Langsung ke konten utama

Gerakan Mengaji

Bermula dari himbauan ibu Camat yang ingin menggalakkan gerakan gemar mengaji bagi masyarakat luas, utamanya bagi generasi muda,  yang diaplikasikan melalui beberapa kegiatan, dimana salah satunya melalui himbauan untuk mengaji seusai sholat Maghrib.

Sebagai ketua PKK saat himbauan tersebut diteruskan kepada kami, saya sangat menyengkuyung, sebab saya sangat ingin agar generasi penerus di RT 17 nantinya mampu menjadi generasi yang cerdas dan beriman.

Berhubung di lingkungan kami sudah ada les ngaji yang diikuti oleh banyak anak RT 17, maka kami menggagas untuk mengajak, mengumpulkan ibu-ibu di RT 17 tiap hari Jum'at usai Maghrib atau Isya berkumpul di rumah salah satu pengurus PKK, bukan sekedar berkumpul dan mengobrol, tetapi untuk belajar mengaji.

Bukan mengaji dengan berlatih mengalunkan ayat-ayat Al quran dengan indah layaknya profesional. Melainkan memulai di level iqra.

So seoanjutnya, lantunan ayat suci Al Quran terdengar setiap hari Jum'at dari rumah salah satu pengurus kami yang kebetulan rumahnya tak terlalu jauh dari rumah kami. Salut untuk ibu-ibu ini,  yang tetap tak patah semangat membaca lembar-lembar Al quran.

Kegiatan mengaji bersama ini dibuat sebagai media pembelajaran para ibu.
Dan salut, ibu-ibu ini tidak malu meskipun harus mengaji di level paling rendah. Mereka bahkan saling memotivasi satu sama lain untuk segera menyelesaikan tingkatan belajar membacanya.

Awalnya di lingkungan kami sebulan sekali, kemudian meningkat menjadi sebulan dua kali ada pengajian rutin. Kemudian, sehubungan dengan adanya himbauan dari ibu Camat tersebut, kami menawarksn untuk mengadakan kegiatan belajar ngaji dan mereka mau. Akhirnya ya jadilah ibu-ibu ini belajar bersama, meskipun tidak banyak yang gabung. Prediksi sementara adalah kurangnya promosi pada kegiatan ini dan masih ada ibu-ibu yang malu, karena merasa diri ikut belajar mengaji karena belum lancar membaca Al Quran. Bahkan mengulang di level iqra. Padahal harapan kami, dengan belajar bersama ibu-ibu, (tetangga), bisa menimbulkan suasana nyaman. Dan saya, dalam kesempatan ini juga bersyukur, bahwa kumpulan ibu-ibu belajar ngaji ini sudah hampir selesai Iqra. Harapan saya, nantinya meningkat menjadi bisa baca Al Quran.

Ada lagi setelah ini yang saya inginkan, ibu-ibu diajarkan bacaan doa dan bacaan shalat, bagi yang belum paham dan mengadakan lomba mengaji tingkat RT untuk ibu-ibu 😊. Tetapi kata pengurus lain, ini adalah hal mustahil. Hahaha...maybe yes maybe no, karena tidak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Jika itu kelakon di saat saya sudah tidak menjabat ketua, pun tak apa. Karena menjadi pengurus, bukan tentang prestise seputar diri sendiri, tetapi tentang bring something good and valuable to other people.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...