Desember 2017, saya mendengar berita bahwa terjadi KLB difteri di beberapa kota di Indonesia, termasuk diantaranya Jawa Timur, di mana Jawa Timur termasuk propinsi dengan jumlah kasus terbanyak yaitu 271 kasus.
Dalam bulan tersebut pula, sering bermunculan berita di sana sini terkait wabah difteri. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo pun telah memberikan instruksi kepada semua daerah dalam rangka penanganan wabah difteri yang terjadi di sejumlah daerah. Maka ketika Pemprov Jatim juga menetapkan status KLB Difteri di Jawa Timur, langkah selanjutnya adalah melakukan proteksi di daerah seperti amanah undang-undang dan instruksi Gubernur Jawa Timur agar tidak meluas dan epidemik hingga tidak ditemukan lagi kasus Difteri.
Oleh karena itu, terkait usaha pemerintah dalam mengatasi wabah difteri, maka pada tanggal 6 Januari 2017, saya mengatur agar informasi mengenai wabah difteri dan bahwa difteri adalah penyakit yang sangat menular dan berbahaya dan hanya bisa ditanggulangi dengan cara imunasasi dapat tersampaikan di pertemuan PKK yang tentu saja anggotanya adalah para ibu yang kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu yang memiliki balita. Diharapkan dengan penyebaran informasi ini, ketika pemerintah melakukan Outbreak Renponse Immunization (ORI) atau imunisasi ulang secara masal yang menjadi langkah preventif spesifik untuk mencegah wabah difteri, para ibu dapat memiliki pengertian mengenai bahaya difteri dan mengikuti kegiatan ORI sebagaimana seharusnya.
Dalam rangka penyebaran informasi ini, tentu saja saya memerlukan media. Beruntung bahwa pada saat itu ada satu TV kabel yang melakukan talk show dengan staf kementrian kesehatan yang telah direcord sehingga saya bisa menggunakan informasi tersebut untuk disampaikan di pertemuan PKK. Dan keberuntungan berikutnya adalah bahwa kakak saya bisa membantu proses editing sehingga tayangan tidak terlalu memakan waktu. Alhasil tayangan yang berdurasi sekitar satu jam bisa dimampatkan menjadi sekitar satu 20 menit tanpa mengurangi inti dari informasi tersebut
Rasa 'ketir-ketir' mulai melanda ketika pada tanggal pertemuan rutin hujan turun dengan cukup deras. Tentu saja jika hujan tidak berhenti maka tayangan tersebut tidak bisa disampaikan dalam pertemuan PKK hari itu, dikarenakan kondisi struktur atap balai yang terbuat dari galvalum yang jika hujan turun akan menyebabkan suara yang berisik yang akan mengganggu jalannya acara. Saya menyampaikan kepada suami, jika hujan tidak berhenti, maka suami tidak perlu membantu saya untuk menyiapkan piranti tayang, sebab tayangan hari itu akan saya batalkan.
Dalam kegelisahan, saya disentakkan oleh sebuah bisikan "Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?" (Mat 8:26). Disitulah kemudian saya teringat pada kisah dalam alkitab, dimana Yesus meredakan angin ribut dan gelombang sehingga danau itu menjadi teduh sekali. Maka, dalam diam saya berdoa, jika memang diijinkan untuk menampilkan tayangan tersebut kiranya hujan reda atau jika hujan tetap turun setidaknya tidak terlalu deras sehingga jatuhnya di atap balai tak membuat berisik.
Detik-detik menjelang pertemuan, hujan mulai reda. Masih hujan, tetapi hanya gemericik yang tersisa. Tanpa dikomando, suami berangkat ke balai untuk membantu menata piranti tayang. Acara demi acara berjalan hingga tiba pada penayangan informasi mengenai difteri. Dan hujan pun berhenti..., hingga pertemuan hari itu usai.
Dalam permenungan hari itu, ada satu rasa takjub dalam hati. Betapa Tuhan menyertai kami, pengurus baru PKK, bahkan dalam perkara yang remeh temeh. Juga menegur saya yang ketika itu merasa gelisah dan khawatir dan meyakinkan saya akan penyertaan dan kebaikan Allah pada niat baik kami.
Tiada kata yang dapat saya ucapkan selain " Yesus, terimakasih untuk hari itu."
Komentar