Jika pertanyaan dalam title di atas ditanyakan pada saya hari ini, maka jawaban saya adalah suami π. Ya... dialah orang pertama yang akan selalu ada untuk membantu saya dalam segala situasi. Dalam urusan rumah tangga, urusan ngantar orderan minuman OXY Drinking Water dan orderan lain-lain ke customer yang tempat tinggalnya di luar komplek perumahan sampai hal-hal yang terkait dengan kegiatan PKK dan banyak lagi yang lainnya.
Berikutnya adalah tetangga saya. Mengapa? Sebab merekalah yang dengan segera mengetahui situasi saya. Dan mereka inilah yang akan menjadi jujugan jika terjadi situasi di mana saya membutuhkan orang lain untuk membantu saya. Misalnya ketika saya mengadakan acara, maka saya membutuhkan bu Adha untuk menyiapkan konsumsi dan segala hal yang terkait dengan makananπ. Saya membutuhkan bu Mugiono, bu Nanang Eko, bu Yoyok, bu Eko, bu Ujang, bu Toni, bu Drian, bu Lukman, bu Feri, bu Khoirul Kiyar dan ibu-ibu yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu di sini dalam hal-hal yang terkait dengan kegiatan PKK π. Dalam banyak hal, ketika kita hidup dalam suatu komunitas atau masyarakat, kita tidak bisa melepaskan peran komunitas/masyarakat dalam kehidupan kita, meski tetap ada batasan-batasan antara area privat dan publik, di mana kita sebagai bagian dari komunitas/masyarakat boleh ikut campur/membantu dalam situasi yang dimaksud.
Yang ketiga adalah teman. Mengapa? Kebetulan karena saya adalah pendatang yang otomatis para sedulur saya tidak satu kota. Dan dalam beberapa peristiwa, para teman ini lebih cepat 'sampai' ketika saya membutuhkan bantuan dan pertolongan real.
Selanjutnya adalah ibu dan saudara. Seperti yang tertulis di paragraf sebelumnya, saya dan saudara tidak tinggal dalam satu kota, jadi tentu saja ketika saya membutuhkan bantuan segera, mereka pun tidak bisa sesegera mungkin untuk ada. Tetapi biasanya mereka akan selalu mengadakan kontak dengan saya ketika situasi yang saya hadapi mempunyai bobot yang 'berat', sekalipun mereka super sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan inilah kerinduan saya akhir-akhir ini, bisa membeli hunian di mana para saudara tinggal. "Back to village" ( saya sebut village karena ipar saya selalu bilang daerah asal saya itu adalah desa ) π. Desa yo wis ben. Tetapi ada banyak cinta di sana hehehe...
Berikutnya adalah... tentu saja keponakan saya Andrik. Hehehe... kalau yang ini, membantu saya dalam bidang khusus. Mengurus kebun dan merawat tanaman sengon.
Nah, dengan hanya mencoba menjawab pertanyaan pada judul di atas, saya dan Anda seharusnya menyadari bahwa kita pasti tetap membutuhkan orang lain.
Ketika kita sukses, coba tengok ke belakang. Jika kita mau jujur, tentu kita bisa melihat bahwa banyak orang-orang terdekat yang selalu mendukung kita. Ada juga orangtua yang selalu mendoakan setiap saat.
Dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya timbal balik akan datang dengan sendirinya. Apabila kita sedang dalam musibah, maka pertolongan itu akan datang dari tetangga dengan sendirinya karena kebaikan itu akan berdampak kebaikan pula.
Nah, di sinilah sesungguhnya keikhlasan seseorang terbukti. Dalam sebuah kutipan yang diambil dari buku Tuhan Maha Asyik ditulis demikian: "Ikhlas, tulus dan sukarela adalah sifat-sifat kunci yang membebaskan manusia dari kemunafikan, eksploitasi dan manipulasi. Sifat-sifat dan karakter tersebut hanya dapat ditanamkan melalui internalisasi makna yang dipahami dari firman-firman Tuhan."
Jadi... yuk kita jaga relasi kita dan bila mungkin kita perluas relasi kita dengan itikad yang benar. Meski mungkin orang yang introvert lebih sulit memperluas relasi karena biasanya mereka ini cenderung memproses sesuatu secara internal dan berpikir dahulu sebelum bicara. Mereka biasanya memilih interaksi dengan sedikit orang tetapi memiliki makna yang dalam dan tidak menyukai interaksi bersama banyak orang, tetapi hanya untuk sekedarnya saja. Tidak apa-apa, jika kita termasuk orang introvert, tidak perlu rendah diri. Lakukan saja secara perlahan. Lakukan interaksi sederhana, seperti menyapa orang dengan kontak mata yang baik. Secara perlahan inshaallah akan hadir "keluarga baru" yang akan melengkapi kehidupan kita π.
