ia mengutuk orang-orang yang membuatnya melakukan hal itu."
Namun, Allah mengukur persembahan bukan dari jumlah yang dipersembahkan tetapi dari kasih, pengabdian, dan pengorbanan yang terkandung dalam persembahan itu. Yesus memberikan pelajaran tentang bagaimana Allah menilai pemberian:
1) Pemberian seseorang ditentukan bukan oleh jumlah yang ia berikan, tetapi oleh jumlah pengorbanan yang terlibat dalam pemberian itu. Sering kali orang kaya hanya memberi dari kekayaannya -- ini tidak meminta pengorbanan. Pemberian janda ini menuntut segalanya daripadanya. Ia memberi sebanyak-banyaknya yang dapat diberikannya.
Tuhan lebih memperhatikan hati dengan ketulusan seseorang dalam mempersembahkan. Yesus memperhatikan alasan apa dibalik seseorang dalam mempersembahkan, apakah mereka melakukannya untuk Tuhan atau hanya untuk dilihat sesamanya. Ketika giliran tatapan Yesus ke seorang janda yang sedang membawa persembahan. Yesus tahu bahwa janda itu mempersembahkan sungguh-sungguh dengan apa yang dia miliki. Yesus sangat memperhitungkan apa yang dilakukan janda tersebut, artinya bahwa apa yang diberikan oleh janda itu memiliki nilai lebih dari semua orang-orang kaya yang mempersembahkan. Sehingga terungkap bahwa; mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya. Nilai moral yang bisa dipetik dari cerita ini, tidak hanya sekedar ketulusan dalam memberi namun sebuah penghayatan kepada siapa kita mempersembahkan tanpa ada pamrih sedikitpun serta meletakkan kekawatiran akan kekurangan setelah mempersembahkan. Sebuah realitas kehidupan seorang janda yang perlu diteladani oleh kita semua.
Pelajaran dari kisah koin janda miskin
Persembahan janda miskin ini menjadi perhatian Yesus karena Dia mengetahui betapa besar pengorbanan wanita itu.
Karena kalau waktu itu dia hanya punya dua (koin) itu saja, setelah itu dia ngga bisa makan.
Jadi itulah yang Tuhan inginkan, agar kita ngga memikirkan diri kita, tapi apa yang kita persembahkan kepada Tuhan itulah yang berkenan di mata Tuhan.
2) Prinsip ini dapat diterapkan pada segala pelayanan orang beriman bagi Yesus. Ia menilai pekerjaan dan pelayanan orang tidak berdasarkan ukuran atau pengaruh atau keberhasilannya, tetapi berdasarkan kadar pengabdian, pengorbanan, iman, dan kasih yang tulus yang terlibat di dalamnya (lihat Lukas 22:24-30; Matius 20:26; Markus 12:42).
Ada beberapa pelajaran penting yang perlu kita perhatikan :
Pertama, Tuhan melihat apa yang tidak dilihat manusia. Ada banyak orang memberikan persembahan saat itu, bahkan mungkin murid-murid Yesus melihat ada orang-orang yang memberikan persembahan dalam jumlah besar. Tapi Yesus tertarik kepada persembahan yang sedikit dari seorang janda.
Kedua, penilaian Tuhan berbeda dari manusia. Jika manusia menilai dari jumlah materinya, namun Tuhan menilai dari seberapa besar pengorbanan yang diberikan janda itu saat memberikan persembahan.
Ketiga, Tuhan melihat iman. Wanita itu sekalipun miskin, dia tidak menjadi orang yang ingin menerima berkat saja, tapi memiliki hati untuk memberi. Selain itu, dengan memberikan segala yang ia miliki, wanita itu memiliki iman bahwa Tuhan sanggup memeliharanya. Dia percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang menyediakan.
Cerita tentang persembahan seorang janda miskin adalah cerita alkitab yang sangat istimewa. Peristiwa itu diawali dari bagaimana saat Yesus memperhatikan beberapa orang yang sedang memberi persembahan di gereja. Pastilah Yesus tidak hanya melihat apa yang dipersembahkan oleh orang-orang tersebut, tetapi lebih kepada mengapa dan bagaimana setiap orang dalam mempersembahkan. Pada saat tatapan Yesus tertuju kepada seorang janda, maka munculah perhatian yang sangat indah. Dikatakan suasananya indah karena Yesus melihat ada niat yang tulus yang dilakukan oleh janda tersebut. Janda itu terlihat bahwa mempersembahkan adalah sebuah penghormatan kepada dirinya, maka sikap yang diambil adalah tidak mengabaikan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan itu dan pasti yang terbaik yang dimilikinya.
