Seorang penceramah agama, karena teknologi modern, dia mampu menjangkau pemirsa yang jauh lebih luas dan lebih banyak. Itu pulalah yang menjadi ukuran pengaruhnya.
Akhir-akhir ini ada penceramah terbelit kontroversi. Dalam salah satu ceramah yang kemudian diunggah ke internet, dia ditanya soal salib. Dia menjawab pertanyaan seorang hadirin tentang mengapa ketika melihat salib, hatinya menggigil. Dalam video setidaknya yang saya tonton, dia berusaha menjawab secara lucu. Dia mengatakan bahwa di dalam salib itu ada patung. Hadirin tertawa ketika dia berusaha memperagakan patung itu.
Dia adalah penceramah agama yang tidak garing. Dia humoris. Itulah sebabnya dia sangat populer. Sambil memperagakan patung itu, dia bertanya (patung itu) hadap ke kiri atau ke kanan. Tidak ada yang tahu. Hadirin tertawa lagi. Kali ini lebih keras.
Dia memberikan jawaban mengapa salib membuat hati pemirsanya menggigil: karena ada jin kafir pada patung di salib itu.
Sampai di sini, ceramah yang terjadi tiga tahun lampau itu menyeruak menjadi kontroversi. Sebagian orang Kristen (Protestan maupun Katolik) merasa tersinggung. dia dianggap sudah menghina kekristenan. Dia diadukan ke polisi. Awalnya di Nusa Tenggara Timur. Kemudian ke Mabes Polri.
Umat Kristen memiliki pandangan teologis yang berbeda dengan umat Islam dalam memandang salib. Itu sudah jamak kita ketahui.
Untuk umat Kristen khususnya Katolik, Corpus yang disinggung itu merupakan simbol patung tubuh Yesus yang bagi umat Katolik diyakini sebagai penggenapan nubuat para nabi akan Sang Mesias, pengajaran akan keadilan Allah, pengajaran kasih Allah dan pengingat untuk saling mengasihi.
Corpus Kristus itu diimani sebagai pengorbanan Kristus dalam pewartaan, wafat, dan kebangkitan Yesus. Pasalnya, tidak mungkin ada kebangkitan Kristus tanpa sengsara dan wafat-Nya disalib.
Namun, perbedaan pandangan teologis menjadi sangat lain ketika politik memainkan peranan. Dia mengeraskan pembelahan yang sebelumnya sudah terjadi di masyarakat kita. Sebagian politisi dan organisasi Islam mendukung penceramah ini. Tetapi ada pula kaum muslim yang tidak mendukung dengan beralasan bahwa dalam agama Islam tidak diperbolehkan menghina agama lain. Menjawab pertanyaan hadirin bisa dilakukan tanpa harus merendahkan atau menghina agama lainnya seperti yang tertuang dalam Kitab suci umat islam yang menjadi dasar hukum bagi penganutnya yaitu AL Qur'an
"Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan,"(Qs al-An'am : 108)
Pada zaman Rasullullah, umat Islam mencaci maki dan menghina berhala-berhala sesembahan kaum Quraish, akibatnya kaum Quraish membalas caci maki atau penghinaan itu dengan mengolok-olok agama islam sehingga menimbulkan pertikaian.
Kemudian turunlah surat Al-An'am ayat 108 tersebut yang melarang Rasullullah dan umat Islam mencaci maki, menghina, atau mengolok-olok sesembahan kaum Quraish.
Jika pernyataan penceramah ini dengan objek salib dan jin kafir membuat orang tersinggung maka ini bisa menjadi penghinaan, mungkin bagi umat Islam ini hanya seperti masalah biasa.
Sekali lagi, jika harus menjawab pertanyaan hadirin bukankah bisa dilakukan tanpa harus merendahkan atau menghina agama lainnya?
Sebaliknya disisi lain umat Kristen semakin merasa bahwa mereka diminoritaskan. Terutama jika dikaitkan dengan kasus Ahok di Jakarta dan Meilana di Tanjung Balai, Sumatera Utara.
Saya tidak mau masuk ke dalam tarik menarik politik yang menggunakan tali agama ini. Biarlah itu menjadi urusan orang-orang yang bergelut dalam politik kekuasaan.
Saya menonton tanggapan seorang pastur Katolik terhadap ceramah pemuka agama tersebut. Romo ini melihat bahwa apa yang dilakukan oleh bapak ini tidak lebih dari ujaran kebencian. Dia bertanya, sampai kapan umat Islam dan umat Kristen akan diadu terus menerus? Dia menduga bahwa ujaran-ujaran kebencian terhadap umat lain akan membuat sebuah ceramah makin populer.
