Langsung ke konten utama

Bagian Dari Kesedihan Yang Dikisahkan

Minggu, 29 Juli 2018 sehabis isya adalah hari yang menjengkelkan. Baiklah kisah ini akan saya runtut dari awal.

Bermula dari rencana perayaan Agustusan yang wah...yang begitu semangatnya ingin diwujudkan oleh sang ketua panitia tanpa memperhitungkan anggaran. Anggaran yang kami punya hanya Rp. 3.500.000 dan itu sudah disampaikan kepada beliaunya. Memang...suami sebagai ketua RT tidak mengingatkan dengan tegas mengenai ini, hanya mengingatkan tentang nominal anggaran. Mengatakan demikian, "Kalau aku se yo setuju wae. Anggarane yang ada itu...sekitar Rp. 3.500.000 - 3.600.000...nanti tak tanya bendahara". Sebagai panitia mestinya dengan nominal anggaran yang minim yang kemungkinan kecil mengadakan acara pentas seni dengan menyewa panggung akan mengubah konsep menjadi acara yang lebih sederhana. Atau jika ingin tetap jalan, maka dia akan memikirkan cara untuk mencari dana dengan mungkin membentuk tim pencari dana atau bagaimanalah...bukan dengan enteng menyerahkan kembali ke pengurus dalan hal pemenuhan dana atau mendorong pengurus mengambil kas untuk dana tambahan... Eee...tak takoni yo wong...tahukah Anda kondisi kas RW sekarang dan beberapa kas RT lain? Kas mereka saat ini minim. Kas RW yang awal serah terima sebesar Rp. 21 jutaan...jadi (terakhir yang saya ikuti) tinggal 3 jutaan wong... Itu semua gara-gara memaksakan diri mengikuti pawai (semacam) ogoh-ogoh yang dananya kalau saya ga salah ingat itu sekitar Rp.19 jutaan...Mereka mengandalkan, barangkali ada donatur yang mau menyumbang...tapi realitanya dana sumbangan yasng diharapkan tak muncul... Dan tahukah Anda...keikutsertaan pawai dengan dana yang luarbiasa itu yang saya tahu...penentangnya adalah suami saya. Sang suami ini mengingatkan untuk tidak perlu mengikuti pawai dengan dana yang luar biasa. Untuk memikirkan cara ikut pawai tapi bisa dengan biaya yang lebih murah. Supaya yang kas bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih urgen bagi lingkungan RW kami. Tapi sayang...mereka tidak mendengarkan. Akhirnya tentu saja kas jadi tersedot hanya pada kegiatan ini saja dan meninggalkan hanya beberapa juta saja. Dan untuk tahun ini...RW terancam tidak bisa mengadakan acara untuk kegiatan tujuhbelasan karena kas yang tidak lagi leluasa dananya. Wong...mau Anda kas RT kita bernasib demikian? Jika Anda hanya memikirkan tentang konsep yang Anda tawarkan untuk tetap jalan tanpa memikirkan tentang pendanaannya, juga tentang masalah perijinannya (karena keramaian tentu saja butuh ijin pada kanan kirinya apalagi hendak menutup jalan) dan Anda kembali limpahkan ke pengurus, apa yo saya ga berang? Trus ketika saya ingatkan dengan nada tanya Anda menjawab bahwa seluruh kegiatan tersebut dengan dana Rp.3.600.000 itu cukup, itu waktu di rumah pean wong pean bilang begitu...tapi Anda kemudian di rapat keluar dengan proposal Rp. 4.500.000. Walaupun tentang ini saya sudah nenduga. Sebelumnya Anda menyampaikan kepada saya sebuah pernyataan demikian...kalau konsep Anda tidak dilanjut ya tidak apa-apa, tapi Anda akan 'nggletakno'...ga mau ngurusi acara Agustusan dengan dalih bahwa acara ini bukan acara Anda tapi acara RT. Sebenarnya tidak apa Anda membuat konsep yang spektakuler. ..tapi mbok ya o Anda ikut mikir bagaimana dana itu diperoleh...bukan hanya menyodorkan konsep terus bilang...danane habis segini, trus yok opo...iki dilanjut atau ga... Mestinya kan menyodorkan konsep dengan solusi bagaimana mencari dana tambahan....wong kata istrimu Anda berpengalaman mencari dana. Masalah nanti pelaksanaannya dibantu yang lain...yo namanya team yo itu sudah biasa.  Tapi setidaknya, ojo mung nyodorkan konsep tanpa tahu mesti bagaimana nambah dananya dan pertimbangannya dikembalikan ke ketua RT dengan pernyataan kalau tidak disetujui tak gletakno...ga ngurusi iki yo ga apa-apa. Mestinya sebagai ketua panitia yang pengalaman Anda bisa membuat konsep yang meriah dengan dana yang ada atau jika dibutuhkan dana tambahan Anda paham harus bagaimana, bukan mengembalikan ke pengurus untuk urusan dana. Yang ketiban sampur ya...akhirnya suami sebagai ketua RT...nomboki lagi man... Daripada mengambil kas RT...lha wong keinginan warga untuk beli kursi plastik sebagai inventaris saja belum bisa terpenuhi. Juga masalah ijin keramaian...itu pun juga Anda limpahkan ke pengurus. Dan saya rasa Anda nyaris lupa...sebab ketika saya ajak bicara tentang ini...respon Anda seperti orang baru diingatkan...dan Anda spontan langsung bilang itu urusan pengurus... Gubraaak!