Berikutnya adalah tetangga saya. Mengapa? Sebab merekalah yang dengan segera mengetahui situasi saya. Dan mereka inilah yang akan menjadi jujugan jika terjadi situasi di mana saya membutuhkan orang lain untuk membantu saya. Misalnya ketika saya mengadakan acara, maka saya membutuhkan bu Adha untuk menyiapkan konsumsi dan segala hal yang terkait dengan makananπ. Saya membutuhkan bu Mugiono, bu Nanang Eko, bu Yoyok, bu Eko, bu Ujang, bu Toni, bu Drian, bu Lukman, bu Feri, bu Khoirul Kiyar dan ibu-ibu yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu di sini dalam hal-hal yang terkait dengan kegiatan PKK π. Dalam banyak hal, ketika kita hidup dalam suatu komunitas atau masyarakat, kita tidak bisa melepaskan peran komunitas/masyarakat dalam kehidupan kita, meski tetap ada batasan-batasan antara area privat dan publik, di mana kita sebagai bagian dari komunitas/masyarakat boleh ikut campur/membantu dalam situasi yang dimaksud.
Yang ketiga adalah teman. Mengapa? Kebetulan karena saya adalah pendatang yang otomatis para sedulur saya tidak satu kota. Dan dalam beberapa peristiwa, para teman ini lebih cepat 'sampai' ketika saya membutuhkan bantuan dan pertolongan real.
Selanjutnya adalah ibu dan saudara. Seperti yang tertulis di paragraf sebelumnya, saya dan saudara tidak tinggal dalam satu kota, jadi tentu saja ketika saya membutuhkan bantuan segera, mereka pun tidak bisa sesegera mungkin untuk ada. Tetapi biasanya mereka akan selalu mengadakan kontak dengan saya ketika situasi yang saya hadapi mempunyai bobot yang 'berat', sekalipun mereka super sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan inilah kerinduan saya akhir-akhir ini, bisa membeli hunian di mana para saudara tinggal. "Back to village" ( saya sebut village karena ipar saya selalu bilang daerah asal saya itu adalah desa ) π. Desa yo wis ben. Tetapi ada banyak cinta di sana hehehe...
Berikutnya adalah... tentu saja keponakan saya Andrik. Hehehe... kalau yang ini, membantu saya dalam bidang khusus. Mengurus kebun dan merawat tanaman sengon.
Nah, dengan hanya mencoba menjawab pertanyaan pada judul di atas, saya dan Anda seharusnya menyadari bahwa kita pasti tetap membutuhkan orang lain.
Ketika kita sukses, coba tengok ke belakang. Jika kita mau jujur, tentu kita bisa melihat bahwa banyak orang-orang terdekat yang selalu mendukung kita. Ada juga orangtua yang selalu mendoakan setiap saat.
Dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya timbal balik akan datang dengan sendirinya. Apabila kita sedang dalam musibah, maka pertolongan itu akan datang dari tetangga dengan sendirinya karena kebaikan itu akan berdampak kebaikan pula.
Nah, di sinilah sesungguhnya keikhlasan seseorang terbukti. Dalam sebuah kutipan yang diambil dari buku Tuhan Maha Asyik ditulis demikian: "Ikhlas, tulus dan sukarela adalah sifat-sifat kunci yang membebaskan manusia dari kemunafikan, eksploitasi dan manipulasi. Sifat-sifat dan karakter tersebut hanya dapat ditanamkan melalui internalisasi makna yang dipahami dari firman-firman Tuhan."
Jadi... yuk kita jaga relasi kita dan bila mungkin kita perluas relasi kita dengan itikad yang benar. Meski mungkin orang yang introvert lebih sulit memperluas relasi karena biasanya mereka ini cenderung memproses sesuatu secara internal dan berpikir dahulu sebelum bicara. Mereka biasanya memilih interaksi dengan sedikit orang tetapi memiliki makna yang dalam dan tidak menyukai interaksi bersama banyak orang, tetapi hanya untuk sekedarnya saja. Tidak apa-apa, jika kita termasuk orang introvert, tidak perlu rendah diri. Lakukan saja secara perlahan. Lakukan interaksi sederhana, seperti menyapa orang dengan kontak mata yang baik. Secara perlahan inshaallah akan hadir "keluarga baru" yang akan melengkapi kehidupan kita π.
Komentar