Salahkah aku?
Istrimu datang ke rumahku memintaku untuk mengeshare perihal Agustusan di mana ada pentas seni ke grup, agar banyak orang bisa menampilkan sesuatu dalam acara tersebut dan aku menolak. Mengapa? Sebab kegiatanmu waktu itu belum fix dan aku mendengar masih akan ada rapat untuk membahas mengenai kegiatanmu itu. Masih ada kendala tentang dana yang belum dibicarakan dalam kepanitiaanmu. Dan kemudian aku datang kepadamu. Kukatakan bahwa aku tidak bisa ngeshare seperti maumu dengan alasan di atas. Dan kau tidak enak hati, karena menurutmu dengan menyampaikan ke ketua RT itu sudah cukup, ketua RT setuju itu sudah cukup. Sedangkan bagi ketua RT dan aku, tidak cukup hanya begitu. Tidak cukup dengan menyodorkan rencana kegiatan dan anggaran kemudian segalanya langsung berjalan sementara persoalan dana belum kelar malah kau lemparkan kepada ketua RT. "Yok opo pak Kris, iki danane ono? Yen ga iso, yo gak po po aku mundur. Soale yen ndek Suroboyo bla bla bla..." Kurang lebih demikian, yang membuat ketua RT mikir seperti yang sudah aku tuliskan pada postingan sebelumnya. Jadi...salahku kah jika aku tidak bersedia ngeshare karena memang belum matang benar rencanamu? Dan karena itukah kau lemparkan cap negative padaku sebagai orang yang tidak suka acaramu, tidak suka kau jadi panitia dan lain-lain? Padahal kepada istrimu aku memberi masukan supaya warga diberi konsep untuk tampilan. Sebab kalau tidak diberi konsep kemungkinan tidak akan ada yang tampil. Harus dipancing dulu dengan memberi konsep. Misalnya anak-anak mau menari, trus siapa lagi mungkin mau ini atau itu...mau dibuat ada tampilan apa mesti panitia dulu yang mulai, sebagai pancingan. Biasanya baru setelah itu bisa ada kemungkinan berkembang. Kalau dibiarkan terserah...kemungkinan besar tidak akan banyak yang tampil. Istrimu juga bilang bahwa dirimu dan istri akan melatih anak-anak untuk menari, dirimu dan istri juga akan melatih ibu-ibu untuk menari jika memang ada yang mau menari. Dan aku sempat merasa wow...sebab aku tidak menyangka istrimu bisa menari. Saat itu aku juga mengatakan pada istrimu dan menawarkan bantuan, mungkin ada ibu-ibu yang lain bisa membantu, seperti ibu Wiwik yang dulu sering melatih anak-anak menari untuk pentas atau mungkin mbak Shanti juga bisa membantu. Dan istrimu oke oke saja. Aku tidak tahu apakah masukanku sampai padamu, tapi memang yang aku tahu dirimu membuat konsep untuk bapak-bapak menari dan menyanyi, ibu-ibu untuk tampil dengan paduan suara meski aku sendiri sudah membuat konsep untuk puisi di mana di tengahnya di sela lagu Indonesia Pusaka. Aku juga tidak tahu apakah semua perbincanganku dengan istrimu tersampaikan dengan benar, tetapi kenyataannya cap itu kau sematkan kepadaku. Meskipun aku tetap ngeshare ke grup mengenai pentas seni usai keputusan rapat. Salahkah aku kalau aku menjalankan sesuatu sesuai aturan?
