Langsung ke konten utama

Merancang Bagaimana Mengatur Uang Pesangon

Memang belum mendapat kabar pasti, apakah benar bakalan akan menerima gaji terakhir plus sejumlah uang pesangon lantaran kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari perusahaan karena bisnis unit yang menaunginya akan dijual kepada perusahaan lain, bagaimanapun saya berusaha dan belajar untuk tidak panik dan meyakini bahwa langit tidak runtuh karenanya.

Masih ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan masa tidak tenang ini. Paling tidak mesti menyiapkan dan menyesuaikan beberapa agenda finansial baru. Antara lain mengatur dan menyesuaikan pengeluaran, dan mencari pengganti penghasilan yang hilang.

Melunasi utang (jika ada) dan menghindari pinjaman yang bersifat konsumtif. Serta memanfaatkan dana pesangon dari perusahaan.

Dana yang diterima dari perusahaan merupakan uang terakhir yang diberikan perusahaan. Oleh karena itu, mesti mengelola pesangon dengan sebaik-baiknya.

Hal terpenting yang perlu dilakukan segera setelah terkena PHK adalah menurunkan gaya hidup dan segera mencari sumber pemasukan baru. Karena berapa pun uang pesangon yang diterima, jika tidak dikelola dengan sangat hati-hati tentu akan cepat habis. Tentunya hal ini akan sangat gawat.

Nantinya harus bisa mengatur budget untuk kebutuhan belanja selama 3 bulan ke depan.

Asumsinya, dalam 3 bulan sudah bisa mendapatkan sumber penghasilan baru. Budget untuk konsumsi selama 3 bulan (termasuk cicilan utang seperti KPR atau kartu kredit) adalah 70 persen dari total pesangon. Sisanya, alokasikan sebagai tabungan dan investasi.

Menyisihkan dana cadangan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama mencari pekerjaan baru atau penghasilan pengganti yang sifatnya tetap dan rutin setelah PHK terjadi. Besarnya dana cadangan bisa diambil dari uang pesangon. Misalnya, 6-12 kali pengeluaran per bulan.

Contoh, jika uang pesangon yang diterima sebesar Rp 200 juta, dan pos pengeluaran per bulan mencapai Rp 10 juta, maka porsi dana cadangan yang harus disisihkan dari uang pesangon tadi antara Rp 60-120 juta.

Menyisihkan uang pesangon untuk biaya hidup minimal 3 bulan ke depan dalam bentuk tabungan, sebab bisa diambil sewaktu-waktu.

Menggunakan sebaik dan sebijak mungkin, serta benar-benar untuk biaya hidup sehari-hari. Jangan sampai untuk hal-hal di luar itu.

Kendati perputaran uang tidak terlalu signifikan dibanding investasi, namun cara ini relatif lebih aman ketimbang menyimpan uang kontan di rumah.

Langsung memotong 20-30 persen dana untuk kebutuhan investasi. Untuk investasi, bisa menggunakan instrumen yang kurang likuid, seperti deposito.

Langkah selanjutnya adalah mencari deposito yang menawarkan jangka waktu pendek. Fungsi investasi ini juga menjadi dana cadangan jika rencana selama 3 bulan tidak berjalan dengan baik.

Bunga deposito memang tidak sebesar return investasi lainnya, namun tujuan menyimpan di deposito adalah untuk menyambung hidup selama belum memperoleh pekerjaan atau pemasukan yang menyamai penghasilan terakhir kali.

Menyimpan uang di deposito selain menghasilkan bunga lumayan, juga tak mudah diambil. Jika menarik uang deposito di luar waktu jatuh tempo, bisa dikenai penalti. Lagipula jika menyimpan sisa uang pesangon di tabungan, besar kemungkinan tergoda untuk memakai uang tadi.

Kemudian menurunkan pengeluaran rutin bulanan, maksimal 80 persen dari gaji saat masih bekerja. Cara ini sudah termasuk cicilan KPR dengan total alokasi sebesar 48 persen dari pesangon. Menyiapkan dana ini minimal untuk 3 bulan ke depan.

Setelah itu, segera melunasi utang kartu kredit. Namun jika dana tidak mencukupi, menekan pokok utang tersebut dan menyicil seluruh utang kartu kredit sebesar 15 persen dari gaji saat bekerja. Menyiapkan dana ini minimal untuk 3 bulan ke depan.

Setelah uang pesangon ada di tangan, harus segera menurunkan gaya hidup dan segera mencari sumber pemasukan baru. Sebab, berapa pun dana pesangon yang diterima akan cepat habis jika tidak dikelola dengan sangat hati-hati.

Menyesuaikan tingkat konsumsi dengan kondisi keuangan. Jika perlu, tekan pengeluaran hingga maksimal 80 persen dari konsumsi normal.

Caranya, dalam 3 bulan ini kuantitas makanan, terutama jajanan (di luar makanan pokok) harus diturunkan. Menghilangkan belanja sekunder maupun tersier seperti nonton film, makan di restoran, atau belanja pakaian di mal. Harus mampu menetapkan prioritas keuangan dalam kondisi sulit seperti ini.

Kemudian sebagian sisa dana pesangon dialokasikan untuk investasi, sambil berusaha mencari pekerjaan baru, mengalokasikan dana untuk kebutuhan sehari-hari dan mencicil utang. Dengan demikian, uang pesangon tidak habis dalam sekejap untuk dikonsumsi.

Menyiisihkan minimal 15 persen dari pesangon untuk investasi jangka pendek, menengah atau panjang, tergantung kebutuhan. Menempatkan pada instrumen investasi yang tepat. Memilih salah satu di antara jenis investasi seperti reksadana, emas, atau properti.

Investasi berbeda dengan tabungan atau deposito yang hanya berbunga sedikit dan tak cukup untuk membendung laju inflasi. Investasi reksadana misalnya, pada umumnya akan menghasilkan keuntungan yang lebih dari inflasi.

Namun harus diingat bahwa investasi memiliki prinsip, yakni risiko berbanding lurus dengan keuntungan. Maka dari itu, makin kecil risiko, berarti makin sedikit keuntungan yang bisa diraih. Jadi harus mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan berinvestasi.

Ini adalah "plan B" atau rencana cadangan. Saat dalam 3 bulan belum memiliki penghasilan yang sepadan dengan pekerjaan lama, berarti harus menjalankan rencana cadangan, seperti mencari sumber penghasilan baru melalui bisnis. Dimulai dari usaha kecil-kecilan, dan jalani sesuai dengan minat dan kompetensi..

Mengalokasikan 20 persen dari total uang pesangon untuk modal usaha. Uang pesangon untuk alokasi ini sudah termasuk untuk cadangan tambahan modal minimal 3 bulan. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga jika hasil usaha tidak sesuai dengan perencanaan.

Jika rencana mencari pekerjaan baru selama 3 bulan tidak lancar, begitu juga dengan usaha yang masih kembang-kempis, maka jalan selanjutnya yang harus dilakukan adalah menjual aset yang likuid untuk modal tambahan bisnis. Namun ini merupakan jalan paling akhir.

Apabila terbentur kurang modal, cara jitu yang bisa dilakukan adalah mengajak teman-teman yang bernasib sama untuk bergabung membuat usaha baru.

Di samping mendapatkan modal usaha yang besar, perasaan senasib sepenanggungan akibat PHK dapat menjadi strategi menguatkan kekompakan.

Semakin kreatif dan banyak ide, maka semakin terbentang jalan mulus untuk menyongsong masa depan yang cerah. PHK bukan berarti berhenti berusaha. Tetap semangat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...