Belajar dari cerita diatas, mari mulai belajar untuk mengerti bahwa :
Persembahan yang kita lakukan saat ini bukan lagi sebagai “korban” baik untuk penebusan dosa atau sebagai “alat” untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Jangankan sepersepuluh, mempersembahkan sepertiga atau setengah dari yang kita miliki pun tidak akan cukup untuk mensyukuri kebaikan Tuhan. Oleh karena itu Yesus tidak pernah menyinggung soal jumlah dalam hal persembahan.
Hal yang paling utama dalam persembahan adalah hati yang bersyukur. Persembahan juga sebagai wujud nyata pengakuan kita bahwa tanpa berkat Tuhan kita tidak bisa apa-apa.
Sebagai teman sekerja-Nya, maka persembahan adalah juga sebagai wujud nyata kesediaan kita untuk turut menopang pekerjaan Tuhan di dunia ini.
Wow, sangat menarik bukan fakta tentang koin janda miskin itu? So, selamat mempertahankan semangat mempersembahkan. Tuhan memberkati. Amin
🙏
Koin itu digunakan pada masa Alexander Janus. Jadi koin itu sekarang dikenal sebagai koin Alexander Janus, kaisar ini berkuasa pada 103 -76 SM. Sekalipun saat kisah janda miskin ini terjadi pemerintahan Alexander sudah lewat, namun uangnya tetap bisa dipergunakan. Bahannya dibuat dari perunggu. Itu adalah mata uang yang nilainya sangat kecil, kalau sekarang ya uang recehanlah.
Lalu mengapa uang yang bernilai kecil itu menarik perhatian Yesus pada saat itu?
Jika bicara tentang persembahan, hal itu adalah pemberian sebagai tanda ucapan syukur yang kita ambil dari berkat yang sudah Tuhan beri. Biasanya orang memberikan persembahan diambil dari kelebihannya.
"Yang menjadi berbeda, ketika seorang janda miskin memberi dari kekurangannya."
Jadi persembahan itu tidak dilihat dari nilainya, tapi dari pengorbanan yang dilakukan saat memberikan persembahan itu.
Berapakan nilai koin dua peser itu?
1 keping koin Alexander Janus nilainya hanya 1/8 sen. Jika menggunakan kurs dolar, maka 1 keping koin janda miskin itu nilainya 1/8 dari Rp.13.500,- atau sekitar Rp.1.625,-. Jadi jika janda miskin itu memberi dua koin, maka total pemberiannya hanya Rp.3.250,- saja.
Tafsiran tradisional cerita ini cenderung untuk melihat kekontrasan perilaku ahli-ahli Taurat dengan janda itu, dan mendorong pemberian murah hati kepada Allah; sering dibaca bersama-sama 2 Korintus 9:7, "...sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."
Sebelumnya, di dalam Markus 7:10-13, Yesus menegur para ahli Taurat dan orang Farisi yang munafik karena memiskinkan orang tua.
"Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban--yaitu persembahan kepada Allah--, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."
Di bagian ini segera sebelum Yesus mengambil tempat duduk di seberang peti persembahan, Ia digambarkan mengutuk para pemimpin agama yang berpura-pura saleh, menerima hormat dari orang banyak, dan mencuri harta milik para janda. "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."
Para janda adalah penerima kasih dan belas kasihan Allah yang lembut dan ada catatan jelas mengenai pemeliharaan dan kasih Allah yang khusus bagi wanita yang hidup sendirian, baik karena ditinggal oleh suaminya maupun karena pasangannya meninggal dunia (Lukas 7:11-17; 18:2-8; 21:2-4; Markus 12:42-43). Para pemimpin agama yang membuat para janda menjadi miskin, ternyata juga mendorong para janda itu untuk memberi sumbangan di luar kemampuan mereka. Selain memuji kemurahan hati janda, Yesus mengutuk kedua sistem sosial yang membuat janda itu miskin, dan "...sistem nilai yang memotivasi tindakan tersebut, dan ia mengutuk orang-orang yang membuatnya melakukan hal itu."
Namun, Allah mengukur persembahan bukan dari jumlah yang dipersembahkan tetapi dari kasih, pengabdian, dan pengorbanan yang terkandung dalam persembahan itu. Yesus memberikan pelajaran tentang bagaimana Allah menilai pemberian:
1) Pemberian seseorang ditentukan bukan oleh jumlah yang ia berikan, tetapi oleh jumlah pengorbanan yang terlibat dalam pemberian itu. Sering kali orang kaya hanya memberi dari kekayaannya -- ini tidak meminta pengorbanan. Pemberian janda ini menuntut segalanya daripadanya. Ia memberi sebanyak-banyaknya yang dapat diberikannya.