Bagaimanapun man...yang punya konsep adalah Anda...dan sudah seharusnya Anda merancang konsep Anda denga detail. Untung ketua RT nya suami...kalau suami itu adalah saya...maka saya akan ngomong ke Anda begini..  "Pak, ga po po sampean punya konsep seperti ini, tapi dananya cuma sekian. Bagaimana sampean mencukupi kekurangannya?" kalau dikembalikan ke pengurus...berarti sejatinya ditahap awal ini Anda tidak siap dengan konsep tersebut karena masalah  dasar tidak Anda masukkan dalam konsep Ands. Dana itu juga bagian dari tugas panitia untuk mikir. Kalau dijawab dari sumbangan warga...maka itu adalah tugas panitia bukan pengurus untuk memobilisasi warga yang mau nyumbang...juga masalah perijinan. Jika Anda terbiasa bekerja dengan karang taruna...mungkin Anda benar dengan memerintah mereka untuk melakukan ini itu...tetapi ini... Anda 'menyuruh' pengurus untuk menyelesaikan masalah Anda sementara dalam hal ini pengurus melalui rapat warga yang menunjuk Anda sebagai pelaksana. Masalah yang krusial malah dibalikin ke pengurus. Terlepas dari semua itu saya berterimakasih Anda mau terlibat. Hanya sayang.. Anda kurang 'jeru' mikirnya. Cuma berfokus pada acara. Apa bedanya Anda dengan ibu yang meminta Anda untuk mencukupkan Rp.500.000 untuk konsumsi 70 nasi bungkus plus minuman dan snack untuk tadarus selama dua hari sementara Anda tahu itu tidak cukup? Disadari atau tidak dan dalam kasus yang berbeda anda kurang lebih melakukan hal yang menyebalkan kepada kami...sama seperti ibu itu kepada anda waktu itu. Tetapi sekali lagi...saya tetap berterimakasih Anda mau terlibat.

