Langsung ke konten utama

Nikah Dengan Yang Cantik/Tampan Untuk Memperbaiki Keturunan, Benarkah?

Beberapa waktu yang lalu, kita dihebohkan dengan pernikahan seorang lelaki Magelang dan bule perempuan dari Inggris. Sebetulnya, pernikahan antar negara ini bukan menjadi hal aneh di Indonesia. Hal ini sudah terjadi berulang kali. Namun, tampaknya pernikahan mereka menjadi heboh, dikarenakan ada kesan yang mendeskreditkan sosok pria yang berhasil mendapatkan sang perempuan bule tersebut.

Apalagi di berbagai pemberitaan, judul yang sering digunakan adalah, ‘Pria asal Magelang ini—berhasil—nikah dengan bule cantik dari Inggris.’

Hal ini semakin dibuat heboh dengan dihiasi foto-foto yang menampakkan perbedaan warna kulit dan fisik mereka. Tak lupa, ditambahi bumbu-bumbu cerita tentang perbedaan status sosial ekonomi di antara keduanya. Tak mengherankan, dengan narasi ini, masyarakat seolah-olah kompak menganggap bahwa: sang lelaki sungguh beruntung sekali mendapatkan perempuan bule tersebut.

Eh, tapi tunggu dulu. Bolehkah kita tidak mudah menyimpulkan sesuatu hanya dari ‘sesuatu yang tampak’? Pasalnya, bisa jadi ada narasi lain yang tidak kita ketahui, jika ternyata…

…sang perempuan bule yang merasa beruntung dengan pernikahan tersebut. Atau justru keduanya merasa beruntung mendapatkan satu sama lain. Kita tidak pernah tahu, kan? Lantas, mengapa dengan mudahnya menganggap bahwa sang lelaki lebih beruntung?


Dengan kejadian yang cukup bikin ramai tersebut—bahkan saking hebohnya—banyak orang yang kemudian berkomentar semacam ini,

“Aku juga pengin bisa nikah sama bule. Biar bisa memperbaiki keturunan.”

Namun benarkah sesederhana itu yang akan terjadi nanti ?

Prof Joshua. T. Mendell, Phd, seorang pakar Biologi Molekular dari John Hopkins University di Baltimore - USA  sangat terkenal dengan teori yang dikemukakannya yakni teori atau hukum Hereditas. Semua anak SMA terutama yang mengambil jurusan IPA pasti mengenal materi teori Hereditas Mendell ini melalui mata pelajaran Biologi.

Sederhananya, teori ini menjelaskan tentang prinsip pewarisan sifat dari induk kepada anaknya (keturunannya). Jika misalnya kita menyilangkan kembang Sepatu berwarna putih dengan kembang Sepatu berwarna merah, maka kombinasi warna bunga yang kemungkinan akan dihasilkan oleh keturunannya adalah : kembang Sepatu berwarna merah atau putih atau pink. Itu dalam keadaan normal. Namun selalu ada penyimpangan di alam semesta ini. Belum tentu warna yang dihasilkan sesuai dengan yang disebutkan dalam teorinya. Kadang kembang yang dihasilkan malah berwarna Pink keunguan, Putih berbelang-belang Merah, atau Merah bertotol-totol Putih. Nggak jelas gitu. Semua itu sangat tergantung pada berbagai faktor penyebab semisal :  induk mana yang merupakan galur murni, gen mana yang dominan dan gen mana yang resesif, dsb. Jadi wajar kalau sifat individu yang dihasilkan malah berbeda sama sekali dengan sifat induknya.

Jika teori Hereditas dari Mendell itu dihubungkan dengan cita-cita mulia para pemilik wajah non cakep yang menikahi cakepwan/ cakepwati untuk mendapatkan keturunan yang rupawan, maka jangan kecewa jika hasilnya justru sangat jauh dari yang dibayangkan semula.