Atau mungkin karena aku mengajukan keberatan mengenai bazaar karena bazaar akan meninggalkan PR banyak pada bapak-bapak. Baik mengenai kebersihannya dan keamanan lingkungannya. RT kita cuma dua gang dan keramaian seperti itu (panggung dan bazaar) akan luar biasa jika dirimu hanya mengandalkan jalan utama dan pinggiran sungai yang sudah ditata rapi oleh warga. Perlu orang untuk bertanggungjawab pada kebersihan dan keamanan. Dan dalam timmu tidak ada orang yang kau tempatkan untuk bertanggungjawab pada bagian ini. Juga tentang ijin keramaian, menutup jalan utama, kau juga belum atau tidak memikirkan hal ini. Dirimu marah ketika kuingatkan tentang semua ini. Terlebih ketika aku juga menanyakan mengenai dana. Kau semakin marah dan mengatakan bahwa dana Rp. 3.500.000 dari kas cukup. Dan kau semakin meninggi ketika kutanyakan mengenai beberapa biaya item dalam kegiatanmu. Dan kau katakan bahwa semua sudah kau perhitungkan dengan dana yang ada dan itu cukup. Padahal kau sudah maju kepada ketua RT dengan dana yang lebih besar dari anggaran yang ada. Apakah kebohongan itu perlu? Dan apa karena masalah egomu kau memberi label negative kepadaku? Waktu itu aku juga cerita kepadamu bahwa betapa lingkungan kita bolak balik dilirik untuk dijadikan tempat berjualan. Betapa RW dan salah satu RT ingin memindahkan para penjual ke fasum milik kita. Dan seorang ibu mendatangi mbak Iva penjual sayur menanyakan apakah tepi sungai yang ditata rapi oleh warga memang diperuntukkan bagi penjual menggelar dagangannya? Ini bukan katanya. Yang di atas, ketua RT kita yang harus menghadapi bapak-bapak itu dan mempertahankan lingkungan kita untuk tidak jadi semakin kumuh dengan adanya para penjual. Dan kau tahu alasan ketua RT tersebut ingin memindahkah para penjual ke tempat kita? Mereka ingin memfungsikan fasum mereka sebagai real fasum, tetapi dengan cara memindahkan penjual ke fasum kita. Monggo dipikir...apa mau lingkungan kita menjadi kumuh seperti fasum pojok depan perumahan? Dan saya harus memberi jawab kepada si ibu yang bertanya pada mbak Iva karena kebetulan saya ada di situ bahwa lokasi itu bukan untuk jualan. Ditata biar rapi dan mengurangi pertumbuhan rumput. Aku menceritakan itu kepadamu dengan harapan terbuka pikiranmu juga untuk berhati-hati dalam mewujudkan gagasan. Jangan sampai kiranya bazaar justru membangkitkan niat mereka kembali dan membenarkan pikiran mereka untuk menjadikan fasum kita sebagai pusat jejualan. Tetapi kau marah dan mengatakan bahwa semua itu resiko menjadi ketua RT. Pernyataan ini membuat aku marah. Bukankah setiap kegiatan harus dipikirkan untung ruginya? Dipikirkan baik buruknya? Bukan hanya kesenangan sesaat setelah itu jika ada masalah di belakang trus kau lempar batu sembunyi tangan?... Aaah...ternyata kau bukan pribadi yang nyaman untuk diajak diskusi ketika itu tentang dirimu. Kau selalu mandeg pada kalimat "Nek iki ga iso jalan yo gak po po. Wong iki acarane RT dudu acaraku. Aku mundur yo ga masalah." Lantas, apakah karena ini kau beri aku cap negative?
Atau karena kita berbeda dalam persepsi tentang paduan suara? Tetapi realitanya apa yang aku sampaikan kepadamu untuk nyanyi biasa itu, justru yang kau terapkan, bahkan kau sampaikan pada ibu-ibu bahwa ibu-ibu mau tampil nyanyi dan tidak fals itu sudah cukup. Haiyaaah...bukankah kau inginkan konsep paduan suara yang lebih? Mengapa justru aku di tempatkan pada posisi seolah-olah aku yang menuntut ibu-ibu ini sempurna? Mengapa tidak kau sampaikan kepada para ibu bahwa kau ingin paduan suara bukan nyanyi pokoke gak fals, sebagaimana konsep seperti yang kau sampaikan kepadaku? Mengapa kau menjadi pengecut untuk menjelaskan kepada para ibu, sementara di depanku waktu itu kau bersikap arogan? Bukankah seharusnya aku yang marah karena kau berhasil membuat para ibu melawanku dan mencaci maki aku, dengan caramu yang membolak balik omongan? Apa ya layak karena itu kau sematkan label negative padaku? Bukankah aku yang seharusnya marah dan kecewa padamu?
