Ketika menikah, biasanya suami akan minta dilayani istrinya. Saat lapar, istri harus menyediakan makanan. Baju suami kotor, istri harus mencucinya.
Anggapan ini berlaku di sebagian besar masyarakat. Jika diperhatikan, suami memperlakukan istrinya mirip pembantu.
Apabila istri menolak melakukan seluruh pekerjaan domestik, klaim durhaka pada suami seketika muncul. Alhasil, perlakuan suami kepada istrinya tampak seperti menindas.
Jika Anda menikah menggunakan adat Jawa, banyak prosesi yang memiliki makna yang indah lho! Diantaranya adalah kacar kucur dan dulang-dulangan.
Dalam prosesi kacar kucur, mempelai pria akan mengucurkan sebuah kantong yang diisi dengan biji-bijian, uang receh dan beras kuning ke pangkuan wanita. Hal ini bermakna bahwa tugas suami adalah mencari nafkah dan istri yang mengelolanya. Bagian ini merupakan lambang dari kesejahteraan dalam rumah tangga.
Meskipun demikian seorang istri berhak untuk memiliki harta sendiri. Demikian juga, seorang istri berhak untuk melakukan aktifitas ekonomi yang menghasilkan harta, di luar dari apa yang telah menjadi hak nafkah dari suaminya.
Namun seorang isri juga wajib berada di sisi suaminya bila memang suaminya memerlukan. Dalam hal ini sudah menjadi kewajiban istri untuk stand-by bila suaminya membutuhkan dirinya.
Hal ini tersirat dalam prosesi dulang-dulangan. Bagian prosesi yang disebut dengan Dahar Klimah atau dulang-dulangan (suap-menyuapi), kedua mempelai akan saling menyuapi sebanyak tiga kali dan acara ini mempunyai harapan agar kedua mempelai selalu rukun dan saling tolong menolong dalam menempuh hidup baru sebagai keluarga.
Namun jika istri membantu suami mengurus masalah domestik, sekali lagi, 'membantu', perlu juga ditegaskan, bahwa posisi istri sama sekali bukan posisi pembantu rumah tangga. Pembantu rumah tangga memang dibayar untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga, mulai dari memasak, menyapu, mengepel lantai, mencuci pakaian, menjemur, menyetrika, memberi makan anak, memandikan, memberi makan dan seabreg tugas lainnya.
Kalau istri itu rela dan suka melakukan semua tugas pembantu, maka hal itu sekedar menjadi 'added vallue' atau nilai tambah alias bonus.
Kalau seorang istri merasa enjoy dengan semua tugas rumah tangga itu, maka bukan cuma boleh hukumnya, tetapi juga mendapatkan pahala. Sebab semua itu termasuk bagian dari amal yang dikerjakan dengan tulus, walaupun bukan tugasnya.
Anggapan ini berlaku di sebagian besar masyarakat. Jika diperhatikan, suami memperlakukan istrinya mirip pembantu.
Apabila istri menolak melakukan seluruh pekerjaan domestik, klaim durhaka pada suami seketika muncul. Alhasil, perlakuan suami kepada istrinya tampak seperti menindas.
Jika Anda menikah menggunakan adat Jawa, banyak prosesi yang memiliki makna yang indah lho! Diantaranya adalah kacar kucur dan dulang-dulangan.
Dalam prosesi kacar kucur, mempelai pria akan mengucurkan sebuah kantong yang diisi dengan biji-bijian, uang receh dan beras kuning ke pangkuan wanita. Hal ini bermakna bahwa tugas suami adalah mencari nafkah dan istri yang mengelolanya. Bagian ini merupakan lambang dari kesejahteraan dalam rumah tangga.
Meskipun demikian seorang istri berhak untuk memiliki harta sendiri. Demikian juga, seorang istri berhak untuk melakukan aktifitas ekonomi yang menghasilkan harta, di luar dari apa yang telah menjadi hak nafkah dari suaminya.
Namun seorang isri juga wajib berada di sisi suaminya bila memang suaminya memerlukan. Dalam hal ini sudah menjadi kewajiban istri untuk stand-by bila suaminya membutuhkan dirinya.
Hal ini tersirat dalam prosesi dulang-dulangan. Bagian prosesi yang disebut dengan Dahar Klimah atau dulang-dulangan (suap-menyuapi), kedua mempelai akan saling menyuapi sebanyak tiga kali dan acara ini mempunyai harapan agar kedua mempelai selalu rukun dan saling tolong menolong dalam menempuh hidup baru sebagai keluarga.
Namun jika istri membantu suami mengurus masalah domestik, sekali lagi, 'membantu', perlu juga ditegaskan, bahwa posisi istri sama sekali bukan posisi pembantu rumah tangga. Pembantu rumah tangga memang dibayar untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga, mulai dari memasak, menyapu, mengepel lantai, mencuci pakaian, menjemur, menyetrika, memberi makan anak, memandikan, memberi makan dan seabreg tugas lainnya.
Kalau istri itu rela dan suka melakukan semua tugas pembantu, maka hal itu sekedar menjadi 'added vallue' atau nilai tambah alias bonus.
Kalau seorang istri merasa enjoy dengan semua tugas rumah tangga itu, maka bukan cuma boleh hukumnya, tetapi juga mendapatkan pahala. Sebab semua itu termasuk bagian dari amal yang dikerjakan dengan tulus, walaupun bukan tugasnya.
Kalaupun istri melakukan pekerjaan domestik dengan ikhlas, para suami harus nyadar hal itu bukanlah kewajibannya. Juga suami perlu nyadar nafkah yang diberikan kepada istrinya bukan terkait pekerjaan domestik.
#permenunganhariinidarimembacasanasini
Komentar