Hari itu selain rutinitas berjalan seperti biasa, seorang tetangga datang ke rumah, mempertanyakan perihal konsumsi yang diberikan ke masjid dalam rangka kegiatan di bulan puasa. Sesuai hasil rapat, team yang telah ditunjuk membuat beberapa menu takjil selama 4 hari. Beberapa ibu-ibu ingin membuat nasi, beberapa tidak setuju, karena konsepnya adalah menu takjil yang berarti berupa menu pembuka bukan menu utama. Finally keputusan rapat menetapkan menu takjil dan konsumsi untuk tadarus.
Tetapi hari itu terjadi kebingungan, sebab penanggungjawab takjil meminta, menu takjil plus 10 bungkus nasi. Maka timbul pertanyaan, untuk apa 10 bungkus nasi? Akhirnya warga di sisi blok sebelah utara karena memang kurang tenaga 'tukang masak' memutuskan tetap pada kesepakatan awal yaitu menu pembuka atau takjil.
Hari berikutnya, wacana untuk mengubah menu pembuka atau takjil ini menjadi menu utama atau menu buka semakin kuat. Maka kebingungan semakin meningkat untuk warga di blok utara, sementara warga blok selatan sudah bekerja mempersiapkan menu dalam rupa makanan dan minuman yang di luar kesepakatan hasil rapat. Perubahan itu sebelumnya hanya diketahui oleh beberapa orang. Bahkan saya pun tidak tahu. Sampai seseorang bercerita dan menanyakan kepada saya. Cukup terkejut, sebab saya berpikir mengapa kesepakatan diubah sepihak tanpa memberitahu kami yang di blok utara.
Kebingungan bertambah, ketika uang yang terkumpul adalah Rp. 500.000 untuk menyediakan konsumsi 2 hari dalam dua sesi, sesi berbuka puasa dan tadarus, dalam perhitungan 'juru masak' yang ditunjuk, ini tidak mencukupi, jika dua hari mengirim 70-75 bungkus nasi lauk ayam dan teman-temannya dan menyiapkan untuk konsumsi tadarus. Tentu saja kami ingin memberikan yang terbaik. Tetapi tentu saja, karena ini adalah hasil iuran warga, kami pun harus memikirkan suatu solusi untuk memberi yang terbaik dari nominal uang yang terkumpul, tidak bisa sekehendak hati kami. Maka ibu yang dipercayai dalam memegang dana untuk blok utara dan saya memberikan masukan untuk tetap kembali pada rencana awal yaitu membuat bubur sagu mutiara dengan ketan putih dan hari berikutnya bubur kacang hijau atau bubur sumsum plus 'juruh' dengan potongan nangka di atasnya. Menu itu pun sudah diutak atik ulang dan mengurangi bagian-bagian yang memberatkan jika dikerjakan hanya dengan beberapa orang dan jika masih berat maka diserahkan kepada mereka yang menjadi juru masak, yang utama adalah kegiatan menyiapkan konsumsi ini tidak sampai membatalkan puasa mereka.
Tetapi rupanya menu tersebut kurang berkenan bagi seorang ibu yang lainnya. Ibu tersebut tetap menghendaki menu nasi dengan lauk ayam. Dengan alasan karena blok selatan sudah membuat nasi dan anaknya yang biasa ke masjid selalu mendapat nasi. Sang juru masak tetap mengatakan bahwa 500.000 tidak cukup untuk 70-75 bungkus nasi selama 2 hari dengan lauk ayam dan konsumsi tadarus untuk 2 hari.
Ketika sang juru masak ngotot bahwa ibu yang dipercaya untuk memegang dana meminta untuk kembali pada kesepakatan awal, ibu tersebut mengatakan bahwa ibu pemegang dana tidak tahu ceritanya. Pertanyaannya: jika tidak tahu ceritanya, mengapa tidak menceritakan dan justru menahan cerita dan memutuskan sendiri, padahal ini katanya adalah team? Bukankah segala sesuatunya bisa dibicarakan tanpa harus 'rahasia-rahasiaan'?