Atau karena aku japri kepada istrimu perihal latihan paduan suara? Tahukah dirimu jika bu Wiwik menghubungiku menanyakan mengenai latihan paduan suara? Tetapi ketika kutanyakan padamu via istrimu katanya dirimu tidak mengajak latihan dan kedatanganmu ke rumah pak Mugi untuk urusan panggung. Lantas aku japri bu Wiwik lagi dan ternyata itu pertanyaan dari bu Nanang. Dan ketika ku tanyakan pada bu Nanang, dirimu yang meminta untuk latihan karena katanya gang Sakura sudah siap., padahal belum ada personalnya. Aku japri dengan bahasa yang baik lho. Malah mempersilahkan dirimu untuk melatih 10 orang ibu yang sudah siap. Sementara tambahannya biar menyusul. Percakapan dengan istrimu via wa masih ada dan belum kuhapus. Sesampai di rumah (karena waktu itu aku di luar kota), benar aku mendatangi rumahmu untuk menanyakan kepastian dan benar waktu itu dirimu sedang sholat. Dan aku mendapat jawaban dari istrimu bahwa dirimu menyerahkan kepada bu Nanang untuk melatih ibu-ibu. Kata istrimu, yang nglatih nanti bu Nanang. Memang benar kalau aku tanya berkali-kali kepada istrimu apakah istrimu tidak salah mengartikan maksudmu...mungkin bukan untuk melatih tetapi untuk mengkoordinasikan. Sebab setahuku dirimu yang akan melatih ibu-ibu. Memang benar waktu itu aku jengkel, mengapa kok jadi berubah-ubah. Sebenarnya siapa yang mau melatih, dirimu atau bu Nanang? Aku memang langsung bilang kepada istrimu untuk mengkonfirmasi kepada bu Nanang hari itu juga supaya cepat selesai dan cepat bisa diketahui kepastiannya siapa yang mau melatih. Dan aku memang mendatangi bu Nanang dan aku tanyakan. Reaksi bu Nanang malah kaget dan bilang kalau dirinya yang harus melatih ya dirinya akan mundur saja sebab dirinya tidak bisa melatih paduan suara. Aku tidak tahu apakah istrimu bercerita dengan benar, sebab yang terdengar di luar malah aku marah karena dirimu menunjuk bu Nanang sebagai koordinator nyanyi tanpa sepengetahuanku, padahal fokusku ketika bertemu istrimu waktu itu justru tentang pelatih. Karena mikir nasibnya ibu-ibu yang sudah kutunjuk untuk memenuhi permintaanmu untuk tampil di paduan suara. Dan aku mendapati situasi yang seolah lempar-lemparan siapa yang mau nglatih. Aku marah pada situasi lempar-lemparan ini bukan karena kau tunjuk seseorang untuk menjadi koordinator tanpa sepengetahuanku meski itu memang tidak sopan, sebab PKK ada ketuanya dan itu bukan dirimu. Apakah karena itu kau beri aku cap negative dan kau bolak balik omongan kepada tim paduan suara ibu-ibu sehingga mereka melawanku dan tidak menghargai aku?
Dan salahkah aku jika pada akhirnya aku benar-benar marah dan kecewa?
Monggo digagas dengan hati dan pikiran yang jernih sehat. Apa layak dan pantas kau beri aku label negative? Egomu kah atau akal sehatmu kah yang bekerja? Atau istrimukah yang kurang mampu menjadi komunikator yang baik sehingga makin memperkeruh ruang otak dan hatimu?
Mungkin kau punya sudut pandang yang lain dalam peristiwa ini. Mungkin saja. Jadi biarlah Gusti Allah yang bekerja. Biarlah Gusti Allah yang membukakan siapa yang berkata dusta dan yang berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang. Biarlah Gusti Allah yang bertidak kepada semua yang berbibir manis dan setiap lidah yang bercakap besar.