Yang berikutnya Anda melalui istri meminta kami ibu-ibu PKK untuk tampil di cara pentas seni. Waktu saya tanya menampilkan apa, dijawab terserah ibu-ibu. Memang dalam perbincangan dengan istri Anda saya katakan bahwa ibu-ibu mungkin kalau tidak diarahkan bingung mau tampil apa, tapi bukan berati kami tidak bisa membuat suatu konsep untuk tampilan. Maka saya carilah apa yang pas untuk ibu-ibu. Sebuah puisi karya KH Mustofa Bisri jadi pilihan saya untuk ditampilkan dan rencana saya juga akan rembukan dengan pengurus yang lain untuk kemungkinan tampilan yang lain. Eee... Anda meminta kami untuk paduan suara dan Anda sempat menolak ketika saya sampaikan untuk pembacaan puisi...menurut Anda kalau PKK harus paduan suara..harus ada Mars PKKnya. Dan waktu saya katakan kalau paduan suara itu sulit. Harus menata suara. Tapi Anda ngotot. Dalan hal ini saya mohon maaf karena baru tadi malam saya tahu kalau ternyata pengertian paduan suara yang ada dalam pikiran saya dan Anda beda. Anda berpikir paduan suara adalah memadukan suara jadi satu nada yang tidak fals dan suara sahut-sahutan dalam bernyanyi Anda sebut itu sebagai suara dua (padahal saya malam itu tidak mendengar ada suara alto meski memang ada variasi bersahut-sahutan dalam nyanyian). Suara dua biasanya kalau di paduan suara itu adalah suara Alto. Suara pertama adalah suara Sopran. Sopran (suara satu) untuk membawakan melodi lagu. Alto (suara dua) mengambil harmoni lebih rendah dari suara satu, jarak terdekat (bisa terts, kwart ataupun kwint tergantung arasemen). Untuk melatih suara Sopran dan Alto itu tidak mudah. Apalagi kebanyakan ibu-ibu tidak paham membaca not. Saya yang dulu pernah ikut paduan suara gereja saja adakalanya mengalami kesulitan dalam menyanyikan nada dalam suara Alto. Dan itu bukan saya saja yang mengalami demikian. Butuh latihan dan pelatih yang mumpuni, paling tidak paham not untuk itu. Bukan sekedar sahut-sahutan. Tapi kata suami dan kakak saya... Saya tidak bisa memaksakan sebuah pengertian yang tidak mereka pahami kepada mereka. Karena ya memang itu batas pemahaman mereka tentang paduan suara. Jadi biarkanlah... So maaf kalau saya berbeda dengan Anda. Dan maaf kalau saya berbantahan dengan Anda sebelumnya...karena saya baru tahu Minggu malam itu.  Di forum rapat Anda membuat keanehan lagi...Anda meminta ibu-ibu PKK tampil paduan suara tetapi Anda meminta bapak-bapak untuk gabung sedangkan bapak-bapak itu bukan anggota PKK. Alasannya supaya suara lebih kuat. Memang suara bapak-bapak beda dengan suara ibu-ibu. Biasanya pria berada di suara Tenor (suara tiga), dan suara Bass (suara empat). Dugaan saya mungkin yang Anda maksudkan adalah suara bapak-bapak yang masuk kategori suara bass. Katena memang suara bass bisa mendoble suara sopran dengan satu oktaf lebih rendah atau dalam nada yang sama dengan register suara pria (suara pria lebih rendah 1 oktaf dari suara wanita pada nada yang sama) sedangkan suara tenor mengambil harmoni lebih tinggi dari suara satu, jarak terdekat. Keanehan yang saya maksud..bahwa Anda ingin ibu-ibu yang tampil atas nama PKK tetapi menunjuk juga bapak-bapak yang bukan anggota PKK. Lhoo...apakah yang Anda inginkan? Kalau Anda meminta ibu-ibu PKK yang tampil...itu adalah urusan saya untuk mengaturnya. Saya ini lho ketua PKKnya dan Anda tidak menghargai saya dalam hal ini. Kalaupun nanti saya menunjuk ibu yang lain untuk mengurusi ini semua...itu juga urusan saya bukan Anda...karena Anda bukan ketua PKK. Naah...coba diingat-ingat lagi...dulu kalau ada kasus serupa ini yang pelakunya bukan Anda, Anda akan mengatakan g*bl*k pada orang tersebut. Tapi saya tidak akan mengatakan itu pada Anda, mungkin Anda hanya khilaf. Juga dalam hal pembuatan snack...Anda sendiri yang mengatakan pada ketua RT bahwa snack, Anda yang akan membuatnya...tapi Anda lempar ke ibu-ibu yang karena saya sudah dapat bocoran dari ketua RT saya tolak untuk dikerjakan ibu-ibu. Jadi sebenarnya...siapakah di sini yang lebih berambisi...saya atau Anda?

O ya tolong katakan dan ceritakan pada istri Anda, mengapa Anda tidak menyiapkan rapat hari itu sehingga ketua RT yang harus membersihkan balai dan menggelar tikar sendiri. Bukankah rapat hari itu Anda sebagai ketua panitia yang mengundang? Dan maua tahukah Anda mengapa ketua RT utak atik HP? Itu untuk order makanan kecil by gojek man... Yaa..makanan kecil yang Anda janjikan kepada ketua RT untuk Anda siapkan tapi Anda ternyata tak tepat janji.

Dan malam itu...saya tidak tahan untuk tidak mengoreksi sesuatu yang 'kurang' tapi Anda menjadi sangat sok. Padahal pak Yanuar saja yang paham not dan bertahun-tahun mendirigen ketika diingatkan ada nada yang slendro dalam kelompok, tidak mengabaikan masukan itu bahkan dari anggota sekalipun. Bahkan beliau terkadang meminta kami yang tidak sedang bertugas koor untuk mendengarkan dari bangku umat untuk sekedar memberi masukan...tapi yo wis lah aku ora po po..

Belum lagi menghadapi tingkah polah seorang ibu dalam grup yang juga sama tidak menghargai saya sebagai ketua PKK...

Kata kakak saya..."cara berpikirmu yang haris diturunkan...ibaratnya kamu itu di langit mereka itu di bumi...jadi kamu yang harus turun. Mereka tidak paham bagaimana organisasi, mereka tidak paham apa itu paduan suarayo wis lah...biarkan saja. Biarkan mereka jalan dengan keahaman mereka. Woles aja."

Wong...aku iki arep woles piye carane jal...kalau ada apa-apa kami yang 'noroki', kalau ada sebab akibat yang ga nyaman kami yang menghadapi dan di minta ngatasi. Kalau kami work in silent meka bilang kami tidak melakukan apa-apa...trus jadi trending topik lah kami ini. Wiiis...meyakini saja bahwa Gusti Allah mboten sare

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...