Pada akhirnya karena tidak ingin terlalu berdebat, sang juru masak bersedia membuat konsumsi nasi jika ibu yang bersikukuh meminta nasi tersebut yang membelanjakannya. Karena sang juru masak merasa bahwa uang 500.000 kurang untuk memenuhi target yang dipatok ibu tersebut. Ibu tersebut tidak bersedia. Tetapi akhirnya dana tersebut di pegang oleh ibu tersebut. Hari berikutnya uang tersebut dikembalikan pada sang juru masak dengan target yang sama. Dan sang juru masak tetap mengatakan tidak cukup jika nasi lauk ayam, di mana ayam 1 kg merujuk pada harga dari ibu-ibu blok selatan adalah Rp. 35.000 dengan kebutuhan sekitar 4 kg maka itu sudah menghabiskan dana Rp. 140.000. Belum untuk pendamping lauk seperti sayur, tahu, mie dan es blewah atau es cao dan konsumsi untuk tadarus berupa snack, teh dan kopi. Karena ibu tersebut bersikukuh cukup, maka sang juru masak meminta ibu tersebut membelanjakannya atau ayam diganti lauk telur 1/2 bagian. Ibu tersebut keberatan tetapi kemudian menyerah, sebab beliaunya ini juga mungkin tidak ada waktu karena mempunyai anak kecil.
Selama hari-hari itu, sang juru masak yang kebingungan menghubungi saya. Dan karena perkara tersebut tidak segera selesai ditambah seorang ibu yang lain mengatakan bahwa ini permintaan dari masjid, maka saya pun mencari info, apakah pemberian konsumsi ke masjid harus berupa nasi dan lauk pauknya. Akhirnya saya mendapatkan info dari ketua takmir masjid bahwa, tidak berupa nasi pun tidak apa-apa. Maka penjelasan dari takmir tersebut saya share kepada pengurus dengan harapan ibu yang bersikukuh nasi bisa melunak dikarenakan memang budget tidak cukup, jangan terus mengatasnamakan karena di minta takmir, maka harus nasi. Bukankah kita harus memberi pemberian terbaik? Dengan budget minim kita semestinya bisa memberi pemberian terbaik walaupun bukan nasi. Dari pada memberi nasi dengan hanya lauk tempe dan tahu (begitu kutipan dari sebuah tulisan di fb 😊). Tetapi ternyata tidak. Beliaunya tetap bersikukuh nasi dengan lauk pauknya sebab blok selatan memberi nasi. Demikian cerita dari blok utara.
Dari blok selatan.
Kebagian jadwal pertama setelah bertukar jadwal dengan blok utara membuat mereka mencari info terlebih dahulu mengenai konsumsi yang akan diberikan.
Tersebutlah bahwa info yang didapat adalah bahwa konsumsi yang diberikan RT yang lebih dulu bertugas adalah nasi. Mereka bingung. Mencari tahu ke masjid dan mendapat info (katanya) dari takmir masjid untuk membawa 70-75 nasi bungkus. Rencana berubah. Berhitung akhirnya membuat nasi bungkus dan minumannya. Perubahan disampaikan kepada seorang ibu dari blok utara (di mana ibu tersebut tidak menyampaikan kepada ibu pemegang dana dari blok utara dan hanya mengatakan bahwa ibu pemegang dana tidak tahu ceritanya. Menuliskan ini tetap menggiring saya pada tanya, mengapa tidak menceritakan biar semua tahu ceritanya?) Selanjutnya... jadilah blok selatan mengirim nasi bungkus dan minuman buka puasa. Ketika saya menulis pada grup pengurus mengenai mengapa tidak ada yang memberitahu dan jika diubah menjadi nasi kekurangan dananya bagaimana, apakah akan menariki iuran lagi kepada warga atau hamba Allah/donatur yang mendukung, sebab dana tidak cukup untuk membuat 70-75 nasi bungkus + minuman + konsumsi tadarus selama dua hari, mereka diam. No respon. Dan saya di cap sebagai tidak menghargai kerja keras mereka dan pengurus lain karena saya marah atas sikap mereka yang tidak terbuka.