Istrimu datang ke rumahku memintaku untuk mengeshare perihal Agustusan di mana ada pentas seni ke grup, agar banyak orang bisa menampilkan sesuatu dalam acara tersebut dan aku menolak. Mengapa? Sebab kegiatanmu waktu itu belum fix dan aku mendengar masih akan ada rapat untuk membahas mengenai kegiatanmu itu. Masih ada kendala tentang dana yang belum dibicarakan dalam kepanitiaanmu. Dan kemudian aku datang kepadamu. Kukatakan bahwa aku tidak bisa ngeshare seperti maumu dengan alasan di atas. Dan kau tidak enak hati, karena menurutmu dengan menyampaikan ke ketua RT itu sudah cukup, ketua RT setuju itu sudah cukup. Sedangkan bagi ketua RT dan aku, tidak cukup hanya begitu. Tidak cukup dengan menyodorkan rencana kegiatan dan anggaran kemudian segalanya langsung berjalan sementara persoalan dana belum kelar malah kau lemparkan kepada ketua RT. "Yok opo pak Kris, iki danane ono? Yen ga iso, yo gak po po aku mundur. Soale yen ndek Suroboyo bla bla bla..." Kurang lebih demikian, yang membuat ketua RT mikir seperti yang sudah aku tuliskan pada postingan sebelumnya. Jadi...salahku kah jika aku tidak bersedia ngeshare karena memang belum matang benar rencanamu? Dan karena itukah kau lemparkan cap negative padaku sebagai orang yang tidak suka acaramu, tidak suka kau jadi panitia dan lain-lain? Padahal kepada istrimu aku memberi masukan supaya warga diberi konsep untuk tampilan. Sebab kalau tidak diberi konsep kemungkinan tidak akan ada yang tampil. Harus dipancing dulu dengan memberi konsep. Misalnya anak-anak mau menari, trus siapa lagi mungkin mau ini atau itu...mau dibuat ada tampilan apa mesti panitia dulu yang mulai, sebagai pancingan. Biasanya baru setelah itu bisa ada kemungkinan berkembang. Kalau dibiarkan terserah...kemungkinan besar tidak akan banyak yang tampil. Istrimu juga bilang bahwa dirimu dan istri akan melatih anak-anak untuk menari, dirimu dan istri juga akan melatih ibu-ibu untuk menari jika memang ada yang mau menari. Dan aku sempat merasa wow...sebab aku tidak menyangka istrimu bisa menari. Saat itu aku juga mengatakan pada istrimu dan menawarkan bantuan, mungkin ada ibu-ibu yang lain bisa membantu, seperti ibu Wiwik yang dulu sering melatih anak-anak menari untuk pentas atau mungkin mbak Shanti juga bisa membantu. Dan istrimu oke oke saja. Aku tidak tahu apakah masukanku sampai padamu, tapi memang yang aku tahu dirimu membuat konsep untuk bapak-bapak menari dan menyanyi, ibu-ibu untuk tampil dengan paduan suara meski aku sendiri sudah membuat konsep untuk puisi di mana di tengahnya di sela lagu Indonesia Pusaka. Aku juga tidak tahu apakah semua perbincanganku dengan istrimu tersampaikan dengan benar, tetapi kenyataannya cap itu kau sematkan kepadaku. Meskipun aku tetap ngeshare ke grup mengenai pentas seni usai keputusan rapat. Salahkah aku kalau aku menjalankan sesuatu sesuai aturan?
