Saya bakal genap satu tahun memimpin PKK di RT 17. Seperti yang saya duga, tidak mudah memimpin para ibu dengan berbagai latar belakang dan keinginan.
Dalam perjalanan satu tahun menjadi ketua RT 17, baru saya sadari, bahwa tidak banyak dari para ibu ini yang sepertinya menganggap PKK adalah suatu organisasi, bahwa ada UU yang mengatur tentang PKK. Mereka tahu ada 10 program PKK, tetapi lebih banyak yang enggan ketika diajak untuk berkolaborasi melaksanakannya. Ada yang tidak paham mengenai struktur organisasi, tugas dan fungsinya, sehingga adakalanya bertindak melebihi kewenangannya. Bahkan ada yang tidak paham mengenai fungsi kas, atau pura-pura tidak paham, entahlah.
Lebih banyak para ibu yang menganggap PKK hanyalah wadah untuk bersilahturahmi, berkumpul, berjumpa dengan tetangga, arisan dan simpan pinjam.
Sesuatu seperti ini membuat saya sulit mengorganisasikan kelompok PKK RT. Terutama dalam masalah kas, di awal, ada indikasi bahwa ada ibu-ibu yang seolah tidak ikhlas ketika digunakan untuk suatu kegiatan yang menjadi program yang saya canangkan yang sejatinya itu adalah sebagai pelaksanaan dari program PKK itu sendiri dan ada yang lantang menanyakan ketika dana kas akan digunakan untuk tujuan mensubsidi rekreasi dengan mendebat dan mempermasalahkan posisi saya yang pada mulanya tidak pernah aktif di PKK sekarang bisa menikmati kas dengan menjalankan kegiatan tersebut. Padahal sejatinya bukan hanya saya saja di forum itu yang setelah keluar kemudian menjadi anggota PKK (lagi). Ada beberapa ibu-ibu yang dulunya keluar kemudian bergabung lagi, dengan alasan yang klasik, karena dulu merasa tidak cocok dengan penanya yang sebelumnya adalah salah satu pengurus PKK. Walaupun sejatinya pelaksanaan kegiatan tersebut adalah karena usulan ibu-ibu sendiri. Tetapi rupanya si ibu dan mungkin ada ibu-ibu yang lain juga, yang beranggapan bahwa kas itu sama dengan tabungan. Lantas saya berpikir, jika bagi si ibu tersebut kas adalah tabungan, mengapa mereka tidak membagikan kepada para ibu yang kemudian keluar dari keanggotaan, entah alasan pindah rumah entah alasan ketidakcocokan, sehingga ketika kepengurusan diserahterimakan kepada kami, benar-benar 'bersih' dari tanggung jawab yang belum 'terselesaikan' atas anggota yang keluar waktu itu? Jawabnya tentu hanya si ibu yang tahu. Sementara di sisi lain justru si ibu membuat aturan baru di mana menjadikan anggota yang berstatus penghuni kontrak keluar, sebab tidak memenuhi syarat dan ketentuan berlaku. Dan yang menyesakkan adalah bahwa protes-protes atas aturannya tersebut ditujukan kepada saya yang notabene belum menjadi ketua PKK dan belum terlibat dalam pembuatan keputusan. Yang pada akhirnya di kemudian hari, saya mengetahui bahwa si ibu itulah yang menyatakan bahwa itu keputusan ibu RT yang baru pada anggota yang merasa dirugikan atas putusan tersebut, padahal sekali lagi, saya belum membuat keputusan apapun.