Cerita berlanjut. Hari kedua, saya datang ke rumah rekan wakil, menanyakan ikwal pergantian menu pembuka atau takjil menjadi menu utama atau menu buka. Kurang lebihnya seperti yang saya tuliskan di atas. Dan dengan alasan untuk mengimbangi RT lain. Saya katakan bahwa uang Rp. 500.000 itu tidak cukup untuk membuat 70-75 bungkus nasi dengan lauk yang 'bagus'. Saya tanyakan berapa biaya untuk membuat memu di hari pertama saja. Di jawab Rp. 400.000. Obrolan kami berlanjut sampai akhirnya beliau ini mengatakan bahwa ada donatur sehingga mereka bisa memberi nasi bungkus + minuman sesuai target selama dua hari. Dan jika tidak ada donatur, mereka mengambil sedikit uang infag ibu-ibu pengajian sebagai tambahan. Dari pertemuan ini saya mengetahui bahwa sebesar Rp. 500.000 diberikan pada blok utara, Rp. 500.000 pada blok selatan. Setelah blok selatan menetapkan merubah dari menu takjil menjadi menu buka, terdapat tambahan dana lagi sebesar kurang lebih Rp. 300.000. Jadi total dana untuk blok selatan sebesar kurang lebih Rp. 800.000. Dan hal-hal ini yang tidak diketahui oleh team dari blok utara. Sempat saya pertanyakan kepada rekan wakil, mengapa hal ini tidak disampaikan kepada team blok utara, sehingga tidak terjadi perselisihan di blok utara gara-gara menyiapkan konsumsi untuk masjid. Di mana yang satu ingin membuat nasi bungkus karena berpikir dana sebesar Rp. 500.000 cukup sedangkan yang lain kembali ke menu awal sesuai kesepakatan rapat, karena menghitung bahwa dana tersebut tidak cukup. Dijawab rekan wakil karena ini dari donatur maka beliau diam. Dan saya katakan bahwa darimana pun dana didapatkan, tetap harus disampaikan, tidak perlu menyebut nama, cukup sampaikan bahwa ada tambahan dana dari warga. Kalaupun mau mengubah keputusan rapat dengan alasan apapun, itu pun juga harus disampaikan, sebab pasti ada akibat-akibat lanjutan dari mengubah keputusan bersama... dalam hal ini adalah masalah dana. Tidak bisa dan tidak boleh langsung jalan sendiri sementara ada tim kerja sebagai pelaksana keputusan. Jika terdapat dua tim kerja, maka keduanya harus dikoordinasi sedemikian rupa sehingga bisa berjalan seiring.
Dalam hal ini yang sangat saya sayangkan, segala sesuatunya tidak dikomunikasikan dan tidak dikoordinasikan dengan benar, sehingga membuat rasa tidak nyaman pada tiap-tiap orang yang terlibat. Rasa tidak nyaman pada diri seorang bapak yang merasa hasil kerja istrinya dan team serta keputusannya mengijinkan membuat nasi tidak dihargai dan saya mengatakan jangan mengatasnamakan takmir. Yaa... benar jangan terus menerus mengatasnamakan takmir masjid untuk memberi nasi sedangkan ketua takmir tidak mengharuskan memberi nasi. Bukankah sebaiknya kita bisa memberikan yang terbaik selain nasi jika memang budget tidak cukup untuk memberi nasi dengan lauk terbaik? Dalam hal ini, apakah juga ada penghargaan pada ibu-ibu blok utara yang ikut rapat dengan mengubah keputusan sepihak dan tidak menjelaskan mengenai persoalan dananya dan juga alasan perubahan tersebut pada ibu-ibu blok utara? Di sinilah sebenarnya fungsi koordinator atau penanggungjawab takjil dalam mengkomunikasikan suatu keputusan dan perubahan sampai tuntas tidak dilaksanakan dengan maksimal. Seharusnya, jika benar beliau mendapat permintaan dari masjid, tentunya bisa dijelaskan sebab koordinator takjil tahu isi surat edaran yang ditujukan untuk ketua RT di mana di dalamnya tidak dinyatakan secara spesifik bahwa konsumsi yang diberikan harus nasi. Dan mengingat budget terbatas seharusnya perlu memikirkan solusi terbaik bagi semua team, dengan (mungkin) menanyakan kepada ketua takmir masjid atau takmir lainnya apa memang harus nasi. Sebab kenyataannya ketika saya tanyakan pada ketua takmir masjid, konsumsi tidak berupa nasi pun tidak apa-apa. Dan ketika oleh ketua RT ditanyakan pada anggota takmir lainnya pun, jawabannya kurang lebih sama, tidak harus nasi. Memang pasangan rekan wakil menanyakan pada ketua RT 16 yang kebetulan adalah anggota takmir. Tapi beliau menanyakan kepada bapak tersebut dalam kapasitasnya sebagai ketua