Atau mungkin karena aku mengajukan keberatan mengenai bazaar karena bazaar akan meninggalkan PR banyak pada bapak-bapak. Baik mengenai kebersihannya dan keamanan lingkungannya. RT kita cuma dua gang dan keramaian seperti itu (panggung dan bazaar) akan luar biasa jika dirimu hanya mengandalkan jalan utama dan pinggiran sungai yang sudah ditata rapi oleh warga. Perlu orang untuk bertanggungjawab pada kebersihan dan keamanan. Dan dalam timmu tidak ada orang yang kau tempatkan untuk bertanggungjawab pada bagian ini. Juga tentang ijin keramaian, menutup jalan utama, kau juga belum atau tidak memikirkan hal ini. Dirimu marah ketika kuingatkan tentang semua ini. Terlebih ketika aku juga menanyakan mengenai dana. Kau semakin marah dan mengatakan bahwa dana Rp. 3.500.000 dari kas cukup. Dan kau semakin meninggi ketika kutanyakan mengenai beberapa biaya item dalam kegiatanmu. Dan kau katakan bahwa semua sudah kau perhitungkan dengan dana yang ada dan itu cukup. Padahal kau sudah maju kepada ketua RT dengan dana yang lebih besar dari anggaran yang ada. Apakah kebohongan itu perlu? Dan apa karena masalah egomu kau memberi label negative kepadaku? Waktu itu aku juga cerita kepadamu bahwa betapa lingkungan kita bolak balik dilirik untuk dijadikan tempat berjualan. Betapa RW dan salah satu RT ingin memindahkan para penjual ke fasum milik kita. Dan seorang ibu mendatangi mbak Iva penjual sayur menanyakan apakah tepi sungai yang ditata rapi oleh warga memang diperuntukkan bagi penjual menggelar dagangannya? Ini bukan katanya. Yang di atas, ketua RT kita yang harus menghadapi bapak-bapak itu dan mempertahankan lingkungan kita untuk tidak jadi semakin kumuh dengan adanya para penjual. Dan kau tahu alasan ketua RT tersebut ingin memindahkah para penjual ke tempat kita? Mereka ingin memfungsikan fasum mereka sebagai real fasum, tetapi dengan cara memindahkan penjual ke fasum kita. Monggo dipikir...apa mau lingkungan kita menjadi kumuh seperti fasum pojok depan perumahan? Dan saya harus memberi jawab kepada si ibu yang bertanya pada mbak Iva karena kebetulan saya ada di situ bahwa lokasi itu bukan untuk jualan. Ditata biar rapi dan mengurangi pertumbuhan rumput. Aku menceritakan itu kepadamu dengan harapan terbuka pikiranmu juga untuk berhati-hati dalam mewujudkan gagasan. Jangan sampai kiranya bazaar justru membangkitkan niat mereka kembali dan membenarkan pikiran mereka untuk menjadikan fasum kita sebagai pusat jejualan. Tetapi kau marah dan mengatakan bahwa semua itu resiko menjadi ketua RT. Pernyataan ini membuat aku marah. Bukankah setiap kegiatan harus dipikirkan untung ruginya? Dipikirkan baik buruknya? Bukan hanya kesenangan sesaat setelah itu jika ada masalah di belakang trus kau lempar batu sembunyi tangan?... Aaah...ternyata kau bukan pribadi yang nyaman untuk diajak diskusi ketika itu tentang dirimu. Kau selalu mandeg pada kalimat "Nek iki ga iso jalan yo gak po po. Wong iki acarane RT dudu acaraku. Aku mundur yo ga masalah." Lantas, apakah karena ini kau beri aku cap negative?
Atau karena kita berbeda dalam persepsi tentang paduan suara? Tetapi realitanya apa yang aku sampaikan kepadamu untuk nyanyi biasa itu, justru yang kau terapkan, bahkan kau sampaikan pada ibu-ibu bahwa ibu-ibu mau tampil nyanyi dan tidak fals itu sudah cukup. Haiyaaah...bukankah kau inginkan konsep paduan suara yang lebih? Mengapa justru aku di tempatkan pada posisi seolah-olah aku yang menuntut ibu-ibu ini sempurna? Mengapa tidak kau sampaikan kepada para ibu bahwa kau ingin paduan suara bukan nyanyi pokoke gak fals, sebagaimana konsep seperti yang kau sampaikan kepadaku? Mengapa kau menjadi pengecut untuk menjelaskan kepada para ibu, sementara di depanku waktu itu kau bersikap arogan? Bukankah seharusnya aku yang marah karena kau berhasil membuat para ibu melawanku dan mencaci maki aku, dengan caramu yang membolak balik omongan? Apa ya layak karena itu kau sematkan label negative padaku? Bukankah aku yang seharusnya marah dan kecewa padamu?