Pastur ini tidak salah. Romo ini kemudian melanjutkan khotbah online-nya dengan mengatakan bahwa iman kristennya justru bertambah kuat karena mendengarkan ceramah bapak itu. Kekristenan itu sudah biasa dicela, dihina, diburu, dan bahkan dibunuh. Namun justru karena itulah iman Kristen itu tumbuh. Tanpa dikatakan secara langsung saya segera mengetahui bahwa pastur ini bicara tentang gereja purba. Pastur ini mengakhiri khotbahnya dengan mendoakan agar semua orang beriman mendapatkan kasih Tuhan.
Untuk saya, khotbah seperti ini tidak terlalu aneh. Ini adalah khutbah standar dalam gereja Katolik. Ini adalah khotbah pastoral yang selalu diakhiri dengan menunjukkan kasih Tuhan kepada manusia.
Yang baru hanyalah mediumnya, yakni Youtube. Sama seperti pak Somad, pastur ini menggunakan media baru ini untuk menjangkau pemirsa yang lebih luas. Dia menjangkau siapa saja yang mau mendengarkan.
Penggunaan media untuk melakukan syiar keagamaan sudah mulai sejak abad ke-20, terutama ketika ditemukan radio. Ia menjadi lebih intensif ketika muncul televisi. Ketika itulah muncul apa yang namanya Televangelist, penceramah agama di televisi. Televangelist memiliki pemirsa hingga jutaan dan bisa dengan cepat diakses di seluruh belahan dunia.
Pendeta Billy Graham dari Amerika Serikan adalah contohnya. Sama seperti Pak Somad, semakin luas jangkauannya, semakin gemuk jumlah pemirsanya, semakin tinggi pula pengaruhnya (dan, tentu saja, pundi-pundinya). Billy Graham diperlakukan seperti rock star ketika dia berkhotbah. Demikian juga pak Somad.
Media yang baru menuntut keterampilan yang baru pula. Saya ingat sejak KH Zaenuddin MZ, khotbah-khotbah keagamaan mulai menyelipkan humor-humor yang lucu. Kini cara penyampaian tidak melulu humoristik. Para pengkhotbah juga melengkapi dirinya dengan berbagai macam keterampilan. Ada yang pintar membangkitkan keharuan. Ada yang memotivasi. Ada yang pintar memunculkan kemarahan. Yang terakhir muncul menjelang Pilpres kemarin dan masih ada sampai sekarang.
Semua ini tidak terjadi di dalam Islam saja. Bahkan sebelum Islam, ia terlebih dahulu berkembang di gereja-gereja Kristen Protestan. Gereja Katolik (seperti biasa) agak terlambat. Hanya mungkin dua dekade terakhir ini muncul pastur-pastur yang memanfaatkan media-media baru ini. Tidak terlalu heran kalau kita melihat pastur menari. Khotbah-khotbah mereka menjadi semakin lucu dan menghibur. Pastur menjadi entertainer disamping menjadi gembala.
Pada intinya para penceramah yang memanfaatkan media-media baru ini, juga harus memahami efek dan pengaruh media-media baru ini, bahwa siapapun bisa mengakses, menyebarkan kontent atau membuat kontent mengenai isi ceramah mereka baik berupa gambar ataupun video, meskipun itu disampaikan di tengah komunitas masyarakat seagamanya, di dalam tempat ibadahnya, di tempat tertutup, di tengah umat seagamanya dalam kajian khusus, sehingga para penceramah ini bisa lebih menjaga isi ceramahnya agar tidak justru berpotensi memecah belah rasa persatuan bangsa. Bukan nantinya malah menjadi provokator yang sangat mungkin merusak rasa persatuan yang selama ini diperjuangkan, dirajut, oleh setiap anak bangsa. Dan tidak pula terlalu jauh membicarakan apa yang dia sendiri tidak paham, seperti teologi Katolik tentang Salib, tentang Sengsara dan Wafat Yesus di Salib, tentang Keselamatan. Seorang terpelajar tidak akan merendahkan martabat intelektualnya dengan merendahkan keyakinan orang lain.
Tokoh agama itu seharusnya menjadi terang yang mencerahkan dan garam yang memberikan rasa bagi hidup bersama di tengah keberagaman yang ada.
Para pemuka agama seharusnya mengedepankan rasa persatuan daripada provokasi perpecahan. Para pemuka agama seharusnya menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan persatuan.
Para pemuka agama harus menjadi suri tauladan dan edukator bagi umat dan masyarakat.
Sekali lagi... menanggapi viralnya video yang memperlihatkan Ustaz Abdul Somad menyinggung simbol salib Gereja Katolik, Umat Katolik tidak perlu risau dan reaktif. Ini saatnya kita menerapkan ajaran Kristus, yakni belas kasih, mengampuni sesama.