RT bukan sebagai takmir. Tentang apa yang akan diberikan oleh RT bapak tersebut dalam konsumsi masjid. Bukan dalam kapasitas sebagai takmir. Sedangkan sebagai takmir kepada ketua RT kami beliau mengatakan ragam macam konsumsi diserahkan kepada RT masing-masing. Jadi dalam hal ini sebenarnya ada jalan keluar tanpa mengubah anggaran dengan mengutak atik menu yang pantas meski bukan nasi. Menu yang tidak murahan meski bukan nasi. Lha wong ketua takmir dan anggota takmir pada dasarnya tidak memgharuskan nasi kotak atau nasi bungkus kok. Misalkan ada takmir yang menyatakan itu, mungkin itu hanya berupa usulan dan masukan tetapi bukan keharusan atau bisa saja karena takmir melihat di dua RT sebelumnya memberi konsumsi dalam rupa nasi. Yang kedua, jika benar permintaan nasi berasal dari masjid, hal yang harus dilakukan koordinator adalah memikirkan tambahan dana yang jelas akan membengkak. Memikirkan tambahan dana ini pun tidak boleh dengan diam-diam. Segalanya harus transparan. Apakah harus dengan meminta iuran warga lagi atau mencari donatur atau mengambil uang infag ibu-ibu yasinan. Jika mengambil uang infag ibu-ibu yasinan pun harus dipastikan nominalnya berapa dan sama untuk kedua team. Jika dengan mencari donatur juga harus disampaikan. Agar jangan satu team ditanggung donatur team lainnya mengambil dari kas infag. Terlebih lagi pemegang kas infag adalah ibu dari blok utara. Apa kata dunia RT ku jika team utara mengambil kas infag yasinan sementara yang pegang kas infag adalah ibu yang berada di blok utara... 😰. Hal-hal seperti inilah yang tidak dikoordinasikan dan di komunikasikan dengan baik. Sekilas memang terlihat remeh temeh. Tapi dari yang remeh temeh ini bisa menjadi sesuatu yang pada akhirnya menimbulkan banyak luka di hati banyak orang. Niat yang tadinya ingin mengimbangi RT lain justru berpotensi memecah intern RT. 😔
Yaah... ya sudahlah... semua sudah berlalu... semoga ke depannya kami semua bisa menjalin komunikasi dengan lebih baik dan saling terbuka untuk kebaikan semua. 😌
Tetapi hari itu terjadi kebingungan, sebab penanggungjawab takjil meminta, menu takjil plus 10 bungkus nasi. Maka timbul pertanyaan, untuk apa 10 bungkus nasi? Akhirnya warga di sisi blok sebelah utara karena memang kurang tenaga 'tukang masak' memutuskan tetap pada kesepakatan awal yaitu menu pembuka atau takjil.
Hari berikutnya, wacana untuk mengubah menu pembuka atau takjil ini menjadi menu utama atau menu buka semakin kuat. Maka kebingungan semakin meningkat untuk warga di blok utara, sementara warga blok selatan sudah bekerja mempersiapkan menu dalam rupa makanan dan minuman yang di luar kesepakatan hasil rapat. Perubahan itu sebelumnya hanya diketahui oleh beberapa orang. Bahkan saya pun tidak tahu. Sampai seseorang bercerita dan menanyakan kepada saya. Cukup terkejut, sebab saya berpikir mengapa kesepakatan diubah sepihak tanpa memberitahu kami yang di blok utara.
Kebingungan bertambah, ketika uang yang terkumpul adalah Rp. 500.000 untuk menyediakan konsumsi 2 hari dalam dua sesi, sesi berbuka puasa dan tadarus, dalam perhitungan 'juru masak' yang ditunjuk, ini tidak mencukupi, jika dua hari mengirim 70-75 bungkus nasi lauk ayam dan teman-temannya dan menyiapkan untuk konsumsi tadarus. Tentu saja kami ingin memberikan yang terbaik. Tetapi tentu saja, karena ini adalah hasil iuran warga, kami pun harus memikirkan suatu solusi untuk memberi yang terbaik dari nominal uang yang terkumpul, tidak bisa sekehendak hati kami. Maka ibu yang dipercayai dalam memegang dana untuk blok utara dan saya memberikan masukan untuk tetap kembali pada rencana awal yaitu membuat bubur sagu mutiara dengan ketan putih dan hari berikutnya bubur kacang hijau atau bubur sumsum plus 'juruh' dengan potongan nangka di atasnya. Menu itu pun sudah diutak atik ulang dan mengurangi bagian-bagian yang memberatkan jika dikerjakan hanya dengan beberapa orang dan jika masih berat maka diserahkan kepada mereka yang menjadi juru masak, yang utama adalah kegiatan menyiapkan konsumsi ini tidak sampai membatalkan puasa mereka.