Atau karena aku japri kepada istrimu perihal latihan paduan suara? Tahukah dirimu jika bu Wiwik menghubungiku menanyakan mengenai latihan paduan suara? Tetapi ketika kutanyakan padamu via istrimu katanya dirimu tidak mengajak latihan dan kedatanganmu ke rumah pak Mugi untuk urusan panggung. Lantas aku japri bu Wiwik lagi dan ternyata itu pertanyaan dari bu Nanang. Dan ketika ku tanyakan pada bu Nanang, dirimu yang meminta untuk latihan karena katanya gang Sakura sudah siap., padahal belum ada personalnya. Aku japri dengan bahasa yang baik lho. Malah mempersilahkan dirimu untuk melatih 10 orang ibu yang sudah siap. Sementara tambahannya biar menyusul. Percakapan dengan istrimu via wa masih ada dan belum kuhapus. Sesampai di rumah (karena waktu itu aku di luar kota), benar aku mendatangi rumahmu untuk menanyakan kepastian dan benar waktu itu dirimu sedang sholat. Dan aku mendapat jawaban dari istrimu bahwa dirimu menyerahkan kepada bu Nanang untuk melatih ibu-ibu. Kata istrimu, yang nglatih nanti bu Nanang. Memang benar kalau aku tanya berkali-kali kepada istrimu apakah istrimu tidak salah mengartikan maksudmu...mungkin bukan untuk melatih tetapi untuk mengkoordinasikan. Sebab setahuku dirimu yang akan melatih ibu-ibu. Memang benar waktu itu aku jengkel, mengapa kok jadi berubah-ubah. Sebenarnya siapa yang mau melatih, dirimu atau bu Nanang? Aku memang langsung bilang kepada istrimu untuk mengkonfirmasi kepada bu Nanang hari itu juga supaya cepat selesai dan cepat bisa diketahui kepastiannya siapa yang mau melatih. Dan aku memang mendatangi bu Nanang dan aku tanyakan. Reaksi bu Nanang malah kaget dan bilang kalau dirinya yang harus melatih ya dirinya akan mundur saja sebab dirinya tidak bisa melatih paduan suara. Aku tidak tahu apakah istrimu bercerita dengan benar, sebab yang terdengar di luar malah aku marah karena dirimu menunjuk bu Nanang sebagai koordinator nyanyi tanpa sepengetahuanku, padahal fokusku ketika bertemu istrimu waktu itu justru tentang pelatih. Karena mikir nasibnya ibu-ibu yang sudah kutunjuk untuk memenuhi permintaanmu untuk tampil di paduan suara. Dan aku mendapati situasi yang seolah lempar-lemparan siapa yang mau nglatih. Aku marah pada situasi lempar-lemparan ini bukan karena kau tunjuk seseorang untuk menjadi koordinator tanpa sepengetahuanku meski itu memang tidak sopan, sebab PKK ada ketuanya dan itu bukan dirimu. Apakah karena itu kau beri aku cap negative dan kau bolak balik omongan kepada tim paduan suara ibu-ibu sehingga mereka melawanku dan tidak menghargai aku?
Dan salahkah aku jika pada akhirnya aku benar-benar marah dan kecewa?
Monggo digagas dengan hati dan pikiran yang jernih sehat. Apa layak dan pantas kau beri aku label negative? Egomu kah atau akal sehatmu kah yang bekerja? Atau istrimukah yang kurang mampu menjadi komunikator yang baik sehingga makin memperkeruh ruang otak dan hatimu?
Mungkin kau punya sudut pandang yang lain dalam peristiwa ini. Mungkin saja. Jadi biarlah Gusti Allah yang bekerja. Biarlah Gusti Allah yang membukakan siapa yang berkata dusta dan yang berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang. Biarlah Gusti Allah yang bertidak kepada semua yang berbibir manis dan setiap lidah yang bercakap besar.
Komentar