Langsung ke konten utama

Kebohongan

Pernahkah Anda berjumpa atau menemukan seseorang yang menjalani hidup dengan kejujuran di dalam dunia ini? Artinya, tidak pernah berbohong selama hidupnya? Jawabannya sederhana saja, tidak ada. Yang ada, mungkin kejujurannya tidak sampai 100 persen, tetapi biasanya masih dianggap jujur.

Kecuali kalau memang kebiasaan dan perilakunya memang tidak jujur, bahkan memiliki hobi bohong dan membohongi orang. Nah, ini pasti akan disebutkan sebagai orang yang tidak jujur.

Mencari kata “bohong” di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun dapat dipahami sebagai sebuah sifat atau sikap yang tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya.

Kebohongan (juga disebut kepalsuan) adalah jenis penipuan dalam bentuk pernyataan yang tidak benar, terutama dengan maksud untuk menipu orang lain, seringkali dengan niat lebih lanjut untuk menjaga rahasia atau reputasi, perasaan melindungi seseorang atau untuk menghindari hukuman atau tolakan untuk satu tindakan. Berbohong adalah menyatakan sesuatu yang tahu tidak benar atau bahwa orang tidak jujur yakini benar dengan maksud bahwa seseorang akan membawanya untuk kebenaran. Seorang pembohong adalah orang yang berbohong, yang sebelumnya telah berbohong, atau yang cenderung oleh alam untuk berbohong berulang kali - bahkan ketika tidak diperlukan.

Berbohong biasanya digunakan untuk merujuk kepada penipuan dalam Komunikasi lisan atau Tertulis. Bentuk lain dari penipuan, seperti penyamaran atau Pemalsuan, biasanya tidak dianggap sebagai kebohongan, meskipun maksud yang mendasarinya mungkin sama. Namun, bahkan pernyataan yang sebenarnya dapat digunakan untuk menipu. Dalam situasi ini, itu adalah maksud yang keseluruhan berbohong daripada kebenaran pernyataan dari setiap individu yang dianggap kebohongan.

Kebohongan yang sering terjadi di dalam masyarakat kita antara lain sebagai berikut:

Berdusta dan Saksi Dusta. Berdusta berarti mengatakan yang tidak benar untuk menyesatkan. Dusta adalah pelanggaran paling serius terhadap kebenaran. Berdusta berarti berbicara atau berbuat melawan kebenaran untuk menyesatkan orang yang mempunyai hak untuk mengetahui kebenaran.

Rekayasa atau Manipulasi. Rekayasa atau manipulasi berarti menyiasati atau mengarahkan orang lain ke suatu tujuan yang menguntungkan dirinya sendiri, meskipun barangkali orang lain merugi. Rekayasa dan manipulasi bersifat mengelabui.

Asal Bapak Senang (ABS). Asal Bapak Senang (ABS) adalah kata-kata dan sikap manis yang dilakukan hanya sekadar untuk menyenangkan atasan, meskipun jauh dari kebenarannya. Kata-kata dan sikap itu hanyalah formalitas belaka.

Fitnah dan Umpatan. Fitnah dan umpatan ini sangat jahat, sebab yang difitnah tidak hadir dan tidak selalu mengetahuinya sehingga sering kali tidak dapat membela diri. Fitnah dapat berkembang tanpa saringan.

Ada bermacam-macam alasan yang mendorong orang untuk melakukan kebohongan, antara lain sebagai berikut:

  • Berbohong hanya sekadar iseng. Orang dapat berbohong hanya karena ingin menikmati kesenangan murahan. Orang merasa senang jika ada orang lain yang tertipu atau terpedaya.
  • Berbohong untuk memperoleh kepentingan tertentu. Para pedagang misalnya, kadang-kadang menipu supaya bisa mendapat untung lebih besar.
  • Berbohong karena takut dalam situasi terjepit. Untuk menyelamatkan diri dari situasi yang sulit ia terpaksa berbohong.

Bisa dimengerti juga kalau demikian, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang memiliki kejujuran 100%. Tetapi yang menarik adalah bahwa sesungguhnya ada satu pola perilaku setiap orang hampir sama dan perilaku itu mencerminkan ketidakjujuran hidup.

Tanyakan kepada seseorang bagaimana kabar mereka. Atau bagaimana perasaannya? Dan pertanyaan yang hampir sama dengan itu. Dan perhatikan apa jawaban yang diberikan. Jawabannya sama, atau hampir semua, yaitu "Baik-baik saja". "Saya baik-baik saja".

