Dalam rangka menyambut Idul Fitri, ada suatu kebiasaan yang dilakukan orangtua saya, yakni memberi bingkisan pada beberapa orang di sekitar. Biasanya yang di beri adalah, tukang sampah yang mengangkut sampah rumah tangga di rumah orangtua saya, tukang becak langganan ibu pergi dan pulang gereja, tukang becak langganan ibu ke dan dari pasar, dan tukang becak langganan antar jemput ke sekolah waktu kami masih SD, serta pembantu rumah tangga di rumah orangtua saya. Bingkisan ini bisa berupa macam-macam. Terkadang sarung, baju/atasan atau sembako.
Mengapa di pilih mereka? Merekalah yang dengan perannya masing-masing mempermudah urusan keluarga orangtua saya. Jadi hal ini lebih kepada bentuk apresiasi keluarga kepada mereka beserta keluarganya dan mereka juga termasuk golongan keluarga layak menerima tunjangan menurut orangtua saya.
Biasanya pembagian bingkisan ini dilaksanakan sebelum hari raya idul fitri. Setelah agak besar, orangtua saya juga melibatkan kakak, saya dan adik untuk membantu mengemas bingkisan-bingkisan tersebut. Nah, di sesi ini seringkali menjadi ajang bagi kakak saya untuk berkreasi dengan mengemas bingkisan-bingkisan tersebut dengan bentuk yang macam- macam 😊. Usai kegiatan ini... kami, anak-anak, kembali ke aktivitas semula. Yang sebelumnya main ya kembali main... yang sebelumnya nonton TV ya kembali nonton TV 😆. Namun, makna dari kegiatan kecil itu, ada 😊.
Ada perasaan gembira boleh berbagi. Meski apa yang keluarga kami lakukan waktu itu tidak terekspos, tidak pakai acara foto-foto kemudian di upload di medsos 😀.
Ada satu nilai yang ditanamkan oleh orangtua saya dalam kegiatan itu yang tentunya dasarnya adalah Alkitab bahwa jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka BAPAmu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (Matius 6:3-4).
Kegembiraan, sukacita, diijinkan Allah boleh berbagi, ikut peduli, pengalaman lain-lain yang mungkin tak bisa dijelaskan dengan kata itulah ganjaran seketika yang diberikan Allah melebihi segalanya.
Aaahh.. jadi kangen bapak dan juga simbah. Kangen ritual tiap lebaran, habis sholat Ied, kami selalu antri untuk sungkem, dan simbah meletakkan tangan di atas kepala kami satu per satu sambil mengucapkan doa restu dalam bahasa Jawa yang kadang tidak kami pahami artinya... maklum beda generasi... 😆. Kangen canda dan tawa bapak dan simbah... kangen semua yang ada pada beliau berdua...
Mengapa di pilih mereka? Merekalah yang dengan perannya masing-masing mempermudah urusan keluarga orangtua saya. Jadi hal ini lebih kepada bentuk apresiasi keluarga kepada mereka beserta keluarganya dan mereka juga termasuk golongan keluarga layak menerima tunjangan menurut orangtua saya.
Biasanya pembagian bingkisan ini dilaksanakan sebelum hari raya idul fitri. Setelah agak besar, orangtua saya juga melibatkan kakak, saya dan adik untuk membantu mengemas bingkisan-bingkisan tersebut. Nah, di sesi ini seringkali menjadi ajang bagi kakak saya untuk berkreasi dengan mengemas bingkisan-bingkisan tersebut dengan bentuk yang macam- macam 😊. Usai kegiatan ini... kami, anak-anak, kembali ke aktivitas semula. Yang sebelumnya main ya kembali main... yang sebelumnya nonton TV ya kembali nonton TV 😆. Namun, makna dari kegiatan kecil itu, ada 😊.
Ada perasaan gembira boleh berbagi. Meski apa yang keluarga kami lakukan waktu itu tidak terekspos, tidak pakai acara foto-foto kemudian di upload di medsos 😀.
Ada satu nilai yang ditanamkan oleh orangtua saya dalam kegiatan itu yang tentunya dasarnya adalah Alkitab bahwa jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka BAPAmu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (Matius 6:3-4).
Kegembiraan, sukacita, diijinkan Allah boleh berbagi, ikut peduli, pengalaman lain-lain yang mungkin tak bisa dijelaskan dengan kata itulah ganjaran seketika yang diberikan Allah melebihi segalanya.
Aaahh.. jadi kangen bapak dan juga simbah. Kangen ritual tiap lebaran, habis sholat Ied, kami selalu antri untuk sungkem, dan simbah meletakkan tangan di atas kepala kami satu per satu sambil mengucapkan doa restu dalam bahasa Jawa yang kadang tidak kami pahami artinya... maklum beda generasi... 😆. Kangen canda dan tawa bapak dan simbah... kangen semua yang ada pada beliau berdua...
Komentar