Tetapi rupanya menu tersebut kurang berkenan bagi seorang ibu yang lainnya. Ibu tersebut tetap menghendaki menu nasi dengan lauk ayam. Dengan alasan karena blok selatan sudah membuat nasi dan anaknya yang biasa ke masjid selalu mendapat nasi. Sang juru masak tetap mengatakan bahwa 500.000 tidak cukup untuk 70-75 bungkus nasi selama 2 hari dengan lauk ayam dan konsumsi tadarus untuk 2 hari.
Ketika sang juru masak ngotot bahwa ibu yang dipercaya untuk memegang dana meminta untuk kembali pada kesepakatan awal, ibu tersebut mengatakan bahwa ibu pemegang dana tidak tahu ceritanya. Pertanyaannya: jika tidak tahu ceritanya, mengapa tidak menceritakan dan justru menahan cerita dan memutuskan sendiri, padahal ini katanya adalah team? Bukankah segala sesuatunya bisa dibicarakan tanpa harus 'rahasia-rahasiaan'?
Pada akhirnya karena tidak ingin terlalu berdebat, sang juru masak bersedia membuat konsumsi nasi jika ibu yang bersikukuh meminta nasi tersebut yang membelanjakannya. Karena sang juru masak merasa bahwa uang 500.000 kurang untuk memenuhi target yang dipatok ibu tersebut. Ibu tersebut tidak bersedia. Tetapi akhirnya dana tersebut di pegang oleh ibu tersebut. Hari berikutnya uang tersebut dikembalikan pada sang juru masak dengan target yang sama. Dan sang juru masak tetap mengatakan tidak cukup jika nasi lauk ayam, di mana ayam 1 kg merujuk pada harga dari ibu-ibu blok selatan adalah Rp. 35.000 dengan kebutuhan sekitar 4 kg maka itu sudah menghabiskan dana Rp. 140.000. Belum untuk pendamping lauk seperti sayur, tahu, mie dan es blewah atau es cao dan konsumsi untuk tadarus berupa snack, teh dan kopi. Karena ibu tersebut bersikukuh cukup, maka sang juru masak meminta ibu tersebut membelanjakannya atau ayam diganti lauk telur 1/2 bagian. Ibu tersebut keberatan tetapi kemudian menyerah, sebab beliaunya ini juga mungkin tidak ada waktu karena mempunyai anak kecil.
Selama hari-hari itu, sang juru masak yang kebingungan menghubungi saya. Dan karena perkara tersebut tidak segera selesai ditambah seorang ibu yang lain mengatakan bahwa ini permintaan dari masjid, maka saya pun mencari info, apakah pemberian konsumsi ke masjid harus berupa nasi dan lauk pauknya. Akhirnya saya mendapatkan info dari ketua takmir masjid bahwa, tidak berupa nasi pun tidak apa-apa. Maka penjelasan dari takmir tersebut saya share kepada pengurus dengan harapan ibu yang bersikukuh nasi bisa melunak dikarenakan memang budget tidak cukup, jangan terus mengatasnamakan karena di minta takmir, maka harus nasi. Bukankah kita harus memberi pemberian terbaik? Dengan budget minim kita semestinya bisa memberi pemberian terbaik walaupun bukan nasi. Dari pada memberi nasi dengan hanya lauk tempe dan tahu (begitu kutipan dari sebuah tulisan di fb 😊). Tetapi ternyata tidak. Beliaunya tetap bersikukuh nasi dengan lauk pauknya sebab blok selatan memberi nasi. Demikian cerita dari blok utara.
Dari blok selatan.
Kebagian jadwal pertama setelah bertukar jadwal dengan blok utara membuat mereka mencari info terlebih dahulu mengenai konsumsi yang akan diberikan.