Apa yang salah dengan jawaban seperti itu, "baik-baik saja", "I am okay", "saya baik-baik saja", "I am fine".
Dan biasanya, orang yang bertanyapun juga tidak ambil pusing apakah betul atau tidak benar jawaban itu. Sebab, mungkin akan menjelaskan, bahwa itu hanya sebuah "basa-basi saja". Sapaan biasa saja, dan tidak ada maksud lain selain sekedar menyapa, daripada tidak menyapa sama sekali.

Setiap orang tanpa menyadari, terutama diawal kalau itu sikap dan jawaban yang salah. Tetapi terus saja dilakukan sepanjang hidupnya setiap ada orang yang bertanya apa kabar, bagaimana perasaannya. Dia akan memberikan jawaban yang bohong.

Jawaban seseorang yang mengatakan bahwa "baik-baik saja" sesungguhnya, mengandung banyak ironi bahkan kisah tragis yang sedang dialami oleh seseorang yang membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Padahal sesungguhnya, dia tidak sedang baik-baik saja. Dia tidak sedang sehat, dan dia sedang ada dalam sebuah persoalan besar dalam hidupnya.

Kenyataan ini banyak ditemukan dalam kisah hidup setiap orang. Antara pasangan suami dan istri, atau hubungan antara orang tua dengan anaknya, disana penuh dengan "kebohongan abadi". Saking abadinya kebohongan itu, sehingga ketika seseorang mengatakan yang sebenarnya, mau jujur dan tidak bohong, maka orang lain tidak menerima kenyataan itu. Akibatnya, lingkaran kebohongan itu terus menerus terjadi. Lalu menjadi kebiasaan yang dianggap bukan berbohong.

Adalah seorang Kimberli Davino  dalam menulis sebuah artikel dengan menjelaskan bagaimana kebohongan itu dilakukan oleh banyak orang tentang keadaan dan perasaan yang sebenarnya dialami ketika seseorang bertanya "bagaimana perasaanmu"?

  1. Sesungguhnya, "saya tidak baik-baik saja". Tetapi lebih mudah untuk mengatakan bahwa saya baik-baik saja daripada menjelaskan bagaimana perasaan saya sebenarnya.
  2. Sesungguhnya, "saya sedang berjuang". Tetapi  benar-benar tidak ingin Anda tahu itu karena itu membuat saya merasa lemah untuk menjalani perjuangan hidup saya.
  3. Saya tidak ingin Anda tahu bagaimana perasaan saya yang sebenarnya karena saya sudah bisa merasakan penghakiman dari orang lain terhadap yang saya alami.
  4. Kami tidak berada di tempat yang baik agar dapat diterima bagi saya untuk menjelaskan bagaimana perasaan saya yang sebenarnya.
  5. Sesungguhnya "saya sedang dalam keadaan jatuh". Tetapi mata saya terbuka dan saya berbicara kepada Anda, jadi itu berarti saya baik-baik saja.
  6. Saya tidak ingin belas kasihan Anda karena saya merasa tidak enak badan, dan saya tidak ingin Anda mencoba menyembuhkan saya dengan rasa pengasihan dari orang lain.
  7. Saya dalam penyangkalan diri dan ingin percaya bahwa saya benar-benar baik-baik saja. Di sisi lain saya mungkin terlalu lelah dan lemah untuk menjawab dengan hal lain selain saya baik-baik saja.
  8. Untuk sepersekian detik, saya mungkin benar-benar merasa baik-baik saja. Dalam satu saat itu, saya tidak mengalami kambuh atau rasa sakit. Itu tidak berarti saya baik-baik saja, tetapi itu berarti untuk sesaat itu, saya dapat tersenyum dan mencoba menangani hari saya.
  9. Kenyataannya adalah bahwa keadaan tidak baik tetapi saya ingin fokus agar tetap positif.
  10. Ketika saya mengatakan saya baik-baik saja, yang saya maksud sebenarnya adalah saya merasakan sakit yang mengerikan dan saya benar-benar ingin meringkuk dan menangis.
  11. Saya tidak ingin membebani Anda dengan masalah saya dan karenanya saya baik-baik saja.
  12. Sesungguhnya, saya hanya bisa mencoba berpura-pura normal.
  13. Saya baik-baik saja, artinya saya berjuang untuk melewati hari-hari berat dalam keadaan utuh.

