DUNIA ini sering menampilkan orang yang suka membangga-banggakan diri dan mau menang sendiri sebagai anutan. Orang yang rendah hati dan lembut biasanya dianggap lemah, pengecut, atau penjilat. Namun, apakah kerendahan hati sejati memang suatu kelemahan? Dan, apakah sikap suka membangga-banggakan diri adalah suatu kekuatan?
Membangga-banggakan diri adalah sikap yang negatif, suatu bentuk kesombongan.
Satu definisi tentang kesombongan adalah harga diri yang berlebihan. Kesombongan demikian membuat seseorang secara tidak patut merasa dirinya paling penting dan paling unggul, barangkali karena kecantikan, ras, status sosial, bakat, atau kekayaan. Dengan kata lain, mereka menganggap diri terlalu tinggi, hal yang tidak dapat dibenarkan.
Sebaliknya, orang yang rendah hati berupaya melihat diri mereka secara jujur dan apa adanya, mengakui ketidaksempurnaan mereka serta kedudukan mereka yang rendah di hadapan Allah. Selain itu, mereka mengakui—dan bahkan bersukacita akan—sifat-sifat unggul yang mereka lihat dalam diri orang lain. Oleh karena itu, mereka tidak menjadi getir karena dengki atau terbakar rasa cemburu. Jadi jelaslah, kerendahan hati sejati mendukung terciptanya hubungan baik dengan orang lain dan menghasilkan perasaan aman serta stabilitas.
Kebesaran sejati berasal dari kerendahan hati, bukan kesombongan.
Seorang yang rendah hati sama sekali bukan penjilat atau pengecut. Ia tetap harus berani berbicara kebenaran dan tidak takut kepada manusia. Tetapi, tidak menang sendiri. Sebaliknya, melalui kerendahan hati, kebaikan hati, dan kasih, ia dengan hangat menggugah orang-orang sehingga ia disayangi orang.
Orang yang rendah hati bersedia menerima nasihat dan menyenangkan untuk diajar. Orang-orang yang rendah hati senang menyesuaikan pandangan mereka ketika diberi keterangan baru yang akurat. Dan, mereka tidak takut bertanya, sedangkan orang yang sombong sering kali menahan diri untuk mengajukan pertanyaan karena takut ketidaktahuannya terungkap.
Orang yang menganggap diri elite, bukannya dengan rendah hati mendengarkan, mereka malah mencemooh serta mencela. Oleh karena itu, kesombongan membuat mereka tetap berada dalam kegelapan.
Kerendahan hati membantu seseorang menjadi seperti tanah liat yang lembut di tangan Allah, yang dapat Ia bentuk menjadi bejana yang indah; sedangkan orang yang angkuh bagaikan tanah liat yang kering dan keras, yang hanya bisa dihancurkan.
Apa yang saya tulis di atas tidaklah menyiratkan bahwa kita tidak perlu berjuang untuk mengatasi kesombongan. Bertengkar, namun tidak dikalahkan oleh kesombongan melainkan mendengarkan dan akhirnya mengubah sikap, itulah yang terutama.
Membangga-banggakan diri adalah sikap yang negatif, suatu bentuk kesombongan.
Satu definisi tentang kesombongan adalah harga diri yang berlebihan. Kesombongan demikian membuat seseorang secara tidak patut merasa dirinya paling penting dan paling unggul, barangkali karena kecantikan, ras, status sosial, bakat, atau kekayaan. Dengan kata lain, mereka menganggap diri terlalu tinggi, hal yang tidak dapat dibenarkan.
Sebaliknya, orang yang rendah hati berupaya melihat diri mereka secara jujur dan apa adanya, mengakui ketidaksempurnaan mereka serta kedudukan mereka yang rendah di hadapan Allah. Selain itu, mereka mengakui—dan bahkan bersukacita akan—sifat-sifat unggul yang mereka lihat dalam diri orang lain. Oleh karena itu, mereka tidak menjadi getir karena dengki atau terbakar rasa cemburu. Jadi jelaslah, kerendahan hati sejati mendukung terciptanya hubungan baik dengan orang lain dan menghasilkan perasaan aman serta stabilitas.
Kebesaran sejati berasal dari kerendahan hati, bukan kesombongan.
Seorang yang rendah hati sama sekali bukan penjilat atau pengecut. Ia tetap harus berani berbicara kebenaran dan tidak takut kepada manusia. Tetapi, tidak menang sendiri. Sebaliknya, melalui kerendahan hati, kebaikan hati, dan kasih, ia dengan hangat menggugah orang-orang sehingga ia disayangi orang.
Orang yang rendah hati bersedia menerima nasihat dan menyenangkan untuk diajar. Orang-orang yang rendah hati senang menyesuaikan pandangan mereka ketika diberi keterangan baru yang akurat. Dan, mereka tidak takut bertanya, sedangkan orang yang sombong sering kali menahan diri untuk mengajukan pertanyaan karena takut ketidaktahuannya terungkap.
Orang yang menganggap diri elite, bukannya dengan rendah hati mendengarkan, mereka malah mencemooh serta mencela. Oleh karena itu, kesombongan membuat mereka tetap berada dalam kegelapan.
Kerendahan hati membantu seseorang menjadi seperti tanah liat yang lembut di tangan Allah, yang dapat Ia bentuk menjadi bejana yang indah; sedangkan orang yang angkuh bagaikan tanah liat yang kering dan keras, yang hanya bisa dihancurkan.
Apa yang saya tulis di atas tidaklah menyiratkan bahwa kita tidak perlu berjuang untuk mengatasi kesombongan. Bertengkar, namun tidak dikalahkan oleh kesombongan melainkan mendengarkan dan akhirnya mengubah sikap, itulah yang terutama.
Komentar