Tersebutlah bahwa info yang didapat adalah bahwa konsumsi yang diberikan RT yang lebih dulu bertugas adalah nasi. Mereka bingung. Mencari tahu ke masjid dan mendapat info (katanya) dari takmir masjid untuk membawa 70-75 nasi bungkus. Rencana berubah. Berhitung akhirnya membuat nasi bungkus dan minumannya. Perubahan disampaikan kepada seorang ibu dari blok utara (di mana ibu tersebut tidak menyampaikan kepada ibu pemegang dana dari blok utara dan hanya mengatakan bahwa ibu pemegang dana tidak tahu ceritanya. Menuliskan ini tetap menggiring saya pada tanya, mengapa tidak menceritakan biar semua tahu ceritanya?) Selanjutnya... jadilah blok selatan mengirim nasi bungkus dan minuman buka puasa. Ketika saya menulis pada grup pengurus mengenai mengapa tidak ada yang memberitahu dan jika diubah menjadi nasi kekurangan dananya bagaimana, apakah akan menariki iuran lagi kepada warga atau hamba Allah/donatur yang mendukung, sebab dana tidak cukup untuk membuat 70-75 nasi bungkus + minuman + konsumsi tadarus selama dua hari, mereka diam. No respon. Dan saya di cap sebagai tidak menghargai kerja keras mereka dan pengurus lain karena saya marah atas sikap mereka yang tidak terbuka.
Cerita berlanjut. Hari kedua, saya datang ke rumah rekan wakil, menanyakan ikwal pergantian menu pembuka atau takjil menjadi menu utama atau menu buka. Kurang lebihnya seperti yang saya tuliskan di atas. Dan dengan alasan untuk mengimbangi RT lain. Saya katakan bahwa uang Rp. 500.000 itu tidak cukup untuk membuat 70-75 bungkus nasi dengan lauk yang 'bagus'. Saya tanyakan berapa biaya untuk membuat memu di hari pertama saja. Di jawab Rp. 400.000. Obrolan kami berlanjut sampai akhirnya beliau ini mengatakan bahwa ada donatur sehingga mereka bisa memberi nasi bungkus + minuman sesuai target selama dua hari. Dan jika tidak ada donatur, mereka mengambil sedikit uang infag ibu-ibu pengajian sebagai tambahan. Dari pertemuan ini saya mengetahui bahwa sebesar Rp. 500.000 diberikan pada blok utara, Rp. 500.000 pada blok selatan. Setelah blok selatan menetapkan merubah dari menu takjil menjadi menu buka, terdapat tambahan dana lagi sebesar kurang lebih Rp. 300.000. Jadi total dana untuk blok selatan sebesar kurang lebih Rp. 800.000. Dan hal-hal ini yang tidak diketahui oleh team dari blok utara. Sempat saya pertanyakan kepada rekan wakil, mengapa hal ini tidak disampaikan kepada team blok utara, sehingga tidak terjadi perselisihan di blok utara gara-gara menyiapkan konsumsi untuk masjid. Di mana yang satu ingin membuat nasi bungkus karena berpikir dana sebesar Rp. 500.000 cukup sedangkan yang lain kembali ke menu awal sesuai kesepakatan rapat, karena menghitung bahwa dana tersebut tidak cukup. Dijawab rekan wakil karena ini dari donatur maka beliau diam. Dan saya katakan bahwa darimana pun dana didapatkan, tetap harus disampaikan, tidak perlu menyebut nama, cukup sampaikan bahwa ada tambahan dana dari warga. Kalaupun mau mengubah keputusan rapat dengan alasan apapun, itu pun juga harus disampaikan, sebab pasti ada akibat-akibat lanjutan dari mengubah keputusan bersama... dalam hal ini adalah masalah dana. Tidak bisa dan tidak boleh langsung jalan sendiri sementara ada tim kerja sebagai pelaksana keputusan. Jika terdapat dua tim kerja, maka keduanya harus dikoordinasi sedemikian rupa sehingga bisa berjalan seiring.