Akhir-akhir ini ada penceramah terbelit kontroversi. Dalam salah satu ceramah yang kemudian diunggah ke internet, dia ditanya soal salib. Dia menjawab pertanyaan seorang hadirin tentang mengapa ketika melihat salib, hatinya menggigil. Dalam video setidaknya yang saya tonton, dia berusaha menjawab secara lucu. Dia mengatakan bahwa di dalam salib itu ada patung. Hadirin tertawa ketika dia berusaha memperagakan patung itu.
Dia adalah penceramah agama yang tidak garing. Dia humoris. Itulah sebabnya dia sangat populer. Sambil memperagakan patung itu, dia bertanya (patung itu) hadap ke kiri atau ke kanan. Tidak ada yang tahu. Hadirin tertawa lagi. Kali ini lebih keras.
Dia memberikan jawaban mengapa salib membuat hati pemirsanya menggigil: karena ada jin kafir pada patung di salib itu.
Sampai di sini, ceramah yang terjadi tiga tahun lampau itu menyeruak menjadi kontroversi. Sebagian orang Kristen (Protestan maupun Katolik) merasa tersinggung. dia dianggap sudah menghina kekristenan. Dia diadukan ke polisi. Awalnya di Nusa Tenggara Timur. Kemudian ke Mabes Polri.
Umat Kristen memiliki pandangan teologis yang berbeda dengan umat Islam dalam memandang salib. Itu sudah jamak kita ketahui.
Untuk umat Kristen khususnya Katolik, Corpus yang disinggung itu merupakan simbol patung tubuh Yesus yang bagi umat Katolik diyakini sebagai penggenapan nubuat para nabi akan Sang Mesias, pengajaran akan keadilan Allah, pengajaran kasih Allah dan pengingat untuk saling mengasihi.
Corpus Kristus itu diimani sebagai pengorbanan Kristus dalam pewartaan, wafat, dan kebangkitan Yesus. Pasalnya, tidak mungkin ada kebangkitan Kristus tanpa sengsara dan wafat-Nya disalib.
Namun, perbedaan pandangan teologis menjadi sangat lain ketika politik memainkan peranan. Dia mengeraskan pembelahan yang sebelumnya sudah terjadi di masyarakat kita. Sebagian politisi dan organisasi Islam mendukung penceramah ini. Tetapi ada pula kaum muslim yang tidak mendukung dengan beralasan bahwa dalam agama Islam tidak diperbolehkan menghina agama lain. Menjawab pertanyaan hadirin bisa dilakukan tanpa harus merendahkan atau menghina agama lainnya seperti yang tertuang dalam Kitab suci umat islam yang menjadi dasar hukum bagi penganutnya yaitu AL Qur'an
"Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan,"(Qs al-An'am : 108)
Pada zaman Rasullullah, umat Islam mencaci maki dan menghina berhala-berhala sesembahan kaum Quraish, akibatnya kaum Quraish membalas caci maki atau penghinaan itu dengan mengolok-olok agama islam sehingga menimbulkan pertikaian.
Kemudian turunlah surat Al-An'am ayat 108 tersebut yang melarang Rasullullah dan umat Islam mencaci maki, menghina, atau mengolok-olok sesembahan kaum Quraish.
Jika pernyataan penceramah ini dengan objek salib dan jin kafir membuat orang tersinggung maka ini bisa menjadi penghinaan, mungkin bagi umat Islam ini hanya seperti masalah biasa.
Sekali lagi, jika harus menjawab pertanyaan hadirin bukankah bisa dilakukan tanpa harus merendahkan atau menghina agama lainnya?
Sebaliknya disisi lain umat Kristen semakin merasa bahwa mereka diminoritaskan. Terutama jika dikaitkan dengan kasus Ahok di Jakarta dan Meilana di Tanjung Balai, Sumatera Utara.
Saya tidak mau masuk ke dalam tarik menarik politik yang menggunakan tali agama ini. Biarlah itu menjadi urusan orang-orang yang bergelut dalam politik kekuasaan.
>>>>>
Saya menonton tanggapan seorang pastur Katolik terhadap ceramah pemuka agama tersebut. Romo ini melihat bahwa apa yang dilakukan oleh bapak ini tidak lebih dari ujaran kebencian. Dia bertanya, sampai kapan umat Islam dan umat Kristen akan diadu terus menerus? Dia menduga bahwa ujaran-ujaran kebencian terhadap umat lain akan membuat sebuah ceramah makin populer.
