Langsung ke konten utama

Wong Cilik

Wong cilik adalah sebuah istilah yang digunakan untuk membedakan status sosial dalam masyarakat Jawa. Dalam penggunaannya wong cililk selalu dikontraskan dengan istilah priyayi. Masyarakat yang dikelompokkan ke dalam golongan wong cilik adalah sebagian besar masyarakat petani, petani gurem, para pekerja kasar, para pedagang kecil, buruh kecil, di mana kelompok ini merupakan masyarakat kebanyakan dan menjadi masyarakat lapisan bawah. Romo Magnis Suseno (budayawan dan rohaniwan), membedakan arti wong cilik dan orang miskin sebagai berikut: orang miskin termasuk orang kecil, sedangkan orang kecil hidupnya sederhana, tapi belum tentu miskin.

Memang betul bahwa wong cilik belum tentu miskin, tetapi mereka adalah kaum yang powerless, artinya mereka tidak mempunyai kuasa atau kaum yang lemah dan tak berdaya sehingga mudah untuk dieksploitasi dan dimiskinkan. Jadi walaupun mereka tidak miskin tetapi mereka sangat mudah untuk dimiskinkan. Gambarannya sebagai berikut: walaupun wong cilik punya tanah yang cukup tetapi karena kondisi kepowerless-annya maka dengan mudah tanah mereka di gusur dengan paksa oleh pihak yang lebih berkuasa. Jadi... wong cilik bisa di definisikan sebagai... orang yang tak berdaya karena mengalami aneka macam pemiskinan... yang membuat semakin banyak orang hidup semakin tidak manusiawi dan tidak menggambarkan bahwa dia adalah citra Allah yang bermartabat sebagai manusia. Pada umumnya mereka hidup di bawah taraf kewajaran manusia.

Nah... dalam alkitab terdapat kisah Nabot yang menggambarkan nasib rakyat jelata, wong cilik yang tak berdaya. Raja Ahab ingin menguasai tanah milik Nabot. Ia bersekongkol dengan permaisuri Izebel. Dengan kekuasaannya mereka menyerobot tanah Nabot secara licik. Bahkan membunuhnya dengan rekayasa menghojat Allah.

Gajah-gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengahnya. Wong cilik tidak berdaya di kancah pertarungan para penguasa.

Wong cilik ini sering dinilai bodoh, primitif, ketinggalan jaman, penuh takhayul, mistik, irasional, dan sebutan-sebutan lain. Tetapi siapakah mereka yang mengaku dirinya terpelajar, rasional, modern, dan lain-lain?

Kekuasaan acapkali membuat orang lupa daratan. Dalam realita di sekitar kita, ada kasus Udin, Munir, Wiji Tukul. Mereka korban kekuasaan yang sewenang-wenang.

Tetapi orang baik harus berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Tidak boleh diam saja. Pemilu adalah cara konstitutif memilih pemimpin yang baik, adil dan bijaksana.

Jangan mau suara kita di beli dengan uang Rp. 50.000. Terlalu rendah harga diri kita dibayar dengan uang Rp. 50.000, bahkan kalaupun itu ditambah dengan beras 1 kg, tepung 1 kg dan telur 10 butir. Kenali dan pahami visi misi calon pemimpin sebelum menentukan pilihan.

Jangan hanya dengan uang Rp. 50.000 kita memberikan suara sedemikian mudahnya, padahal dampaknya sangat besar sekali di kemudian hari jika pemimpin tidak amanah.

Jangan memilih berdasarkan uang yang tidak seberapa. Bisa saja setelah terpilih, pemimpin tersebut tidak memikirkan rakyatnya sebab rakyat sudah di beli dengan uang yang tak seberapa plus sembako.

Jangan memilih pemimpin seperti Ahab dalam kisah Nabot di atas yang menggunakan kekuasaan hanya untuk mencari keuntungan sendiri. Peristiwa Ahab ini bisa menjadi pembelajaran bagaimana kekuasaan disalahgunakan.

Maka saya dan Anda harus menggunakan hak pilih untuk menciptakan penguasa yang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...