Langsung ke konten utama

Saling Mengingatkan dan Saling Meneguhkan

Tak selamanya sebuah pertemanan itu berjalan aman-aman saja. Ada episode di mana terkadang ada pertengkaran kecil. Terkadang perbedaan sikap dan cara pandang menjadi faktor penyebabnya.

Perlu diingat bahwa teman yang baik bukanlah seorang yang selalu membenarkan perbuatan kita. Teman terbaik adalah seseorang yang berusaha untuk membawa kebenaran disetiap tindakan kita. Pertemanan yang sehat adalah pertemanan yang di antaranya terdapat saling menasehati dalam kebenaran dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Jika diberi nasehat atau menerima saran atau masukan, dengar apa yang diucapkan, apa yang disampaikan. Fokus pada inti topik dan jangan melihat pada siapa yang berbicara. Fokus pada inti point, jangan direpotkan oleh hal-hal yang tak perlu yang justru mengganggu.

Adakalanya sebuah tugas bukanlah menjadi tanggungjawab pribadi. Adakalanya sebuah karya adalah karya bersama. Karenanya, pada titik itu, semestinya kita pun selalu dalam kebersamaan. Kita saling mengingatkan dan saling meneguhkan.

"Hal berharga" itu bisa datang kapan saja dan di mana saja. Bisa dalam bentuk apa saja, bahkan melalui kritikan pedas (selama itu kebenaran tetaplah kebenaran).

Beruntunglah saya dan anda jika masih memiliki teman yang bersedia mengingatkan. Teman itu seperti dua buah telapak tangan yang saling bertangkupan, masing-masing jemari bertautan, saling mengisi bagian-bagian yang kosong di antaranya. Saling mengingatkan dan saling meneguhkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...