Pastur ini tidak salah. Romo ini kemudian melanjutkan khotbah online-nya dengan mengatakan bahwa iman kristennya justru bertambah kuat karena mendengarkan ceramah bapak itu. Kekristenan itu sudah biasa dicela, dihina, diburu, dan bahkan dibunuh. Namun justru karena itulah iman Kristen itu tumbuh. Tanpa dikatakan secara langsung saya segera mengetahui bahwa pastur ini bicara tentang gereja purba. Pastur ini mengakhiri khotbahnya dengan mendoakan agar semua orang beriman mendapatkan kasih Tuhan.
Untuk saya, khotbah seperti ini tidak terlalu aneh. Ini adalah khutbah standar dalam gereja Katolik. Ini adalah khotbah pastoral yang selalu diakhiri dengan menunjukkan kasih Tuhan kepada manusia.
Yang baru hanyalah mediumnya, yakni Youtube. Sama seperti pak Somad, pastur ini menggunakan media baru ini untuk menjangkau pemirsa yang lebih luas. Dia menjangkau siapa saja yang mau mendengarkan.
Penggunaan media untuk melakukan syiar keagamaan sudah mulai sejak abad ke-20, terutama ketika ditemukan radio. Ia menjadi lebih intensif ketika muncul televisi. Ketika itulah muncul apa yang namanya Televangelist, penceramah agama di televisi. Televangelist memiliki pemirsa hingga jutaan dan bisa dengan cepat diakses di seluruh belahan dunia.
Pendeta Billy Graham dari Amerika Serikan adalah contohnya. Sama seperti Pak Somad, semakin luas jangkauannya, semakin gemuk jumlah pemirsanya, semakin tinggi pula pengaruhnya (dan, tentu saja, pundi-pundinya). Billy Graham diperlakukan seperti rock star ketika dia berkhotbah. Demikian juga pak Somad.
Media yang baru menuntut keterampilan yang baru pula. Saya ingat sejak KH Zaenuddin MZ, khotbah-khotbah keagamaan mulai menyelipkan humor-humor yang lucu. Kini cara penyampaian tidak melulu humoristik. Para pengkhotbah juga melengkapi dirinya dengan berbagai macam keterampilan. Ada yang pintar membangkitkan keharuan. Ada yang memotivasi. Ada yang pintar memunculkan kemarahan. Yang terakhir muncul menjelang Pilpres kemarin dan masih ada sampai sekarang.
Semua ini tidak terjadi di dalam Islam saja. Bahkan sebelum Islam, ia terlebih dahulu berkembang di gereja-gereja Kristen Protestan. Gereja Katolik (seperti biasa) agak terlambat. Hanya mungkin dua dekade terakhir ini muncul pastur-pastur yang memanfaatkan media-media baru ini. Tidak terlalu heran kalau kita melihat pastur menari. Khotbah-khotbah mereka menjadi semakin lucu dan menghibur. Pastur menjadi entertainer disamping menjadi gembala.
Pada intinya para penceramah yang memanfaatkan media-media baru ini, juga harus memahami efek dan pengaruh media-media baru ini, bahwa siapapun bisa mengakses, menyebarkan kontent atau membuat kontent mengenai isi ceramah mereka baik berupa gambar ataupun video, meskipun itu disampaikan di tengah komunitas masyarakat seagamanya, di dalam tempat ibadahnya, di tempat tertutup, di tengah umat seagamanya dalam kajian khusus, sehingga para penceramah ini bisa lebih menjaga isi ceramahnya agar tidak justru berpotensi memecah belah rasa persatuan bangsa. Bukan nantinya malah menjadi provokator yang sangat mungkin merusak rasa persatuan yang selama ini diperjuangkan, dirajut, oleh setiap anak bangsa. Dan tidak pula terlalu jauh membicarakan apa yang dia sendiri tidak paham, seperti teologi Katolik tentang Salib, tentang Sengsara dan Wafat Yesus di Salib, tentang Keselamatan. Seorang terpelajar tidak akan merendahkan martabat intelektualnya dengan merendahkan keyakinan orang lain.
Tokoh agama itu seharusnya menjadi terang yang mencerahkan dan garam yang memberikan rasa bagi hidup bersama di tengah keberagaman yang ada.
Para pemuka agama seharusnya mengedepankan rasa persatuan daripada provokasi perpecahan. Para pemuka agama seharusnya menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan persatuan.
Para pemuka agama harus menjadi suri tauladan dan edukator bagi umat dan masyarakat.
Sekali lagi... menanggapi viralnya video yang memperlihatkan Ustaz Abdul Somad menyinggung simbol salib Gereja Katolik, Umat Katolik tidak perlu risau dan reaktif. Ini saatnya kita menerapkan ajaran Kristus, yakni belas kasih, mengampuni sesama.
Komentar