Apa yang dikisahkan oleh Kimberly diatas, pada dasarnya juga dialami dan dijalani oleh hampir setiap orang. Bahwa sesungguhnya, ketika mengatakan baik-baik saja, itu adalah bohong karena keadaan sebenarnya tidak baik-baik saja

Manipulasi

Bohong adalah bentuk pertahanan diri. Seseorang mempertahankan diri saat merasa terancam di mana dalam konteks ini ego dalam diri sedang membaca situasi untuk kita keluar dari masalah. Kala kita berpikir terdapat konsekuensi yang merugikan dari suatu masalah itulah masa kita menciptakan sebuah mekanisme. Mengaburkan fakta, mengurangi atau melebihkan informasi atau memilih untuk bersikap sebaliknya dari yang seharusnya menjadi pertahanan diri yang kita kenal sebagai aksi berbohong.

Melakukan tindak kebohongan menjadi bagian dari tahap perkembangan setiap individu. Dari waktu ke waktu kita mempelajari teknik berbohong yang lebih lihai karena pengalaman-pengalaman yang terjadi sepanjang hidup. Dari umur 3-4 tahun saja kita sebenarnya sudah bisa berbohong atau halusnya memanipulasi. Contohnya jika seorang anak berkata tidak sebenarnya ketika ditanya sudah makan atau belum karena takut tidak boleh bermain. Inilah contoh bagaimana anak tersebut membuat kreasi pada sebuah situasi untuk memenuhi keinginannya. Bukan sengaja berbohong tetapi menciptakan kondisi untuk mendapat apa yang diinginkan.

Bertambahnya usia pun kita akan mengembangkan bentuk manipulasi karena banyaknya referensi lain yang kita pelajari. Jika dikaji lebih dalam setiap kebohongan itu memiliki motif. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, motif untuk merasa aman dari ancaman adalah salah satunya. Ketika kita beranjak dewasa kita akan punya lebih banyak motif seperti motif pencapaian. Motif ini secara tidak sadar kita miliki untuk mendapatkan apresiasi secara personal sebagai seorang individu. Pencapaian di mana kita tidak perlu berkompetisi dengan orang lain. Dalam pencapaian tersebut tentu saja akan terdapat banyak hal yang menghalangi. Di situlah sifat manipulatif kita bermain untuk membuat sebuah kreativitas demi mendapatkan apresiasi. Misalnya saja melebih-lebihkan suatu produk yang kita jual untuk seseorang tertarik membeli. Dalam hal ini tentu saja konsekuensi dari berbohong itu sendiri belum tentu berakibat negatif.

Ada pula motif bersosialisasi di mana mengharuskan kita untuk beradaptasi dan menyesuaikan karakter dengan berbagai pribadi yang ada di lingkungan tersebut. Ada kalanya kita tidak memiliki ciri yang ada di lingkaran itu sehingga mengharuskan kita memanipulasi keadaan. Contohnya saat sedang berada di lingkungan sosialita dan ditanya apakah tas yang kita beli asli atau tidak, kita menjawab asli padahal tidak. Demi mendapatkan pengakuan sosial atau menjalin afiliasi. Lain lagi dengan motif berkuasa yaitu situasi di mana kita melakukan tindak manipulasi untuk dapat mengarahkan banyak pihak, mengambil alih kekuasaan atau situasi secara mandiri. Dalam hal ini orang tersebut akan menciptakan situasi atau fenomena yang tidak ada di mana membuat seseorang takut dan tunduk terhadapnya.

Kebohongan sebagai sebuah nilai yang berkenaan erat dengan integritas.

Dampak dari sebuah kebohongan bisa jadi negatif dan positif. Meski bisa jadi berbohong dapat bertujuan positif tapi kita harus memahami kebohongan sebagai sebuah nilai yang berkenaan erat dengan integritas. Sehingga jika kita hendak mengucapkan kebohongan kita mengembalikan pada pertimbangan untuk merusak nilai integritas dalam diri sendiri.
Lebih jauh lagi, jika mekanisme memanipulasi keadaan sering dilakukan, seseorang akan hidup dalam realitas yang tidak sesungguhnya. Artinya adalah orang tersebut menjauhkan dirinya dari kapasitas, kemampuan dan potensi yang sebenarnya dimiliki. Apabila terus terjadi di mana secara spontan orang tersebut dapat berbohong secara spontan karena kebiasaan maka sifat berbohong akan melekat dalam dirinya. Menjadi sifat aslinya yang berdampak pada penolakan diri dan lingkungan yang sebenarnya. Semakin sering dia memanipulasi diri semakin sulit dia menerima diri sendiri. Efek jangka panjangnya adalah halusinasi dan delusi sehingga dia akan sulit memisahkan realita yang dihadapi dengan harapan yang ingin dipenuhi.

