Langsung ke konten utama

Permenungan Sila Keempat Pancasila

Kita sampai pada permenungan sila keempat Pancasila: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemusyawaratan / perwakilan”. Kita bersama-sama diajak untuk menggali inspirasi, semangat dan gerakan bersama dalam keterlibatan aktif ikut serta membangun masyarakat Indonesia yang semakin demokratis yang dipimpin oleh semangat gotong royong dan persaudaraan yang telah menyatukan kita semua sebagai bangsa menyongsong masa depan yang penuh optimisme dan pengharapan.

Dalam setiap peristiwa dan pengalaman hidup, mau tidak mau kita harus memberi perhatian kepada setiap peristiwa dan pengalaman yang jumlahnya tidak terbilang.

Pernah, pada halaman pertama salah satu harian nasional, terpampang judul besar Kesadaran Moral Dirusak. Dalam ulasan itu disampaikan data sekian banyak tindakan tangkap tangan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap sekian banyak pejabat yang melakukan korupsi. Padahal tanggung jawab utama mereka adalah memastikan terwujudnya kesejahteraan warga masyarakat yang ada di wilayah pelayanan mereka. Pejabat-pejabat dan para pelaku korupsi itu pastilah tidak menjalankan amanah sila ke-4 Pancasila, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Mereka bukan pribadi-pribadi yang berhikmat dan bijaksana yang dapat diharapkan mampu menjadikan bangsa semakin bermartabat. Dikatakan bahwa yang paling parah dirusak oleh tindakan koruptif seperti itu adalah kesadaran moral. Ketika pemimpin berperilaku secara moral bermasalah, masyarakat dapat kehilangan orientasi nilai, tidak tahu lagi mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Kalau demikian kejahatan dapat dianggap sebagai hal yang rutin dan sehari-hari. Akibatnya mutu keadaban publik luntur atau bahkan rusak.

Sementara itu beredar pula berita dan gambar seekor ikan paus terdampar di salah satu pulau di bagian timur Indonesia dalam kondisi membusuk. Yang mengenaskan adalah hampir enam kilogram sampah plastik ditemukan di dalam perut ikan paus tersebut. Sampah plastik saat ini sudah menjadi masalah global yang perlu kita sikapi dengan sungguh-sungguh. Sampah plastik yang sudah mengurai menjadi butiran-butiran kecil, makin mencemari alam kita. Menurut penelitian, butiran-butiran plastik yang sangat kecil sudah ditemukan dalam tubuh manusia. Butiran-butiran itu masuk melalui air minum, makanan laut dan garam yang kita makan. Kita prihatin karena negara kita menjadi penyumbang sampah plastik kedua di dunia, dengan jumlah 64 juta ton setiap tahun, 3,2 juta ton di antaranya masuk ke laut.

Bagi semua jelaslah bahwa semua orang, bagaimana pun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kehidupan lebih baik. Dengan hidup lebih baik, juga dalam masyarakat di dunia ini, cara hidup menjadi lebih manusiawi.

Penjelasan sederhananya, kita bertumbuh melalui hal-hal kecil sehari-hari. Berikut contohnya : seorang Ibu pergi berbelanja, dan dia berjumpa dengan seorang tetangga, mulai berbicara, dan mulailah gosip. Namun dia berkata dalam hatinya ‘Tidak, saya tidak akan berbicara jelek mengenai orang lain’. Ini adalah satu langkah maju dalam menuju hidup lebih baik. Selanjutnya di rumah, salah satu anaknya ingin berbicara dengan dia mengenai harapan dan mimpi-mimpinya. Meskipun ia lelah, ia duduk dan mendengarkan dengan sabar, penuh perhatian dan kasih. Ini adalah pengorbanan lain yang mendatangkan kehidupan lebih baik. Berikutnya ia merasa cemas, tetapi ketika itu ia ingat akan Tuhannya, mengambil tasbih dan berdoa dengan penuh iman. Satu jalan lain lagi menuju kehidupan lebih baik. Berikutnya lagi, ia pergi ke jalan, berjumpa dengan seorang miskin dan berhenti untuk menyapa orang miskin itu. Satu langkah maju lagi dalam menuju hidup lebih baik.

Di atas adalah contoh yang amat konkret dan sehari-hari untuk  kita menuju hidup lebih baik. Kita mesti sadar untuk bertumbuh, serta menemukan jalannya dalam setiap pilihan dan keputusan yang kita ambil. Bukan memilih sekedar yang mudah dan menyenangkan, melainkan yang baik dan benar. Kita semua diajak – dalam konteks yang berbeda-beda – untuk menjawab pertanyaan ini : Apa yang harus kita lakukan, supaya kita menjadi semakin bertumbuh, dalam hikmat dan kebijaksanaan, sehingga hidup masyarakat kita menjadi semakin manusiawi? Jawabannya bisa bermacam-macam dan sangat konkret, misalnya dalam rangka merawat lingkungan hidup, kita pastikan keberlanjutan gerakan pantang plastik dan styrofoam.

Akhirnya, semoga segala niat dan usaha kita untuk bertumbuh dalam hikmat dan kebijaksanaan, menjadikan hidup kita, keluarga dan komunitas kita seberkas sinar dan ikut mengangkat martabat bangsa kita. Semoga segala pengorbanan dalam keterlibatan itu menjadi sumber kegembiraan kita.

Ibu Teresa Kalkuta memberikan nasihat bijak: “Tidak semua dari kita punya kesempatan melakukan hal yang luar biasa. namun satu hal yang pasti bisa kita buat adalah melakukan hal-hal yang biasa, tetapi dengan kasih yang besar / luar biasa”. Itulah yang membuat kita semakin berhikmat dan menjadi berkat bagi sesama.

Berkat Tuhan untuk Anda sekalian, keluarga dan komunitas Anda. Salam Kebangsaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...