Langsung ke konten utama

Biji Sesawi

Setahu saya, umumnya kawan-kawan yang beragama Katolik, yang berziarah ke Israel, penasaran pada bentuk biji sesawi. Demikian juga rupanya kawan saya ibu Diana Tulolo. Rasa penasaran ibu Diana Tulolo pada akhirnya juga menjawab rasa penasaran saya mengenai biji sesawi, sebab beliau membawa 'beberapa' biji tersebut ke Indonesia. Dan memang... bentuk biji sesawi memang sangat kecil... Sayang sekali, bahwa pada kunjungan saya ke rumah beliau waktu itu, saya tidak kepikiran untuk mengambil gambar biji sesawi tersebut. Nanti, jika memang ada waktu dan kesempatan untuk berkunjung kembali ke rumahnya, saya akan mengambil gambar si biji sesawi.

Dalam peziarahan ke Israel, biasanya umat Katolik akan diajak ke tempat-tempat bersejarah... kalau saya lebih suka menyebutnya dengan napak tilas kehidupan Yesus Kristus. Peziarahan, jika kita ikut dalam tour yang di adakan oleh kelompok umat Katolik, akan didampingi seorang Pastor (sebutan untuk imam Katolik) selain guide setempat. Nah... guide ini lah yang akan menjelaskan segala sesuatunya tentang tempat-tempat yang kita kunjungi. Dan biasanya nanti pada salah satu gereja yang menjadi bagian dari tujuan tour tersebut, kita mengadakan Misa Ekaristi (istilah ibadah untuk umat Katolik).

Biasanya, pada peziarahan tersebut guide akan menjelaskan mengenai sejarah tempat yang kita kunjungi. Dan sabda Tuhan atau tulisan-tulisan dalam alkitab yang terkait dengan tempat tersebut. Nah... salah satunya mengenai biji sesawi.

Biji sesawi ini disebutkan oleh Yesus Kristus dalam perumpamaan. Kisah ini tercantum di dalam injil Matius, Markus dan Lukas. Yaitu Matius 13:31-32, Markus 4:30-34 dan Lukas 13:18-21.

Biji sesawi itu sangat kecil, lebih kecil dari butiran pasir. Namun, jika ditanam, disiram dan dirawat, biji itu akan tumbuh menjadi tunas dan bisa menjadi besar (2-3 meter tingginya) dan banyak burung hinggap dan bersarang di rerimbun daunnya.

Ukuran biji sesawi yang menakjubkan, yang berkembang dari biji yang sangat kecil yang ditanam di kebun-kebun akan tumbuh menjadi besar hingga 2-3 meter tingginya. Bandingkanlah dengan kecilnya biji dan sayuran lainnya😊.

Di jaman dulu, tumbuhan sesawi selalu ada di setiap kebun. Orang Yahudi tidak menanamnya di taman-taman, tetapi ditanam di kebun. Tanaman ini sangat sering ditanam di tanah yang merupakan batas kebun karena tanaman ini membutuhkan banyak tempat (saking besarnya). Tukang kebun hanya mengambil satu biji sesawi, kemudian menaburkan biji di ladangnya. Dan dia tahu bahwa biji yang kecil itu mempunyai kemampuan untuk tumbuh menjadi tanaman seukuran pohon. Benih sesawi adalah yang paling kecil dari semua benih yang lain. Sangat kontras dengan ketika benih ini sudah tumbuh. Sejatinya sesuatu yang sepertinya 'biasa' ini (yang mungkin lepas dari perhatian manusia jaman now) adalah bukti ke Maha Kuasaan Tuhan.

Nah... jika kita tilik dari manfaatnya, ternyata biji sesawi mengandung begitu banyak vitamin. Luar biasa ya... meskipun biji sesawi kecil banget, di dalamnya terdapat banyak vitamin yang berguna bagi tubuh kita. Baca sendiri di 10 Manfaat Besar Makan Biji Sesawi Untuk Kesehatan (klik aja ya guesss ☺)

Dari perumpaan tentang biji sesawi itulah mula permenungan saya kali ini. Jadi... awalnya mungkin saya dan anda tak berdaya, lemah dan tak memiliki daya kekuatan apa pun, namun jika kita memiliki iman dan percaya sebesar biji sesawi saja, maka iman dan percaya itu akan tumbuh menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa. Dan selanjutnya saya dan anda akan melihat tangan Tuhan yang bekerja ☺.

Dan seperti tumbuhan sesawi yang berawal dari benih yang kecil kemudian tumbuh menjadi lebih besar dari segala sayuran yang lain, maka hidup kita semestinya adalah hidup yang siap bertumbuh dan menghasilkan buah.

Finally, ini adalah Catatan bagi diri sendiri: mulai belajar membuka hati dengan tekun membaca dan merenungkan sabdaNya, tekun berdoa dan datang padaNya dalam Ekaristi. Dengan rahmat Tuhan, niscaya iman semakin kokoh dan kuat serta berdaya tahan dan tak perlu takut pada tantangan. #I wish I can do🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...