Langsung ke konten utama

Cerita Masa Muda

Normalnya, setiap manusia pasti akan mengalami yang namanya titik balik untuk segera berpikir masak-masak soal masa depan dan nggak bisa alias nggak mau main-main lagi. Sebelum hal ini terjadi, sedikitnya, kami bahagia telah melakukan petualangan bersama dengan orang-orang terdekat! Kalau anda belum melakukannya, setidaknya sekali dalam hidup anda, lakukanlah dulu ya!

Berkendara ke Yogyakarta, melakukan road trip pakai mobil bersama keluarga tercinta.

Suatu hari, kami, kakak dan adik (kecuali adik bungsu dan keluarganya yang tidak bisa ikut, adik bungsu tidak bisa cuti dikarenakan bekerja di hotel sebagai manager duty) merencanakan cuti di tanggal yang sama dan patungan (urunan/iuran) agar bisa bersama-sama liburan ke Yogyakarta. Tentu saja kami mengajak ibu. Bulan itu adalah bulan Desember bertepatan dengan libur anak sekolah. Jalanan masuk kota Yogyakarta penuh sesak. Dan kami masuk dalam antrian panjang menuju Yogyakarta, meski kami menginap di pinggiran kota, tepatnya Bantul. Malam tiba, kami baru sampai di tempat tujuan. Penginapan tepi sawah dengan design rumah joglo berteras. Cerita ini akan menjadi panjang lebar jika saya menceritakan masa masa liburan kami. Tetapi hal yang luar biasa adalah bahwa kami bisa menghabiskan waktu di jalan dengan saling berbincang. Sayang memang, perjalanan ke Yogyakarta ayah saya tidak bisa menemani, sebab beliau sudah meninggal sebelum kami bisa melakukan road trip bersama ini. Tapi kami bahagia, bahwa kami sempat bisa melakukan road trip bersama, meski hanya jarak pendek yaitu ke Lumajang.

Tidak hanya dengan keluarga dari pihak saya, kami pun juga berlaku sama dengan keluarga dari pihak suami. Terkadang kamipun mengajak mereka. Namun sayang, kedua saudara suami tidak pernah bisa mengatur cuti bersama supaya bisa berangkat ke satu tujuan rame-rame satu keluarga, selagi orangtua masih ada. Sehingga lebih sering  hanya kami bertiga yang bepergian bersama (saya, suami dan ayah mertua).

Menyeberang ke Pulau Dewata dengan membawa mobil buat keliling Bali dengan kendaraan sendiri.

Bali mungkin bukan hal baru lagi buat anda. Tapi kalau Bali yang di tuju pakai kendaraan yang disetir sendiri? Pasti sensasinya beda!

Kami pernah melakukan perjalanan itu. Waktu itu kami mengendari pick up. Tujuan kami Ubud. Kami tidak mengenal jalanan di kota-kota di Bali. Maka perjalanan kami percayakan pada google map. Sayangnya, google map tidak mendeteksi bahwa kami mengendarai pick up, jadi diarahkanlah kami ke jalan-jalan yang boleh di lewati oleh kendaraan pribadi pada umumnya, tetapi dilarang masuk untuk kendaraan sejenis pick up, dan kawan-kawannya. Di sinilah kami pada akhirnya harus berurusan dengan polisi Bali 😀.  Namun yang istimewa dengan melakukan road trip ke Bali dengan berkendara sendiri dan beristirahat sesekali dalam perjalanan, ini bisa membuat kita bekeliling ke spot-spot yang kita inginkan di Bali.

So...selama masih bisa, banyak-banyaklah melakukan petualangan dengan orang-orang terdekat, sebelum anda dituntut untuk punya tanggung jawab lebih dan sebelum satu per satu mereka "pergi".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...