Langsung ke konten utama

Agustusan

Suatu hari, tiba-tiba sang istri ketua panitia di suruh datang ke rumah saya. Sang istri menyampaikan kepada saya supaya PKK mengeluarkan suatu tampilan untuk acara pentas seni. Sang istri berkata bahwa tampilan itu terserah ibu-ibu, apakah nyanyi atau nari dan sebagainya. Dan saya katakan, kalau terserah...bisa-bisa ibu-ibu bingung mau tampil apa. Ya nanti mesti dibuat konsep dulu apa yang pas untuk ditampilkan. Kalau di biarkan, kemungkinannya bisa ibu-ibu ga berani tampil karena takut mengeluarkan ide. Mesti didului bikin konsep. Kalaupun kemudian berkembang ya syukur. Lantas saya pun mencari sebuah ide untuk memancing kreatifitas berikutnya dengan menawarkan kepada seorang ibu untuk berpuisi yang ditengahnya disela nyanyian Indonesia Pusaka. Kemudian ada permintaan dari ketua panitia untuk menampilkan paduan suara. Karena saya tahu bahwa paduan suara itu tidak mudah, maka saya menawar dengan paduan suara dengan konsep biasa, yang penting dilatih supaya bisa kompak dan tidak fals sebagai tampilan perdana. Tetapi saya malah ditertawakan dan ketua panitia malah memberi statemen kalau PKK seharusnya tampil dengan paduan suara dengan memberi 'gambaran yang tinggi'. Juga tidak lupa menyanyikan Mars PKK, supaya semua tahu kalau di kita ada PKK. Ya sudah...saya terima. Dan ketua panitia sanggup melatih paduan suara dengan 'gambaran yang tinggi' yang dikatakan kepada saya.

Waktu berjalan, saya sudah meminta 12 ibu untuk bergabung. Merekapun mulai berlatih. Dan pada akhirnya saya mengetahui dan harus mengakui bahwa justru (asline) konsep saya yang paduan suara biasa yang penting dilatih supaya kompak dan tidak fals lah yang diterapkan dalam melatih ibu-ibu bukan 'gambaran tinggi' seperti yang diungkapkan kepada saya. Meskipun mungkin ada variasi gerakan-gerakan di dalamnya.

Tetapi justru yang terjadi sebaliknya, saya ditempatkan di posisi seolah-olah saya lah yang menuntut para ibu ini sempurna. Jika sebelumnya saya memberi masukan kepada seorang ibu tentang bagaimana cara menyanyikan lagu ini atau itu,  hitungannya berapa, temponya bagaimana dan sebagaimya...itu karena persepsi saya yang terarah pada permintaan dari sang ketua panitia sendiri yang menginginkan tampilan paduan suara seperti 'gambaran yang tinggi' tadi. Lha wong ketika saya menawar untuk jangan tinggi-tinggi malah ditertawakan, maka sayapun berusaha menjelaskan semampu saya jika ada yang bertanya untuk memberi masukan bagaimana yang seharusnya sesuai notasi agar bisa memenuhi dari 'gambaran tinggi' ketua panitia. Dan saya kira sang ketua panitia juga sedang memproses para ibu seperti 'gambarannya' tersebut.

Lha kok saya juga yang jadi perbincangan ketika saya mengingatkan untuk juga melatih Mars PKK? Bukankah ketua panitia sendirilah yang meminta supaya dalam paduan suara PKK yang akan tampil harus dinyanyikan Mars PKK supaya semua tahu kalau di kita ada PKK.

Ealaah...memang lidah tak bertulang... Peribahasa dalam bahasa Jawa...saya yang kena awu anget...ya wis ora opo-opo...inshaallah saya legawa...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...