Langsung ke konten utama

Sikap Hidup Biasa-Biasa Saja

Berada di zona nyaman memang menyenangkan, karena saat kita berada di zona ini, kita menikmati nyamannya hidup.

Kita merasa cukup dengan hal-hal yang kita rasakan. Terkadang kita bahkan tidak berusaha melihat peluang baru sebagai sebuah kesempatan yang harus diambil. Kita membayangkan resiko dan kesulitan sebelum maju dan mencoba, meski bisa saja peluang itu memberikan hasil yang lebih baik.

Orang-orang di sekitar pun terkadang turut 'melemahkan' hati. Di sinilah kita sejatinya membutuhkan orang-orang yang tepat. Bukan bermaksud memilih-milih teman, namun bergaul dengan orang-orang yang tepat bisa membuat kita menjadi lebih baik. Karena mereka bisa memberikan energi positif yang dapat terus membuat kita semangat dalam memperjuangkan apa yang sedang diperjuangkan untuk membuat kita menjadi lebih baik.

Bahwa tidak segala sesuatu adalah tentang uang. Bisa saja sesuatu itu tidak memberikan hasil berupa materi tetapi dapat memberikan ilmu dan pengalaman untuk menjadi lebih pintar di kemudian hari.

Dan semestinyalah kita bisa menjaga sikap stay foolish. Tentunya ini bukan berarti kita adalah orang yang bodoh dan memiliki ilmu yang sedikit. Namun lebih dikarenakan kesukaan untuk belajar. Menganggap masih banyak hal yang harus dipelajari untuk membuat diri berkembang menjadi lebih baik.

Serta belajar dan berusaha tidak meremehkan kemampuan diri sendiri dan memiliki mimpi yang besar di dalam hidup dan tahu bisa mewujudkannya meski dengan berusaha keras, menjaga pemikiran yang positif, optimis dan memusatkan seluruh usaha untuk membuat mimpi menjadi nyata.

Sikap hidup pas-pasan atau biasa saja seperti namanya, tidak ingin menjadi yang luar biasa, selalu ingin menjadi yang biasa-biasa saja. Yang terbayang adalah sesuatu yang seadanya, yang biasa-biasa saja. Padahal untuk mengubah impian menjadi kenyataan, dibutuhkan keluarbiasaan.

Dan jika tidak mempunyai antusiasme di dalam menjalani kehidupan, kita tidak punya antusias dalam belajar. Hasilnya dream-dream itu akan menjadi sekedar dream, tidak bisa menjadi kenyataan. Kita membutuhkan antusiasme.

Juga belajar untuk tidak melakukan protektif terhadap perubahan. Everybody reject change, setiap orang cenderung untuk menolak perubahan. Padahal perubahan seringkali harus dilakukan kalau ingin menjadi lebih baik. Tetapi seringkali kita tidak siap berpindah dari zona nyaman ke zona yang tidak nyaman. Biasanya perubahan itu menawarkan zona yang tidak nyaman.

Kata seorang bapa, sikap hidup biasa-biasa saja adalah bentuk sikap seorang yang penakut dan pengecut. Cowardliness, it's cowardliness. Dan ini bahaya terbesar dalam hidup. Dengan sikap ini, seseorang menjadi takut akan apa pun dan tidak mau berkembang untuk menjadi lebih. Sikap ini adalah sikap yang harusnya dihindari. Setiap pribadi harusnya dapat berkarya, bertindak dan memberikan yang lebih. Semangat ini yang harus terus dikobarkan dan jika mungkin memberikan ruang bagi yang lain agar dapat berkembang lebih demi terciptanya kebaikan bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...