Misteri pewarisan sifat  seperti yang diungkapkan Mendell semakin menampakkan keragamannya ketika diterapkan dalam keseharian. Sebagai buktinya, sering kita lihat banyak   orang yang berwajah tidak cakep ketika menikah dengan perempuan cantik, justru menghasilkan anak yang wajahnya copas wajah ayahnya. Artinya  misi memperbaiki keturunan tidak semulus perkiraannya. Atau sebaliknya, banyak juga kita lihat suami –istri yang keduanya berwajah tidak cakep justru punya anak cakep-cakep. Juga pasangan suami –istri yang wajahnya ganteng-cantik, malah punya keturunan yang wajahnya sama sekali tidak cakep. Aneh kan.

Dalam kasus seperti itu jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ibunya pasti sudah berselingkuh dengan tetangga, makanya wajahnya jadi beda. Tidak boleh begitu, jangan menuduh sembarangan, kata Nenek bisa kuwalat nanti.  Penjelasan sederhananya seperti ini : Sifat manusia itu diwariskan melalui gen orang tuanya dari generasi ke generasi tanpa putus. Kadang gen tersebut memunculkan penampakannya kadang juga tidak. Namun demikian gen tersebut eksis dan menetap dalam darah keluarga tersebut secara terus menerus dari generasi ke generasi, yang  pada suatu saat  nanti sifat ini akan menunjukkan dirinya entah di turunan keberapa. Ini yang menyebabkan kadang wajah anaknya beda jauh dengan wajah orang tuanya.

Bukan hanya wajah non cakep yang merupakan sifat dominan, masih banyak lagi sifat genetis yang meski sudah melalui puluhan generasi tetap saja muncul dalam diri individu anak cucu keturunannya. Sifat dominan ini misalnya  intelegensia rendah alias lola, penyakit buta warna, Hemofilia, sifat -sifat ras Mongoloid (orang Chinese married sama bangsa apapun, anaknya pasti kelihatan Chinese nya ), alergi terhadap protein tertentu,penyakit asma,  dan masih banyak lagi.

Memang tidak masalah mempunyai wajah tidak cakep, otak tidak briliyan, atau punya penyakit buta warna. Bukankah kita terlahir tanpa dapat memesan pada Pencipta kita, ingin dengan rupa apa kita dilahirkan ke dunia ini ? Semua yang ada pada diri kita adalah pemberian Allah, yang sudah menjadi keniscayaan alam.  Kita hanya tinggal mensyukuri dan merawat saja dengan sebaik-baiknya. Toh pada akhirnya semua kekurangan itu dapat ditutup dengan kebaikan hati, dengan etika dan akhak yang baik, atau dengan harta yang banyak melalui kerja keras pantang menyerah.

Jangan terlalu percaya diri bahwa jika kita menikah dengan orang yang cakep, atau menikah dengan Profesor yang jenius maka anak kita kelak akan cakep atau jenius. Belum tentu. Untuk masalah ini kita benar-benar tak dapat menduganya. Soal akan seperti apa keturunan kita kelak sungguh tak semudah menghitung sistem persamaan linear, akan berapa bilangannya dalam langkah kesekian. Karena jangankan kita, Profesor Mendell saja menyerah dengan komposisi dan rasio hasil persilangan yang sering diluar dugaan

Ya tentu boleh-boleh saja mengharapkan sesuatu yang baik dalam hidup ini, namun jangan pernah melupakan bahwa Allah, Tuhan pencipta kita itu memiliki kehendak Nya sendiri. Kita hanya dapat berdoa, semoga Allah memberi kita keturunan yang  jauh lebih baik. Jadi, seperti apapun wajah kita, cakep, sedang atau dibawah sedang, tetaplah berdoa yang terbaik dan menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta. Bersikap terlalu ambisius dan sok yakin kadang hanya mendatangkan  kekecewaan saja.

Semoga semua makhluk berbahagia

Berkah Dalem

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...