Langsung ke konten utama

Jika Lagi Galau dan Sedih....

Kalau orang-orang lain lagi galau, aku pasti bantuin mereka dan hibur mereka. Tapi, yang sering kali orang enggak tahu, aku sendiri malah balik ke kamar dan nangis-nangis.

Kalau aku lagi sedih, aku males ketemu orang. Kalau misalnya aku diajak keluar, aku bikin-bikin aja alasan. Keluargaku pun enggak tahu kalau aku lagi sedih. Mereka pikir aku baik-baik aja.

Apakah kamu pernah merasa seperti itu? Kalau ya, jangan langsung menganggap diri aneh. Tidak ada orang di dunia ini yang merasa gembira terus. Bahkan tokoh-tokoh di kitab suci pun, baik pria maupun wanita, pernah merasa sedih.

Kadang, kita mungkin tahu kenapa kita sedih, tapi kadang juga tidak. Kadang kita bisa sedih meskipun enggak ada kejadian yang parah-parah banget. Itu bisa melanda kita kapan aja, sekalipun hidup kita fine-fine aja. Memang aneh sih, tapi nyata!

Tidak soal apa yang bikin kita sedih, hanya bagaimana kita bisa mengatasinya?

Kita bisa curhat sama seseorang. Setelah curhat sama seseorang, kita akan merasa legaaa banget. Akhirnya ada yang bisa ngerti perasaan kita. Tetapi dalam hal ini kita juga harus memilih seseorang yang tepat untuk tempat curhat dan yang bisa dipercaya.

Kalau kita dirundung perasaan sedih, kita mungkin bisa menuliskannya. Kadang menuangkan kesedihan kita., dengan menuliskan perasaan kita, membuat kita bisa tetap berpikiran jernih. Dengan nulis perasaan kita, kita bisa mengurai pikiran kita yang kusut gara-gara selama ini sedih terus. Kalau kita bisa menuangkan perasaan kita dan menemukan akar masalahnya, kesedihan kita bisa reda.

Bawa dalam doa masalah kita, kedamaian dari Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita. Doa itu besar lho pengaruhnya! Jadi jangan dianggap remeh.

Kalau berdoa, cobalah untuk curhat sama Allah dan minta Dia bantu kita untuk cari tahu penyebab kesedihan kita.

Selain itu, kita sebagai umat beragama juga sebenarnya punya bimbingan yang bisa diandalkan, yaitu Kitab Suci. Kalau baca Kitab Suci, ada banyak hikmah yang bisa kita ambil. Dan, itu juga bisa bikin perasaan kita jadi lebih baik.​

Ingatlah selalu kata-kata ini, "Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. " (Mazmur 34:18-19)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...