Langsung ke konten utama

Kalo saya bikin kaos pada mau beli enggak??

"Kalo saya bikin kaos kayak gini pada mau beli enggak??" Itu adalah pertanyaan pertama yang akan muncul ketika orang akan memulai suatu usaha. Tidak terkecuali saya.


Memang memulai suatu usaha membutuhkan keberanian. Apalagi orang seperti saya 😆. Dulu saya dan suami pernah mencoba peruntungan membuat tasbih atau rosario dan asesoris handmade. Rosario kami titipkan di kios gereja yang memang menjual benda-benda rohani dan itu berjalan lancar. Hanya saja kemudian kiosnya tutup sebab ketiadaan karyawan. Sedangkan asesoris kami titipkan di teman kakak saya. Tetapi yang satu ini bisa dikata kami tertipu. Sebab tidak ada kabar berita. Ditagih tak dibayar, diminta kembali barang titipan kami pun tak dikembalikan. Kakak saya sampai merasa bersalah karena menjadi perantara memperkenalkan kami dengan mereka. Beruntung bahwa kegiatan kami itu adalah usaha sampingan karena kami berdua saat itu sama-sama bekerja. Saya masih bekerja di salah satu developer di Surabaya sebagai accounting dan suami sebagai supervisor di sebuah CV sekaligus menjalankan usaha jasa instalasi listrik milik sendiri, dan kebetulan yang kami titipkan di gereja pada saat kios tutup juga terhitung laris, tersisa hanya beberapa untai rosario sedangkan yang kami titipkan pada teman kakak saya meskipun cukup banyak tapi belum bernilai jutaan, sehingga bisa dikata kami masih beruntung (tipikal wong jowo banget yang selalu melihat hal-hal yang pantas disyukuri hehehe...). Tentu saja meskipun demikian rasa takut untuk memulai usaha sepertinya masih wajar, karena tentu saja saya tidak ingin usaha akan gagal.



Jika ingin memulai kembali sebuah usaha, tentu saja saya harus mengalahkan rasa takut dengan melawannya. Caranya??? 🤔

Cari koneksi. Naaah... koneksi pertama datang dari usaha perkebunan. Kebetulan saya punya sekitar 2000 m2 tanah kebun pemberiaan bapak saya dan saya punya keponakan yang bisa membantu dalam mengurusnya 😆.



Koneksi berikutnya datang dari Universitas Ciputra Surabaya. Yang ini penawaran dari seorang teman yang mempunyai akses ke Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Ciputra Surabaya bagi mereka yang tertarik menjadi entrepreneur. Tetapi syaratnya, untuk belajar pada mereka, setidaknya ada 30 orang yang mempunyai minat sama yaitu menjadi entrepreneur untuk diberi materi dan diajari. Memang tawaran itu mula-mula karena saya mencari link untuk nara sumber di kegiatan PKK yang rencananya mengangkat topik peluang usaha. Pada dasarnya, topik yang rencananya saya angkat adalah juga program kerja dari pemerintah untuk memberdayakan masyarakat. Jadi saya sebagai ketua PKK hanya mencoba menggali potensi-potensi pada warga yang kira-kira bisa menjadi peluang usaha bagi warga. Lha kok ditawari link ke Universitas Ciputra... 😲. Bagi saya sebagai pribadi, ini adalah sesuatu yang luar biasa, menarik dan harus dimanfaatkan. Tetapi ketika saya rembug dengan bapak ketua RT, ibu wakil PKK dan sie pendidikan... terus terang ada sangsi di hati kami masing-masing (meski sakjane kami masing-masing sangat antusias). Sangsi... mengumpulkan 30 orang dengan minat yang sama untuk belajar... rasane kok ora mungkin... Ya sudah... akhirnya antusiasme harus kami pupus sedikit demi sedikit. Maka beralihlah kami pada personal-personal yang mau berbagi pengalaman dan strategi bagaimana usaha mereka berhasil. Tetapi, ada kendala juga. Sebab kami tidak bisa mendatangkan personalnya langsung dihadapan para ibu ini. Ya wis lah... kalau begitu saya saja yang belajar hehehe... Yang jelas, koneksi itu penting. Informasi dari mereka yang mempunyai usaha yang sama itu akan mengurangi rasa ragu kita.

Memulai usaha, ide-ide mengalami penolakan dan diabaikan orang, itu saya sudah pernah. Pernah suatu ketika teman saya Sofi membeli sebuah kalung hand made kami dengan diam-diam diikuti pesan 'jangan bilang siapa-siapa kalau aku beli kalung di kamu' 😃. Tentu saja saya paham maksudnya. Sebab dia membeli kalung handmade yang belum punya nama dan tidak ingin di olok-olok teman yang lain. Meski sebenarnya dari sisi yang lain ada juga yang memuji buatan tangan kami, baik rosario, asesories maupun kerajinan tangan lainnya seperti wadah lilin dan lampu hias, tetapi kami saat itu tidak bisa melanjutkan usaha kami karena keterbatasan waktu. Dan untuk memulai kembali, kami khususnya saya perlu meyakinkan diri bahwa kami bisa berhasil dengan usaha kami dan bisa memperbaiki kualitas diri.

Semoga 🙏.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...