Dalam hal ini yang sangat saya sayangkan, segala sesuatunya tidak dikomunikasikan dan tidak dikoordinasikan dengan benar, sehingga membuat rasa tidak nyaman pada tiap-tiap orang yang terlibat. Rasa tidak nyaman pada diri seorang bapak yang merasa hasil kerja istrinya dan team serta keputusannya mengijinkan membuat nasi tidak dihargai dan saya mengatakan jangan mengatasnamakan takmir. Yaa... benar jangan terus menerus mengatasnamakan takmir masjid untuk memberi nasi sedangkan ketua takmir tidak mengharuskan memberi nasi. Bukankah sebaiknya kita bisa memberikan yang terbaik selain nasi jika memang budget tidak cukup untuk memberi nasi dengan lauk terbaik? Dalam hal ini, apakah juga ada penghargaan pada ibu-ibu blok utara yang ikut rapat dengan mengubah keputusan sepihak dan tidak menjelaskan mengenai persoalan dananya dan juga alasan perubahan tersebut pada ibu-ibu blok utara? Di sinilah sebenarnya fungsi koordinator atau penanggungjawab takjil dalam mengkomunikasikan suatu keputusan dan perubahan sampai tuntas tidak dilaksanakan dengan maksimal. Seharusnya, jika benar beliau mendapat permintaan dari masjid, tentunya bisa dijelaskan sebab koordinator takjil tahu isi surat edaran yang ditujukan untuk ketua RT di mana di dalamnya tidak dinyatakan secara spesifik bahwa konsumsi yang diberikan harus nasi. Dan mengingat budget terbatas seharusnya perlu memikirkan solusi terbaik bagi semua team, dengan (mungkin) menanyakan kepada ketua takmir masjid atau takmir lainnya apa memang harus nasi. Sebab kenyataannya ketika saya tanyakan pada ketua takmir masjid, konsumsi tidak berupa nasi pun tidak apa-apa. Dan ketika oleh ketua RT ditanyakan pada anggota takmir lainnya pun, jawabannya kurang lebih sama, tidak harus nasi. Memang pasangan rekan wakil menanyakan pada ketua RT 16 yang kebetulan adalah anggota takmir. Tapi beliau menanyakan kepada bapak tersebut dalam kapasitasnya sebagai ketua RT bukan sebagai takmir. Tentang apa yang akan diberikan oleh RT bapak tersebut dalam konsumsi masjid. Bukan dalam kapasitas sebagai takmir. Sedangkan sebagai takmir kepada ketua RT kami beliau mengatakan ragam macam konsumsi diserahkan kepada RT masing-masing. Jadi dalam hal ini sebenarnya ada jalan keluar tanpa mengubah anggaran dengan mengutak atik menu yang pantas meski bukan nasi. Menu yang tidak murahan meski bukan nasi. Lha wong ketua takmir dan anggota takmir pada dasarnya tidak memgharuskan nasi kotak atau nasi bungkus kok. Misalkan ada takmir yang menyatakan itu, mungkin itu hanya berupa usulan dan masukan tetapi bukan keharusan atau bisa saja karena takmir melihat di dua RT sebelumnya memberi konsumsi dalam rupa nasi. Yang kedua, jika benar permintaan nasi berasal dari masjid, hal yang harus dilakukan koordinator adalah memikirkan tambahan dana yang jelas akan membengkak. Memikirkan tambahan dana ini pun tidak boleh dengan diam-diam. Segalanya harus transparan. Apakah harus dengan meminta iuran warga lagi atau mencari donatur atau mengambil uang infag ibu-ibu yasinan. Jika mengambil uang infag ibu-ibu yasinan pun harus dipastikan nominalnya berapa dan sama untuk kedua team. Jika dengan mencari donatur juga harus disampaikan. Agar jangan satu team ditanggung donatur team lainnya mengambil dari kas infag. Terlebih lagi pemegang kas infag adalah ibu dari blok utara. Apa kata dunia RT ku jika team utara mengambil kas infag yasinan sementara yang pegang kas infag adalah ibu yang berada di blok utara... 😰. Hal-hal seperti inilah yang tidak dikoordinasikan dan di komunikasikan dengan baik. Sekilas memang terlihat remeh temeh. Tapi dari yang remeh temeh ini bisa menjadi sesuatu yang pada akhirnya menimbulkan banyak luka di hati banyak orang. Niat yang tadinya ingin mengimbangi RT lain justru berpotensi memecah intern RT. 😔
Yaah... ya sudahlah... semua sudah berlalu... semoga ke depannya kami semua bisa menjalin komunikasi dengan lebih baik dan saling terbuka untuk kebaikan semua. 😌
Komentar