Langsung ke konten utama

Jalan Berbeda

Setiap saat dan setiap waktu kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Bahkan di setiap langkah kaki kita juga dihadapkan pada banyak pilihan, mau lurus atau belok, mau belok ke kanan atau ke kiri, mau maju atau mundur. Kita selalu dikelilingi dengan banyak pilihan.

Dan diri kita yang memegang kendali penuh dalam setiap keputusan dalam membuat pilihan. Hanya saja masalah yang kerap kita hadapi saat membuat pilihan adalah mendengar suara hati dan keinginan terdalam kita sendiri. Kita lebih sering tergoda untuk membuat suatu pilihan karena orang lain membuat pilihan tersebut. Kita kerap cari aman mengambil sebuah keputusan karena banyak orang mengambil keputusan yang sama tersebut.

Lalu, bagaimana jika kita ingin memilih jalan berbeda? Apakah salah jika kita memilih jalan yang berbeda dari orang lain?

Hidup kalau tak bisa bahagia, ah pasti sayang sekali rasanya. Hidup cuma sekali. Kalau tak bisa bahagia dengan cara yang kita inginkan, akan sia-sia rasanya melewati setiap detik waktu yang ada. Tak bisa memang kita membahagiakan dan memuaskan keinginan semua orang. Tak pernah kita bisa benar-benar sempurna melakukan yang terbaik demi orang lain. Karena pada akhirnya kita bisa merasa lelah sendiri.

Ada banyak jalan dan pilihan yang tersedia. Bisa saja kita memilih jalan yang tak mulus. Tak sepenuhnya lurus. Bahkan ada banyak kelokan dan kesulitan yang akan kita hadapi di depannya. Tapi justru dari situ kita bisa mengetahui dan merasakan makna hidup yang sesungguhnya. Kita merasa benar-benar hidup. Mendapatkan banyak pengalaman baru dan pelajaran berharga yang penting. Hingga pada akhirnya kita bisa tumbuh jadi pribadi yang lebih dewasa dan matang.

“The path to our destination is not always a straight one. We go down the wrong road, we get lost, we turn back. Maybe it doesn't matter which road we embark on. Maybe what matters is that we embark.”
― Barbara Hall

Apapun pilihan dan jalan yang kita ambil pastilah ada konsekuensinya. Ada tanggung jawab dan dampak yang terjadi. Tinggal bagaimana cara kita untuk menghadapi semua konsekuensi dari pilihan yang kita ambil. Dan memang kita berharap setiap pilihan yang kita ambil memberi kebaikan untuk kita. Enak dan enggak enaknya, suka dan dukanya, semua pasti ada di setiap pilihan yang ada di depan mata.

Wajar jika kita memilih pilihan dan mengambil keputusan yang berbeda dari orang kebanyakan kemudian tidak ada seorangpun yang berani mengikuti langkah kita.

Kita boleh berani untuk mengambil jalan yang berbeda, tapi sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku di sekitar kita. Dan menolak jika orang lain memaksakan kita mengambil pilihan yang dilarang oleh agama dan aturan di suatu negara. Berani berbeda, tapi tidak dengan menyalahi aturan.

Saatnya untuk menjadi air mengalir yang bisa memberi manfaat untuk semua hal yang dilewati. Jangan sampai kita menjadi batu yang malah menghalangi jalan orang lain. Apapun jalan yang kita ambil, semoga bisa memberi banyak kebaikan. Kebaikan untuk diri sendiri juga orang lain.

“Be like a water who creates his own path don't be like a stone who stops everyone's path”
― Awais Aman

Tak apa memilih jalan yang berbeda. Kita mungkin akan dianggap “aneh” oleh orang-orang di sekitar kita. Tak apa 😊. Tak masalah jika jalan yang kita pilih berbeda dari orang-orang di sekitar kita. Kita mungkin akan dihina dan tidak mampu menjalani pilihan yang kita pilih. Tak apa, asal kita memang bisa berkomitmen melakukan yang terbaik di jalan yang kita ambil tersebut.

Tak apa jadi berbeda atau memilih jalan yang berbeda karena yang menentukan kebahagiaan itu tak lain adalah diri kita sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Ketika Piring Pecah: Fenomena Sederhana yang Menarik Perhatian

Pernahkah kamu menaruh dua piring nasi panas di meja, lalu beberapa saat kemudian salah satu piringnya tiba-tiba pecah menjadi dua? Kejadian ini sering bikin kita terkejut, bahkan sedikit penasaran. Apakah ini cuma kebetulan, atau ada penjelasan ilmiahnya? Fenomena ini sebenarnya berhubungan dengan perbedaan suhu dan sifat material piring . Piring keramik atau porselen, misalnya, tahan panas tapi punya batas. Ketika nasi panas diletakkan di atas piring, panas dari nasi merambat ke piring, membuat permukaan piring mengembang. Kalau piringnya memiliki cacat halus atau retakan mikro , tekanan akibat pemuaian panas bisa cukup untuk membuatnya retak atau pecah. Kadang, satu piring pecah sementara yang lain aman—ini tergantung kualitas piring, ketebalan, dan distribusi panas . Selain itu, faktor lingkungan juga berperan. Meja yang dingin atau permukaan yang tidak rata bisa menimbulkan perbedaan suhu yang drastis di bagian piring , meningkatkan risiko retak. Fenomena ini sering disebut seb...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.