Langsung ke konten utama

Antri

Antri mencerminkan sikap hidup yang luar biasa mendalam. Antri menyangkut sikap moral. Sikap antri dari luar memang terlihat sederhana.

Antri adalah tanda dari kesabaran. Jelas, orang antri perlu untuk sabar.

Antri adalah tanda kemampuan manusia untuk berproses. Ketika antri, orang harus menjalani proses menunggu, terkadang cukup lama, supaya bisa mendapatkan kebutuhannya.

Antri adalah tanda juga bagi kreativitas, yakni kreativitas untuk mengisi waktu luang. Ketika antri, kita punya banyak waktu kosong. Misalnya, kita bisa membaca ketika antri. Itu membuat waktu berjalan lebih cepat, sehingga waktu menunggu antrian tidak terasa terlalu lama.

Antri adalah simbol dari keadilan. Orang kaya ataupun orang miskin harus antri, tidak ada perkecualian. Orang cantik ataupun orang 'kurang' cantik, harus antri, juga tidak ada perkecualian.

Antri adalah simbol kesetaraan. Semua orang menjadi setara ketika mereka sedang antri. Tidak ada raja, tidak ada ratu yang sukanya menyerobot antrian, karena mereka merasa dirinya lebih tinggi.

Tetapi keteraturan harus ada. Semuanya harus diatur sedemikian rupa dengan sistem, sehingga orang tidak perlu lama menunggu dalam antrian. Pun kalau harus menunggu lama, orang diberikan fasilitas yang nyaman.

Mungkin kita pernah menemui orang yang punya uang banyak, dan bersedia membayar lebih, bisa memotong antrian langsung. Diskriminasi atas dasar uang dan kekuatan koneksi inilah yang mungkin sering kita jumpai.

Bahkan, tidak perlu uang dan koneksi, selama orang berani teriak teriak ngotot di hadapan umum, ia pun bisa memotong antrian. Selama orang tidak punya malu, dan bersikap bagaikan orang tak berpendidikan, ia malah bisa memotong antrian.

Bagaimana membangun budaya antri? Kalau kita mau mengembangkan budaya antri, tidak ada cara lain, yah kita harus antri dan menjadikan itu kebiasaan sehari hari kita. Dan juga harus ada penegak aturan yang berani dan tak gampang dibujuk, ketika ada orang yang mau melanggar aturan (kecuali keadaan genting, misalnya ada musibah).  Inilah yang mendukung orang untuk antri.

Yang juga penting adalah, para orang tua harus memberikan teladan antri dengan baik pada anak-anaknya.

Untuk membangun budaya antri, harus ada kontrol bersama. Jika orang tetap berani menyerobot, harus ada sanksi sosial dan sanksi hukum misalnya dikeluarkan dari antrian dan harus kembali ke belakang.

Para pemimpin juga harus memberikan teladan dalam soal antri. Tidak bersikap arogan dan menjadi contoh yang amat jelek untuk budaya antri.

Antri adalah tindakan etis yang tidak bisa digantikan dengan apapun juga. Orang kaya pun harus antri, walaupun dia punya uang, guna memotong antrian yang ada. Ada hal-hal yang tidak bisa dan tidak boleh dibeli dengan uang, salah satunya adalah antri.

Antri adalah syarat untuk kebersamaan. Budaya antri juga bisa dilihat sebagai tanda, bahwa kita mengakui keberadaan orang lain.

Antri memang tindakan kecil dan sederhana. Namun maknanya sangat mendalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...