Dari serangkaian peristiwa-peristiwa sepanjang tahun 2017, yang permasalahannya berputar pada orang tertentu inilah, yang kemudian saya sadari bahwa ada permasalahan yang belum selesai dari masa lalu. Ada pengurus lama yang tidak jujur dalam mengemban tugasnya, indikasinya adalah 'mbulet' ketika di minta laporan pertanggungjawabannya. Bisa jadi karena hal itu, imbasnya pada kepengurusan berikutnya yang mana si ibu tersebut berusaha mencari celah untuk menjatuhkan kepengurusan baru, sebab selama setahun si ibu sudah 'menyerang' dari tiga sisi, sisi kegiatan simpan pinjam, sisi kesekretariatan, dan pribadi saya. Sesaat saya teringat akan ucapan si ibu saat saya secara pribadi dan seorang tetangga berjumpa di jalan gang kami, di tengah perbincangan, si ibu mengatakan pada saya, "Deloken ngko lak enak jamanku. Ngko lak gak sampek suwe." Dan saya pun merenung, apakah berbagai perbantahan yang dilakukannya ini sebagai bagian dari rencananya, yang ingin membuktikan ucapannya? Lhaa... ga usah diancam pun sebenarnya saya juga tidak bersedia mengurusi hal-hal seperti ini, mumet!!! Oleh karena itu saya di awal menawari ibu tersebut dengan bertanya "apakah mau mengurusi kegiatane ibu-ibu?" di jawabnya tidak, jadi mengapa sakit hati, ketika saya memaksakan diri untuk ngurusi dan mengangkat orang lain untuk terlibat di dalam kepengurusan? 🤔 Duh, rumitnya perasaan perempuan...
Ada pengurus sebelumnya yang dicurigai terkait uang kas, sebab tidak pernah terdapat laporan atas uang kas. Tetapi si ibu yang ini bisa membuktikan bahwa dia benar dengan menunjukkan catatan-catatannya dan tidak 'mbulet' dalam serah terima. Tetapi mungkin masih ada 'bekas luka' pada diri si ibu pada orang-orang tertentu yang bisa jadi diantaranya adalah mereka yang saya tunjuk menjadi pengurus.
Ada orang-orang yang (mungkin) tidak suka karena kami seorang Katolik. Indikasinya, mengkhawatirkan kami yang Katolik jika memimpin RT, bisa terjadi hal-hal seperti Ahok, yaitu ditolak dan meminta kami mundur dari kepengurusan. Namun ketika kami bersilahturahmi, dari tetangga, justru kami mendapat serangkai kalimat, " Ada apa takut, ga usah takut, ga akan ada kejadian kayak Ahok. Kami di sini biasa." Padahal dalam silahturahmi tersebut sedikitpun kami tidak membicarakan tentang masalah SARA. Dari sini pun saya merenung, apakah sikapnya yang selalu ingin memimpin dalam salah satu sub kegiatan PKK dan mengabaikan pengurus yang saya tunjuk, juga sebagai bentuk (secara tidak langsung) sejatinya penolakan dia terhadap kami yang Katolik dengan tidak mengakui orang-orang yang saya tunjuk dalam sub kegiatan tersebut? Mengingat, di kepengurusan sebelumnya, ketika di pimpin si ibu yang 'mbulet', ibu ini tidak bersikap demikian. Atau sekedar si ibu tidak tahu cara berorganisasi, sehingga abai pada hal-hal terkait koordinasi? Entahlah... yang jelas si ibu marah, ketika saya berusaha mengingatkan untuk dalam kesatuan, tidak jalan sendiri, untuk selalu berkoordinasi dengan orang-orang yang saya tunjuk. Sekali lagi... ruwetnya perasaan perempuan 🤕
Dalam melakukan sesuatu tentu ada suka dukanya. Cerita di atas adalah dukanya. Sukanya adalah, meskipun hanya beberapa, masih ada kegiatan yang bisa berjalan baik. Penyuluhan obat berjalan baik (thank to Monica), cooking class juga diikuti oleh anggota (thank to Mr. Adha) dan kegiatan anak- anak belajar bahasa Inggris juga cukup diminati oleh anak-anak (thank to Mrs Tony n Mrs. Fery). Meskipun ada juga indikasi-indikasi upaya untuk menggagalkan kegiatan-kegiatan tersebut.
Dalam kondisi ini, saya cuma bisa pasrah. Saya hanya berusaha memberi warna dan memberi manfaat bagi orang lain. Biar Tuhan sajalah yang jadi hakimnya. Kalaupun Tuhan, tidak berpihak pada saya, dalam iman saya percaya, Tuhan merencanakan sesuatu yang baik bagi saya. Bukan hanya baik bagi hal-hal yang kasat mata, tapi juga baik bagi hal-hal yang tak kasat mata, bagi pertumbuhan iman saya, emosional saya, dll.
