Langsung ke konten utama

Hati Kita Itu Seperti Sebuah Kebun

Ketika kita dikelilingi oleh tanaman hidup yang sedang tumbuh — ketika kita berjalan atau bekerja di tengah-tengah keindahan ciptaanNya — kita, entah bagaimana, merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Seorang penyair pernah mengamati bahwa “hanya Tuhan yang dapat membuat pohon.” Namun ketika kita menanam benih dan melihatnya tumbuh, kita merasa seolah-olah kita adalah rekan-rekan-Nya - berpartisipasi dengan Dia dalam menghasilkan kehidupan baru, berbagi dalam kegembiraan, sukacita , harapan. Kita tidak bisa tidak dipenuhi dengan rasa kagum dan heran.

Tetapi ada sesuatu yang dapat merusak keindahan yang berharga itu — sesuatu yang harus kita waspadai dan waspadai.

Yaitu... gulma. Gulma adalah hama yang menimpa kehidupan tanaman, dan kita harus menyingkirkan dengan cara terbaik yang kita ketahui.

Demikian juga dengan hati kita. Benih keegoisan, keserakahan, dan iri hati. Akar kebencian, kepahitan, dan tidak memaafkan. Bahkan dosa yang tampaknya kecil dapat tumbuh seperti rumput liar! Mereka mencekik kehidupan dari kita dan menghancurkan buah yang telah diproduksi oleh "Master Gardener" dalam diri kita. Sebelum kita mengetahuinya, kebun kita ditumbuhi banyak — bukan lagi keindahan, refleksi dari kemuliaan Tuhan, tempat penyegaran bagi orang lain.

Itulah mengapa sangat penting bagi kita untuk merawat taman hati kita setiap hari - menyiraminya dengan Firman Tuhan, memeliharanya dengan doa, dan mencabut rumput liar di mana pun kita dapat menemukannya. Kita mungkin telah mengabaikan taman hati kita akhir-akhir ini. Dan itu mungkin tampak seperti tugas yang luar biasa bagi kita.

Tak ada lagi taman hati, yang berlimpah menghasilkan buah. Ada duri dan gulma yang harus dihadapi sekarang, dan dibutuhkan kerja banting tulang untuk membuat segala sesuatunya tumbuh.

Hati kita sendiri merasakan dampaknya dalam arti rohani, karena "lalang" dosa membuat kita tidak mengalami kehadiran Tuhan. Pada akhirnya, mereka menuntun kita menuju kematian dan neraka - pemisahan abadi dari Tuhan.

Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, ampunilah kami. Temukan apapun dalam hidup kami yang tidak menyenangkanMu dan bantulah kami menghasilkan buah indah dari RohMu. Amin.

🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...