Langsung ke konten utama

Dana Oh Dana

Awalnya ketua panitia datang dengan mengajukan rencana kegiatan beserta dengan anggarannya yang melebihi anggaran yang tersedia. Kemudian dijelaskan bahwa anggaran yang tersedia terbatas. Direspon dengan jawaban akan mundur jadi ketua panitia jika tidak bisa dilaksanakan sesuai apa yang sudah dirancangkan. Tentu saja itu membuat ketua RT mikir mencari tambahan dana dari mana yang tentu saja tidak bisa diambil seenaknya dari kas dan juga harus mikir untuk tidak memberatkan warga dengan iuran lagi. Seharusnya 'mikir' ini adalah bagian dari tugas ketua panitia yang merancang kegiatan jika dana yang dibutuhkan ternyata melebihi anggaran yang ada. Bukan dengan mengeluarkan statemen mundur jika apa yang sudah dirancangkan tidak bisa di jalankan.

Tentang dana ini kemudian pada rapat pertama di balai RT diputuskan untuk urunan antara panitia dan pengurus masing-masing sebesar Rp. 50.000. Pada rapat kedua di rumah bp. Feri kembali dibahas perihal pendanaan. Ada yang mengusulkan tetap urunan Rp. 50.000, sementara beberapa yang lain tidak setuju, ada juga yang mengusulkan mengambil dari uang kas. Dalam pandangan ketua RT pembahasan ini mbulet dan tidak akan ketemu pada kata sepakat mengingat dari pihak ketua panitia sebelumnya juga tidak memiliki pandangan memgenai target atau sasaran penggalangan dana untuk kegiatan yang dirancangnya, selain kata mundur jika diingatkan mengenai masalah dana.

Maka jadilah kami yang mencari dana. Kurang lebih 9 hari sebelum hari h, dana kami titipkan kepada bendahara untuk di serahkan kepada panitia mengingat kami akan keluar kota agar dana bisa dipergunakan sebagaimana seharusnya. Eee...la kok saya dapat telepon dari bendahara katanya ketua panitia tidak mau menerima dana tersebut, malah ketua RT yang diminta menghadap pada ketua panitia. Lo la lo...kok malah kebalik ya??? Bukankah seharusnya ketua panitia yang memberi laporan kepada ketua RT tentang sampai di mana segala sesuatunya berjalan? Apa memang sedang ingin membuktikan bahwa panitianya josss sampai-sampai ketua RT tunduk seperti apa yang dikasak kusukkan orang??? Terlepas dari semua itu bukankah dalam rapat terakhir di rumah bp. Feri masalah penggalangan dana dikembalikan kepada ketua RT? Jika kemudian ada "pencerahan' terjadi pada ketua panitia sehingga membuatnya bergerak untuk turut mencari dana, bukankah seharusnya disampaikan kepada 'yang bertugas" mencari dana sehingga bisa bersama-sama mencari dana. Dan jika dana yang kemudian terkumpul melebihi target bukankah tidak tepat jika kemudian harus dikembalikan kepada mereka yang memberi dana? Atau ini bagian dari arogansi ketua panitia? Nah...harusnya arogansi seperti ini ada di depan, ketika mengajukan rancangan kegiatan. Dengan cara menunjukkan bahwa masalah dana bisa diatasi dengan menjelaskan target atau sasaran penggalangan dana ketika anggaran kegiatan melebihi anggaran yang tersedia, bukannya dengan statemen mundur jadi ketua panitia jika apa yang dirancangkan tidak bisa dijalankan. Bukan dengan melakukan propaganda kepada orang lain untuk mendukung cupetnya nalar. Dan memberi luka pada yang lain dengan membolak balik cerita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...