Langsung ke konten utama

Perjuangan

Nasib seorang yang memiliki tugas menegur yang salah, meluruskan yang bengkok dan membenahi yang keliru seringkali tragis. Pada level atas mungkin bisa berakhir di penjara atau bahkan berakhir pada kematian. Di level bawah mungkin bisa berakhir dengan di caci maki atau rekayasa dan tipu daya dan skenario dengan memanfaatkan orang lain untuk melakukan, mendukung terjadinya keadaan atau kondisi tidak menyenangkan bagi sang penegur dan lain-lain semacamnya.

Mengingatkan dan memberi teguran kepada orang di sekitar kita yang melakukan kesalahan merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Sementara di sisi lain kita diharapkan memiliki kepedulian, tidak hanya berpangku tangan dan berdiam diri menyaksikan mereka melakukan kekeliruan. Kemungkinan yang sangat pasti kita terima adalah menghadapi konsekuensi yang tidak menyenangkan. Hampir selalu, kehendak dan niat untuk melakukan kebaikan berhadapan dengan tembok penolakan bahkan dengan kekerasan.

Yen ora percaya, jajalen. Dadi wong kang amanah kuwi ora gampang. Yen dadi wong kang mung pingin 'nyenengke' wong kuwi relatif gampang. Mung kari ho ah ho oh wae asal bapak senang. Mung kari melu ngulon yen angine ngarah ngulon...katut ngetan yen angine ngarah ngetan dstnya...

Wis...cukup semono wae. Nuwun ðŸ™‚

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Ketika Piring Pecah: Fenomena Sederhana yang Menarik Perhatian

Pernahkah kamu menaruh dua piring nasi panas di meja, lalu beberapa saat kemudian salah satu piringnya tiba-tiba pecah menjadi dua? Kejadian ini sering bikin kita terkejut, bahkan sedikit penasaran. Apakah ini cuma kebetulan, atau ada penjelasan ilmiahnya? Fenomena ini sebenarnya berhubungan dengan perbedaan suhu dan sifat material piring . Piring keramik atau porselen, misalnya, tahan panas tapi punya batas. Ketika nasi panas diletakkan di atas piring, panas dari nasi merambat ke piring, membuat permukaan piring mengembang. Kalau piringnya memiliki cacat halus atau retakan mikro , tekanan akibat pemuaian panas bisa cukup untuk membuatnya retak atau pecah. Kadang, satu piring pecah sementara yang lain aman—ini tergantung kualitas piring, ketebalan, dan distribusi panas . Selain itu, faktor lingkungan juga berperan. Meja yang dingin atau permukaan yang tidak rata bisa menimbulkan perbedaan suhu yang drastis di bagian piring , meningkatkan risiko retak. Fenomena ini sering disebut seb...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.