Kejujuran itu adalah nilai.

Mendeteksi seseorang berkata bohong atau tidak sebenarnya sangatlah sulit karena kejujuran itu adalah nilai. Tidak ada satupun alat ukur yang bisa memastikan untuk menentukan apakah seseorang jujur atau tidak. Kalaupun ada biasanya hanya memberikan prediksi kecenderungan. Contohnya pada ilmu grafologi di mana dari tulisan seseorang dapat dianalisa kecenderungan apa yang dimiliki orang tersebut. Apakah dia melakukan tindakan manipulatif? Tidak mudah ditemukan. Melalui tes kepribadian melalui gambar pun sama. Kita dapat menemukan indikasi nilai kejujuran yang dimiliki begitupun saat kita melihat bahasa tubuh seseorang seperti dari ekspresi dan gestur tubuh. Saat seseorang berkeringat, pupil mata membesar, bola mata tidak konsisten dan mata mengerling, bisa saja gejala tersebut adalah gejala kebohongan.

Pada dasarnya manusia digerakan oleh motif. Jadi yang sebenarnya bisa kita baca adalah motif. Saat kita sudah dapat membaca motif kita bisa mengarahkan seseorang untuk berkata yang sebenarnya. Akan tetapi kita sendiri harus melatih kemampuan komunikasi sehingga dapat secara persuasif mengalihkan ungkapannya ke arah yang lebih jujur. Kita pun harus mencari tahu strategi apa yang paling tepat untuk dapat mengarahkan seseorang dalam berkata jujur. Seseorang yang memiliki intelegensi tinggi, pengalaman sosial yang luas yang memungkinkan dia bertemu dengan banyak orang dan mengasah kemampuan manipulasinya sudah pasti tidak mudah untuk dibaca motifnya apalagi dialihkan.

Secara sederhana untuk dapat membaca orang-orang yang berada dalam tingkat tersebut kita pun harus memperkaya diri seperti banyak bergaul dan bersosialisasi. Sehingga memungkinkan kita memiliki peluang untuk membaca kecenderungan dan karakter orang lain. Ingatlah bahwa kita tidak bisa asal “menghakimi” karena kita hanya bisa membaca seseorang dari perilaku sehingga kita bisa membuat perbandingan antara perilaku satu orang dengan orang lain. Misalnya bagaimana tiga orang memberikan reaksi yang berbeda pada satu permasalahan yang sama. Selain itu banyak membaca buku-buku tentang bahasa tubuh serta pengetahuan budaya juga penting untuk mengasah kemampuan kita membaca perilaku seseorang. Mengetahui apakah budaya seseorang dalam keluarga atau lingkungannya terdapat kasus-kasus yang berkaitan dengan kebohongan atau manipulasi dapat membantu mendukung observasi kita pada orang tersebut.

Kejujuran memang menjadi barang yang sangat mahal, dan tidak mudah ditemukan dalam diri setiap orang. Dan karenanya, makna dan pengertian dari kejujuran itu semakin jauh dari apa yang sebenarnya.

Kejujuran dimaknai sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan setiap orang dalam memenuhi kebutuhan bersamanya. Akibatnya adalah maka makna kemanusiaanpun semakin keluar dari hakikat kehidupan itu sendiri.

Kejujuran lalu dimaknai menjadi kebohongan, dan kebohongan menjadi kejujuran. Ada pemutarbalikan nilai kehidupan, dan karenanya kedepan akan menimbulkan kekacauan sistem nilai.

Ini tidak boleh dibiarkan. Dan harus dikembalikan kepada hakikat kehidupan itu. Agar makna hidup yang sesungguhnya di rasakan oleh setiap orang. Sebab, kejujuran itu adalah tetap kejujuran, yaitu apa yang sesungguhnya terjadi itulah diungkapkan. Dan bukan sebaliknya, apa yang diungkapkan diupayakan agar seperti itu kenyataannya.

Memang, menjadi jujur tidak mudah. Tetapi ketika kejujuran telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian, maka hidup yang dijalani penuh makna dan bebas dari segala tekanan, dan beban psikologis. Karena apa yang diungkapkan apa adanya dan itulah jujur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...