Langsung ke konten utama

Kecenderungan Untuk Menjadi Yang Terbesar

Manusia mempunyai kecenderungan naluriah (insting). Jika kecenderungan naluriah ini dibiarkan bergerak dengan bebas, maka kita akan berbenturan satu sama lain. Mengapa? Karena sifat paling dasar dari naluri adalah ingin menang sendiri. 

Inti persoalan yang sebenarnya, yaitu “ke-akua-an” (ego). Siapa yang terbesar di antara yang lain. Masing-masing merasa bahwa dialah yang terbesar dari yang lainnya.

Mulut orang bisa saja bicara tentang pengabdian atau tentang pengorbanan. Tetapi, adakalanya, tujuan dari semua itu adalah untuk menunjukkan ke-aku-annya. Dan dalam sebuah komunitas atau masyarakat, jika kita seorang leader, dan harus membuat sebuah keputusan, adakalanya orang tidak memahami sesuatu atau tidak mengetahui semua faktor di balik sebuah keputusan yang kita ambil tetapi melontarkan kata-kata yang negatif dan kritis. 

Menurut seorang kawan, jika ada perbenturan, sembilan puluh persen disebabkan karena kecenderungan ke-aku-an. Dari situlah kemudian saya merenung...betapa mudahnya kita manusia yang tidak sempurna ini, membiarkan diri dikuasai oleh kesombongan. 

Ya, bagaimanapun segala peristiwa membawa pengertian dan pengetahuan bahwa saya masih tetap  harus belajar menerapkan cara memandang orang lain dalam kaitannya dengan diri.

Tetap harus menjaga kesadaran bahwa diberi tanggungjawab tidak berarti diberi hak untuk sombong. Sebaliknya, semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin ia membutuhkan kerendahan hati yang sejati. Sebab keangkuhan bagaikan racun. Dampaknya sangat menghancurkan.  

Masih tetap harus belajar memperbaiki sikap dengan berjuang untuk mengalahkan diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...