Dalam perjalanan satu tahun menjadi ketua RT 17, baru saya sadari, bahwa tidak banyak dari para ibu ini yang sepertinya menganggap PKK adalah suatu organisasi, bahwa ada UU yang mengatur tentang PKK. Mereka tahu ada 10 program PKK, tetapi lebih banyak yang enggan ketika diajak untuk berkolaborasi melaksanakannya. Ada yang tidak paham mengenai struktur organisasi, tugas dan fungsinya, sehingga adakalanya bertindak melebihi kewenangannya. Bahkan ada yang tidak paham mengenai fungsi kas, atau pura-pura tidak paham, entahlah.
Lebih banyak para ibu yang menganggap PKK hanyalah wadah untuk bersilahturahmi, berkumpul, berjumpa dengan tetangga, arisan dan simpan pinjam.
Sesuatu seperti ini membuat saya sulit mengorganisasikan kelompok PKK RT. Terutama dalam masalah kas, di awal, ada indikasi bahwa ada ibu-ibu yang seolah tidak ikhlas ketika digunakan untuk suatu kegiatan yang menjadi program yang saya canangkan yang sejatinya itu adalah sebagai pelaksanaan dari program PKK itu sendiri dan ada yang lantang menanyakan ketika dana kas akan digunakan untuk tujuan mensubsidi rekreasi dengan mendebat dan mempermasalahkan posisi saya yang pada mulanya tidak pernah aktif di PKK sekarang bisa menikmati kas dengan menjalankan kegiatan tersebut. Padahal sejatinya bukan hanya saya saja di forum itu yang setelah keluar kemudian menjadi anggota PKK (lagi). Ada beberapa ibu-ibu yang dulunya keluar kemudian bergabung lagi, dengan alasan yang klasik, karena dulu merasa tidak cocok dengan penanya yang sebelumnya adalah salah satu pengurus PKK. Walaupun sejatinya pelaksanaan kegiatan tersebut adalah karena usulan ibu-ibu sendiri. Tetapi rupanya si ibu dan mungkin ada ibu-ibu yang lain juga, yang beranggapan bahwa kas itu sama dengan tabungan. Lantas saya berpikir, jika bagi si ibu tersebut kas adalah tabungan, mengapa mereka tidak membagikan kepada para ibu yang kemudian keluar dari keanggotaan, entah alasan pindah rumah entah alasan ketidakcocokan, sehingga ketika kepengurusan diserahterimakan kepada kami, benar-benar 'bersih' dari tanggung jawab yang belum 'terselesaikan' atas anggota yang keluar waktu itu? Jawabnya tentu hanya si ibu yang tahu. Sementara di sisi lain justru si ibu membuat aturan baru di mana menjadikan anggota yang berstatus penghuni kontrak keluar, sebab tidak memenuhi syarat dan ketentuan berlaku. Dan yang menyesakkan adalah bahwa protes-protes atas aturannya tersebut ditujukan kepada saya yang notabene belum menjadi ketua PKK dan belum terlibat dalam pembuatan keputusan. Yang pada akhirnya di kemudian hari, saya mengetahui bahwa si ibu itulah yang menyatakan bahwa itu keputusan ibu RT yang baru pada anggota yang merasa dirugikan atas putusan tersebut, padahal sekali lagi, saya belum membuat keputusan apapun.
