Langsung ke konten utama

Siapa yang akan selalu membantumu dalam setiap situasi?

Jika pertanyaan dalam title di atas ditanyakan pada saya hari ini, maka jawaban saya adalah suami 😚. Ya... dialah orang pertama yang akan selalu ada untuk membantu saya dalam segala situasi. Dalam urusan rumah tangga, urusan ngantar orderan minuman OXY Drinking Water dan orderan lain-lain ke customer yang tempat tinggalnya di luar komplek perumahan sampai hal-hal yang terkait dengan kegiatan PKK dan banyak lagi yang lainnya.

Berikutnya adalah tetangga saya. Mengapa? Sebab merekalah yang dengan segera mengetahui situasi saya. Dan mereka inilah yang akan menjadi jujugan jika terjadi situasi di mana saya membutuhkan orang lain untuk membantu saya. Misalnya ketika saya mengadakan acara, maka saya membutuhkan bu Adha untuk menyiapkan konsumsi dan segala hal yang terkait dengan makanan😊. Saya membutuhkan bu Mugiono, bu Nanang Eko, bu Yoyok, bu Eko, bu Ujang, bu Toni, bu Drian, bu Lukman, bu Feri, bu Khoirul Kiyar dan ibu-ibu yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu di sini dalam hal-hal yang terkait dengan kegiatan PKK 😊. Dalam banyak hal, ketika kita hidup dalam suatu komunitas atau masyarakat, kita tidak bisa melepaskan peran komunitas/masyarakat dalam kehidupan kita, meski tetap ada batasan-batasan antara area privat dan publik, di mana kita sebagai bagian dari komunitas/masyarakat boleh ikut campur/membantu dalam situasi yang dimaksud.

Yang ketiga adalah teman. Mengapa? Kebetulan karena saya adalah pendatang yang otomatis para sedulur saya tidak satu kota. Dan dalam beberapa peristiwa, para teman ini lebih cepat 'sampai' ketika saya membutuhkan bantuan dan pertolongan real.

Selanjutnya adalah ibu dan saudara. Seperti yang tertulis di paragraf sebelumnya, saya dan saudara tidak tinggal dalam satu kota, jadi tentu saja ketika saya membutuhkan bantuan segera, mereka pun tidak bisa sesegera mungkin untuk ada. Tetapi biasanya mereka akan selalu mengadakan kontak dengan saya ketika situasi yang saya hadapi mempunyai bobot yang 'berat', sekalipun mereka super sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan inilah kerinduan saya akhir-akhir ini, bisa membeli hunian di mana para saudara tinggal. "Back to village" ( saya sebut village karena ipar saya selalu bilang daerah asal saya itu adalah desa ) 😎. Desa yo wis ben. Tetapi ada banyak cinta di sana hehehe...

Berikutnya adalah... tentu saja keponakan saya Andrik. Hehehe... kalau yang ini, membantu saya dalam bidang khusus. Mengurus kebun dan merawat tanaman sengon.

Nah, dengan hanya mencoba menjawab pertanyaan pada judul di atas, saya dan Anda seharusnya menyadari bahwa kita pasti tetap membutuhkan orang lain.

Ketika kita sukses, coba tengok ke belakang. Jika kita mau jujur, tentu kita bisa melihat bahwa banyak orang-orang terdekat yang selalu mendukung kita. Ada juga orangtua yang selalu mendoakan setiap saat.

Dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya timbal balik akan datang dengan sendirinya. Apabila kita sedang dalam musibah, maka pertolongan itu akan datang dari tetangga dengan sendirinya karena kebaikan itu akan berdampak kebaikan pula.

Nah, di sinilah sesungguhnya keikhlasan seseorang terbukti. Dalam sebuah kutipan yang diambil dari buku Tuhan Maha Asyik ditulis demikian: "Ikhlas, tulus dan sukarela adalah sifat-sifat kunci yang membebaskan manusia dari kemunafikan, eksploitasi dan manipulasi. Sifat-sifat dan karakter tersebut hanya dapat ditanamkan melalui internalisasi makna yang dipahami dari firman-firman Tuhan."

Jadi... yuk kita jaga relasi kita dan bila mungkin kita perluas relasi kita dengan itikad yang benar. Meski mungkin orang yang introvert lebih sulit memperluas relasi karena biasanya mereka ini cenderung memproses sesuatu secara internal dan berpikir dahulu sebelum bicara. Mereka biasanya memilih interaksi dengan sedikit orang tetapi memiliki makna yang dalam dan tidak menyukai interaksi bersama banyak orang, tetapi hanya untuk sekedarnya saja. Tidak apa-apa, jika kita termasuk orang introvert, tidak perlu rendah diri. Lakukan saja secara perlahan. Lakukan interaksi sederhana, seperti menyapa orang dengan kontak mata yang baik. Secara perlahan inshaallah akan hadir "keluarga baru" yang akan melengkapi kehidupan kita πŸ˜‰.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...