Manusia mempunyai kecenderungan naluriah (insting). Jika kecenderungan naluriah ini dibiarkan bergerak dengan bebas, maka kita akan berbenturan satu sama lain. Mengapa? Karena sifat paling dasar dari naluri adalah ingin menang sendiri.
Inti persoalan yang sebenarnya, yaitu “ke-akua-an” (ego). Siapa yang terbesar di antara yang lain. Masing-masing merasa bahwa dialah yang terbesar dari yang lainnya.
Mulut orang bisa saja bicara tentang pengabdian atau tentang pengorbanan. Tetapi, adakalanya, tujuan dari semua itu adalah untuk menunjukkan ke-aku-annya. Dan dalam sebuah komunitas atau masyarakat, jika kita seorang leader, dan harus membuat sebuah keputusan, adakalanya orang tidak memahami sesuatu atau tidak mengetahui semua faktor di balik sebuah keputusan yang kita ambil tetapi melontarkan kata-kata yang negatif dan kritis.
Menurut seorang kawan, jika ada perbenturan, sembilan puluh persen disebabkan karena kecenderungan ke-aku-an. Dari situlah kemudian saya merenung...betapa mudahnya kita manusia yang tidak sempurna ini, membiarkan diri dikuasai oleh kesombongan.
Ya, bagaimanapun segala peristiwa membawa pengertian dan pengetahuan bahwa saya masih tetap harus belajar menerapkan cara memandang orang lain dalam kaitannya dengan diri.
Tetap harus menjaga kesadaran bahwa diberi tanggungjawab tidak berarti diberi hak untuk sombong. Sebaliknya, semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin ia membutuhkan kerendahan hati yang sejati. Sebab keangkuhan bagaikan racun. Dampaknya sangat menghancurkan.
Masih tetap harus belajar memperbaiki sikap dengan berjuang untuk mengalahkan diri sendiri.
Inti persoalan yang sebenarnya, yaitu “ke-akua-an” (ego). Siapa yang terbesar di antara yang lain. Masing-masing merasa bahwa dialah yang terbesar dari yang lainnya.
Mulut orang bisa saja bicara tentang pengabdian atau tentang pengorbanan. Tetapi, adakalanya, tujuan dari semua itu adalah untuk menunjukkan ke-aku-annya. Dan dalam sebuah komunitas atau masyarakat, jika kita seorang leader, dan harus membuat sebuah keputusan, adakalanya orang tidak memahami sesuatu atau tidak mengetahui semua faktor di balik sebuah keputusan yang kita ambil tetapi melontarkan kata-kata yang negatif dan kritis.
Menurut seorang kawan, jika ada perbenturan, sembilan puluh persen disebabkan karena kecenderungan ke-aku-an. Dari situlah kemudian saya merenung...betapa mudahnya kita manusia yang tidak sempurna ini, membiarkan diri dikuasai oleh kesombongan.
Ya, bagaimanapun segala peristiwa membawa pengertian dan pengetahuan bahwa saya masih tetap harus belajar menerapkan cara memandang orang lain dalam kaitannya dengan diri.
Tetap harus menjaga kesadaran bahwa diberi tanggungjawab tidak berarti diberi hak untuk sombong. Sebaliknya, semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin ia membutuhkan kerendahan hati yang sejati. Sebab keangkuhan bagaikan racun. Dampaknya sangat menghancurkan.
Masih tetap harus belajar memperbaiki sikap dengan berjuang untuk mengalahkan diri sendiri.
Komentar