Dari serangkaian peristiwa-peristiwa sepanjang tahun 2017, yang permasalahannya berputar pada orang tertentu inilah, yang kemudian saya sadari bahwa ada permasalahan yang belum selesai dari masa lalu. Ada pengurus lama yang tidak jujur dalam mengemban tugasnya, indikasinya adalah 'mbulet' ketika di minta laporan pertanggungjawabannya. Bisa jadi karena hal itu, imbasnya pada kepengurusan berikutnya yang mana si ibu tersebut berusaha mencari celah untuk menjatuhkan kepengurusan baru, sebab selama setahun si ibu sudah 'menyerang' dari tiga sisi, sisi kegiatan simpan pinjam, sisi kesekretariatan, dan pribadi saya. Sesaat saya teringat akan ucapan si ibu saat saya secara pribadi dan seorang tetangga berjumpa di jalan gang kami, di tengah perbincangan, si ibu mengatakan pada saya, "Deloken ngko lak enak jamanku. Ngko lak gak sampek suwe." Dan saya pun merenung, apakah berbagai perbantahan yang dilakukannya ini sebagai bagian dari rencananya, yang ingin membuktikan ucapannya? Lhaa... ga usah diancam pun sebenarnya saya juga tidak bersedia mengurusi hal-hal seperti ini, mumet!!! Oleh karena itu saya di awal menawari ibu tersebut dengan bertanya "apakah mau mengurusi kegiatane ibu-ibu?" di jawabnya tidak, jadi mengapa sakit hati, ketika saya memaksakan diri untuk ngurusi dan mengangkat orang lain untuk terlibat di dalam kepengurusan? 🤔 Duh, rumitnya perasaan perempuan...
Ada pengurus sebelumnya yang dicurigai terkait uang kas, sebab tidak pernah terdapat laporan atas uang kas. Tetapi si ibu yang ini bisa membuktikan bahwa dia benar dengan menunjukkan catatan-catatannya dan tidak 'mbulet' dalam serah terima. Tetapi mungkin masih ada 'bekas luka' pada diri si ibu pada orang-orang tertentu yang bisa jadi diantaranya adalah mereka yang saya tunjuk menjadi pengurus.
Ada orang-orang yang (mungkin) tidak suka karena kami seorang Katolik. Indikasinya, mengkhawatirkan kami yang Katolik jika memimpin RT, bisa terjadi hal-hal seperti Ahok, yaitu ditolak dan meminta kami mundur dari kepengurusan. Namun ketika kami bersilahturahmi, dari tetangga, justru kami mendapat serangkai kalimat, " Ada apa takut, ga usah takut, ga akan ada kejadian kayak Ahok. Kami di sini biasa." Padahal dalam silahturahmi tersebut sedikitpun kami tidak membicarakan tentang masalah SARA. Dari sini pun saya merenung, apakah sikapnya yang selalu ingin memimpin dalam salah satu sub kegiatan PKK dan mengabaikan pengurus yang saya tunjuk, juga sebagai bentuk (secara tidak langsung) sejatinya penolakan dia terhadap kami yang Katolik dengan tidak mengakui orang-orang yang saya tunjuk dalam sub kegiatan tersebut? Mengingat, di kepengurusan sebelumnya, ketika di pimpin si ibu yang 'mbulet', ibu ini tidak bersikap demikian. Atau sekedar si ibu tidak tahu cara berorganisasi, sehingga abai pada hal-hal terkait koordinasi? Entahlah... yang jelas si ibu marah, ketika saya berusaha mengingatkan untuk dalam kesatuan, tidak jalan sendiri, untuk selalu berkoordinasi dengan orang-orang yang saya tunjuk. Sekali lagi... ruwetnya perasaan perempuan 🤕
Dalam melakukan sesuatu tentu ada suka dukanya. Cerita di atas adalah dukanya. Sukanya adalah, meskipun hanya beberapa, masih ada kegiatan yang bisa berjalan baik. Penyuluhan obat berjalan baik (thank to Monica), cooking class juga diikuti oleh anggota (thank to Mr. Adha) dan kegiatan anak- anak belajar bahasa Inggris juga cukup diminati oleh anak-anak (thank to Mrs Tony n Mrs. Fery). Meskipun ada juga indikasi-indikasi upaya untuk menggagalkan kegiatan-kegiatan tersebut.
Dalam kondisi ini, saya cuma bisa pasrah. Saya hanya berusaha memberi warna dan memberi manfaat bagi orang lain. Biar Tuhan sajalah yang jadi hakimnya. Kalaupun Tuhan, tidak berpihak pada saya, dalam iman saya percaya, Tuhan merencanakan sesuatu yang baik bagi saya. Bukan hanya baik bagi hal-hal yang kasat mata, tapi juga baik bagi hal-hal yang tak kasat mata, bagi pertumbuhan iman saya, emosional saya, dll.
Komentar