Tuhan lebih memperhatikan hati dengan ketulusan seseorang dalam mempersembahkan. Yesus memperhatikan alasan apa dibalik seseorang dalam mempersembahkan, apakah mereka melakukannya untuk Tuhan atau hanya untuk dilihat sesamanya. Ketika giliran tatapan Yesus ke seorang janda yang sedang membawa persembahan. Yesus tahu bahwa janda itu mempersembahkan sungguh-sungguh dengan apa yang dia miliki. Yesus sangat memperhitungkan apa yang dilakukan janda tersebut, artinya bahwa apa yang diberikan oleh janda itu memiliki nilai lebih dari semua orang-orang kaya yang mempersembahkan. Sehingga terungkap bahwa; mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya. Nilai moral yang bisa dipetik dari cerita ini, tidak hanya sekedar ketulusan dalam memberi namun sebuah penghayatan kepada siapa kita mempersembahkan tanpa ada pamrih sedikitpun serta meletakkan kekawatiran akan kekurangan setelah mempersembahkan. Sebuah realitas kehidupan seorang janda yang perlu diteladani oleh kita semua.
Pelajaran dari kisah koin janda miskin
Persembahan janda miskin ini menjadi perhatian Yesus karena Dia mengetahui betapa besar pengorbanan wanita itu.
Karena kalau waktu itu dia hanya punya dua (koin) itu saja, setelah itu dia ngga bisa makan.
Jadi itulah yang Tuhan inginkan, agar kita ngga memikirkan diri kita, tapi apa yang kita persembahkan kepada Tuhan itulah yang berkenan di mata Tuhan.
2) Prinsip ini dapat diterapkan pada segala pelayanan orang beriman bagi Yesus. Ia menilai pekerjaan dan pelayanan orang tidak berdasarkan ukuran atau pengaruh atau keberhasilannya, tetapi berdasarkan kadar pengabdian, pengorbanan, iman, dan kasih yang tulus yang terlibat di dalamnya (lihat Lukas 22:24-30; Matius 20:26; Markus 12:42).
Ada beberapa pelajaran penting yang perlu kita perhatikan :
Pertama, Tuhan melihat apa yang tidak dilihat manusia. Ada banyak orang memberikan persembahan saat itu, bahkan mungkin murid-murid Yesus melihat ada orang-orang yang memberikan persembahan dalam jumlah besar. Tapi Yesus tertarik kepada persembahan yang sedikit dari seorang janda.
Kedua, penilaian Tuhan berbeda dari manusia. Jika manusia menilai dari jumlah materinya, namun Tuhan menilai dari seberapa besar pengorbanan yang diberikan janda itu saat memberikan persembahan.
Ketiga, Tuhan melihat iman. Wanita itu sekalipun miskin, dia tidak menjadi orang yang ingin menerima berkat saja, tapi memiliki hati untuk memberi. Selain itu, dengan memberikan segala yang ia miliki, wanita itu memiliki iman bahwa Tuhan sanggup memeliharanya. Dia percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang menyediakan.
Cerita tentang persembahan seorang janda miskin adalah cerita alkitab yang sangat istimewa. Peristiwa itu diawali dari bagaimana saat Yesus memperhatikan beberapa orang yang sedang memberi persembahan di gereja. Pastilah Yesus tidak hanya melihat apa yang dipersembahkan oleh orang-orang tersebut, tetapi lebih kepada mengapa dan bagaimana setiap orang dalam mempersembahkan. Pada saat tatapan Yesus tertuju kepada seorang janda, maka munculah perhatian yang sangat indah. Dikatakan suasananya indah karena Yesus melihat ada niat yang tulus yang dilakukan oleh janda tersebut. Janda itu terlihat bahwa mempersembahkan adalah sebuah penghormatan kepada dirinya, maka sikap yang diambil adalah tidak mengabaikan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan itu dan pasti yang terbaik yang dimilikinya.
Belajar dari cerita diatas, mari mulai belajar untuk mengerti bahwa :
Persembahan yang kita lakukan saat ini bukan lagi sebagai “korban” baik untuk penebusan dosa atau sebagai “alat” untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Jangankan sepersepuluh, mempersembahkan sepertiga atau setengah dari yang kita miliki pun tidak akan cukup untuk mensyukuri kebaikan Tuhan. Oleh karena itu Yesus tidak pernah menyinggung soal jumlah dalam hal persembahan.
Hal yang paling utama dalam persembahan adalah hati yang bersyukur. Persembahan juga sebagai wujud nyata pengakuan kita bahwa tanpa berkat Tuhan kita tidak bisa apa-apa.
Sebagai teman sekerja-Nya, maka persembahan adalah juga sebagai wujud nyata kesediaan kita untuk turut menopang pekerjaan Tuhan di dunia ini.
Wow, sangat menarik bukan fakta tentang koin janda miskin itu? So, selamat mempertahankan semangat mempersembahkan. Tuhan memberkati. Amin
🙏
Komentar